
Hari terus silih berganti, waktu tak akan pernah menunggu kapan kita akan siap untuk melanjutkan hidup.
Sejak pertemuan terakhir itu, Rendi tak lagi datang menemui Sani. Atau hanya sekedar mengirim pesan pun tak lagi ia lakukan. Sani yang sejatinya belum mampu untuk melupakan Rendi, masih terus berharap Rendi akan datang, atau setidaknya pria berparas manis itu mengirim nya sebuah pesan. Tapi nampak, nya tak pernah lagi ia lakukan.
Senja itu, aku duduk termangu di teras kosan sambil menopang dagu. Tiga bulan telah berlalu, sejak aku memutuskan hubunganku dengan Rendi. Namun kerinduan di dalam hati masih saja menggelora, menyeruak tanpa kendali.
Aku menatap nanar, hampa dan kosong, itulah yang aku rasakan ketika Rendi tak lagi kembali. Ini salahku, telah pergi meninggalkan nya, tapi keputusan itu juga bukan keinginanku.
" Sani?" panggil Evi menyadarkanku.
" Eh iya Vi, kenapa?" jawabku setengah kaget.
" Melamun aja, nanti kesambet loh. Oh iya, ini ada titipan." ujar Evi memberiku sebuah bingkisan kecil. Aku menatap bingkisan itu dengan bingung.
" Dari siapa Vi?"
" Gak tau, dia gak mau kasih tau."
Tanpa babibu lagi, aku segera membuka bingkisan kecil berwarna biru muda itu. Ternyata isi nya lima buah coklat dan terdapat secarik kertas di dalamnya.
* Happy Valentine *
Hanya tulisan itu, tanpa tertera nama pengirimnya. Aku semakin bingung, siapa gerangan yang mengirim hadiah ini.
" Ini tanggal berapa sih?" tanyaku pada Evi.
__ADS_1
" 14 Februari."
" Dia beneran, gak ngasih tau siapa namanya?"
Evi menggeleng.
" Dia cuma ngasih ini ke aku, katanya untuk Sania Maulida." terang Evi.
" Ketemu dimana?"
" Tadi dia ada di depan, sekarang udah pergi."
Sejenak aku diam. Mungkinkah ini Rendi? Tapi kenapa dia tak langsung datang menemuiku. Ah ... tapi rasanya sangat tidak mungkin dia kemari. Rendi sudah terlalu kecewa dan sakit hati padaku, tak mungkin dia datang untuk memberiku hadiah ini, gumamku dalam hati.
***
" San?" panggilnya saat aku hendak membuka pintu kamar.
" Iya Vi, kenapa?"
" Baru pulang kerja?"
" Iya, ada apa?"
" Ini ada titipan buat kamu." ujar Evi kemudian menyerahkan bingkisan yang kini ukuran nya lumayan besar.
__ADS_1
" Ini dari siapa?"
" Gk tau." ujar Evi.
" Dari orang yang kemarin?" tanyaku.
" Iya San."
" Dia siapa sih, bikin penasaran aja."
" Entah." jawab Evi seraya mengakat kedua bahunya.
Aku benar-benar di buat bingung dan heran. Siapa sebenarnya orang yang mengirimku hadiah ini, kenapa dia tak langsung memberikannya padaku atau setidaknya dia memberitahu namanya.
Saat aku sudah berada di dalam kamar, aku pun merebahkan tubuhku di atas kasur, penat sekali rasanya. Sesaat aku teringat pada bingkisan yang tadi diberikan Evi, hadiah dari orang misterius.
Kemudian aku membuka bingkisan itu dan ternyata isinya sebuah tas kecil berwarna cream, sangat cantik sekali.
Sejenak aku tertegun seraya memandangi tas kecil yang kini ada di tanganku.
" Siapa sebenarnya? Mau apa dia?"
Lagi dan lagi, pengirim itu tak mencantumkan namanya, hanya secarik kertas bertuliskan
* Terimakasih sudah menerima hadiah ini dengan baik .*
__ADS_1
Tulis nya.
Bersambung....