
Malam ini menjadi malam yang paling membahagiakan buatku. Seperti kebanyakan kaum muda lain nya, malam minggu dijadikan malam yang spesial bagi mereka bersama pasangan nya, atau bagi mereka yang berkumpul bersama teman-teman sebayanya.
Meskipun aku dan Rendi masih berstatus teman, entah kenapa rasanya aku begitu bahagia bersama dia. Berboncengan dengan nya, keliling kota tak tentu arah, ahh ingin rasanya aku menari-nari dan bernyanyi sungguh aku bahagia sekali.
Setelah puas berkeliling, Rendi membawaku pergi kesebuah caffe. Terlihat sangat ramai dan kebanyakan dari mereka adalah anak-anak seusiaku. Ada yang berkumpul bersama teman-teman nya, bersama pasangan nya dan bahkan bersama keluarga nya.
Aku dan Rendi segera melangkah masuk kedalam caffe yang begitu ramai,maklumlah ini malam minggu.
" Disana aja yuk " ujar Rendi menunjuk kursi yang masing kosong tepat disamping Aquarium. Aku menurut saja, Setelah duduk Rendi memesan beberapa makanan dan minuman.
Malam ini Rendi terlihat begitu keren dan tampan sekali. Tidak bosan rasanya memandangi wajahnya, tapi tetap saja aku harus bisa mengontrol diriku yang terkadang tidak tau diri ini hehe. Kami berdua duduk berdampingan, tidak seperti sore tadi saat berada di tempat makan.
Sejenak Rendi memandangi wajahku. Malam itu aku mengenakan kerudung berwarna cream dan baju tunik berwarna senada serta celana jeans hitam. Aku agak canggung saat Rendi menatapku begitu lekat, lain dari biasanya. Dadaku begitu bergemuruh, tak kuasa aku di pandanginya begitu.
" Kenapa?" tanyaku berusaha membalas tatapan matanya yang berbinar.
" Gak papa, Kamu cantik " jawab Rendi tersenyum.
Wah jurus gombal nya mulai keluar nih,pikirku. Aku harus pasang kuda-kuda dan benteng pertahanan sekuat benteng takeshi agar tidak kemakan gombalan nya yang sangat basi itu.
" Gk mempan " balasku mencibir.
" Dih " ucap Rendi menyunggingkan senyumnya.
" Rame banget gak kya biasanya " kata Rendi lagi sambil memperhatikan suasana sekitar.
" Berarti sering kesini ya?"
" Gak juga "
" Halah ngaku aja "
" Huh ngeyel "
__ADS_1
" Bukti nya paham bener sama suasana disini "
" Gak sering, cuma pernah sama temen-temen " Jawab nya sambil meraih ponsel dari dalam saku celana nya.
" Jam berapa?" tanyaku.
" Jam setengah 9, Gk kerasa ya tadi kita muter-muter nya lama juga ternyata "
" Ya kamu sih muter-muter gk jelas "
" Jelas lah, Orang sama kamu " balasnya terkekeh.
" Prettt "
Makanan dan minuman yang tadi dipesan pun sudah datang. Kami berdua menyantap makanan tersebut dengan lahap. Maklum saja aku lapar sekali, padahal tadi sore juga sudah makan bersama Rendi juga. Ah entahlah perut anak kost memang tidak tau diri.
Setelah selesai makan, kami berdua masih sibuk dengan hp nya masing-masing. Aku sibuk chattingan dengan Ita dan sudah tak sabar ingin berbagi cerita kebahagiaan ini padanya,sedangkan Rendi? Entahlah dia sedang sibuk chattingan dengan siapa, aku tidak terlalu menggubris. Ya, beginilah kami kalau bertemu, masih egois dengan mementingkan ponsel kami masing-masing.
" Jam 10 biasanya "
" Jadi gak papa ya, kalau pulang nya agak nantian "
Aku hanya mengangguk.
" Kamu ngekost juga Ren?"
" Iya "
" Rumah mu?"
" Dari rumah tante Dwi masih jauh lagi San,sekitar 2 jam masihan "
" Loh kok mama mu bisa kenal sama tante Dwi?" tanyaku mulai penasaran.
__ADS_1
" Aku juga gak tau, nama nya ibu-ibu "
Tidak terasa waktu begitu cepat berputar. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam, tapi aku dan Rendi masih saja duduk disana. Hilir mudik orang datang dan kami berdua masih belum beranjak juga.
" San " panggil Rendi lembut. Seperti ada sesuatu yang ia tahan, ada kegelisahan yang aku tangkap dari raut wajahnya.
" Kenapa? Mau pulang?"
" Bukan, pulang nya nanti ya bentar lagi "
Aku mengangguk. Mungkin apa yang dirasakan Rendi sama seperti yang aku rasakan saat ini, masih ingin terus bersama menikmati malam ini yang semakin larut.
" Aku mau ngomong sesuatu " tutur nya agak ragu.
* Degg..*
Jantungku tiba-tiba berdegup sangat kencang. Antara penasaran dan juga salah tingkah.
" Mau ngomong apa?" balasku tanpa berani menatap Rendi.
" Hhmm, Itu " ucap nya masih ragu. Ia cukup terbata-bata dan itu membuatku semakin penasaran.
" Itu apa?"
" Aku " kalimat Rendi menggantung. Sesaat kudengar suara ponsel nya berdering.
" Sial!" umpat Rendi lirih namun masih terdengar olehku.
Bersambung....
Nantikan cerita selanjutnya di Episode Enam.
Terimakasih untuk teman-teman yang sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Komentar,Like dan Favorit untuk notifikasi selanjutnya, eeittsss jangan lupa vote nya juga ya 😊
__ADS_1