
Tahun ini, hubunganku dengan Rendi genap mencapai tiga tahun. Aku tidak percaya, bahwa aku dan Rendi bisa bertahan sampai sejauh ini. Tapi disisi lain, aku semakin takut dan khawatir tentang kelanjutan hubunganku dengannya. Terlebih, saat kedua orang tuaku terus menanyakan pasal Rendi, setelah mereka mengetahui Rendi, dari foto nya yang kujadikan wallpaper di hp. Sudah dewasa tapi masih alay hehe.
Kesibukan demi kesibukan aku jalani. Sani yang dulu bukanlah Sani yang sekarang. Dulu, kerjaanku hanyalah menghabiskan uang orang tua, maklumlah belum bekerja. Tapi sekarang, aku sudah punya penghasilan sendiri. Setelah aku tak di terima bekerja di penggadaian, ternyata Tuhan punya rencana lain buatku. Tuhan memberiku jalan yang lain, justru lebih baik, dengan bermodalkan ijazah S1 Ekonomi, sekarang aku bekerja di sebuah kantor perpajakan. Alhamdulillah, hehe ... sombong dikit.
Namun, kini waktuku banyak tersita untuk bekerja, lagi dan lagi aku harus hidup jauh dari orang tua, sama seperti saat aku dulu kuliah. Tapi tak apalah, semua harus aku jalani, hitung-hitung belajar hidup mandiri, karena aku menyadari, tidak selamanya aku akan terus bergantung pada kedua orang tua.
Sore itu, aku pulang kerumah, karena sudah hampir enam bulan aku tidak pulang. Rumah kecil dan penuh kenangan inilah yang selalu aku rindukan dimanapun aku berada.
" Sani." panggil Bunda, yang saat itu aku sedang membantu Bunda memasak.
" Iya bunda, sda apa?" jawabku sambil memotongi cabai.
" Cowok, yang di hp kamu itu, pacar mu?"
" Hehe ... iya." jawabku dengan malu-malu.
" Kok gak pernah kesini, udah lama?" tanya bunda. Sepertinya bunda penasaran sekali.
__ADS_1
" Udah, dari jaman kuliah bun."
" Wahh ... kamu ni gimana sih, kok gak di kenalin ke bunda sama ayah." tukas nya protes.
Aku hanya menyengir kuda. Andai bunda tau, kalau anak mu ini pacaran dengan orang yang beda agama. Pasti beliau akan menceramahiku tujuh hari tujuh malam.
" Kapan-kapan ya bun."
" Tiga hari lagi kan puasa, gimana kalau puasa hari kedua dia suruh kesini."
Jantungku seketika seperti di hantam dengan benda. Hatiku mulai bimbang dan bingung. Apakah, sebaiknya kuceritakan saja yang sebenarnya pada bunda?
Aku berfikir berulang kali. Tidak-tidak, ini bukan saat yang tepat, gumamku dalam hati.
" Jarak rumahnya jauh bunda, kalau kesini sekitar tiga jam." ujarku beralasan.
" Ohh ... jauh juga. Ya gak papa sih, kalau dia beneran sayang sama kamu, jarak bukanlah penghalang." tuturnya.
__ADS_1
Lalu, kemudian bunda mulai bercerita tentang dirinya dan ayah, bagaimana dulu bertemu sampai menikah. Katanya juga penuh perjuangan. Bahkan mereka di pisahkan oleh pulau, selain itu alat komunikasi mereka hanyalah telepon umum dan juga surat. Untuk menunggu balasan surat dari ayah pun, bunda harus menunggu sampai seminggu lamanya. Tapi tak apa, namanya juga perjuangan.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar cerita bunda sembari membatin ' Iya bunda iya, itu kan ayah sama bunda' .
" Ada apa ini? Kayak nya seru banget." tanya Ayah setelah pulang dari menjemput adikku mengaji.
"Ini lo, Sani punya pacar, tapi gak pernah di kenalin ke kita." ujar Bunda mengadu pada Ayah.
" Loh ... loh ... Siapa? Udah lama?" tanya Ayah seperti wartawan yang mengintrogasi narasumbernya.
"Namanya Rendi Yah, udah dari kuliah." justru Bunda yg menjawab. Aku hanya tersenyum-senyum seperti kucing yang sedang malu-malu.
" Ajak dia kesini. Bilang sama Rendi, ayah bunda pengen ketemu." ujar Ayah.
Aku hanya mengangguk disertai perasaan bingung tak menentu.
Bersambung...
__ADS_1