
Acc min ðŸ¤
#Cinta_Untuk_Saida
#Prolog
"Dalam Q.S Ar-Rum ayat 21, Allah telah menjelaskan : Dan di antara bukti-bukti kekuasaan Allah diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tentram di sampingnya, dan dijadikan-Nya kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berfikir," jelas Ustadz Harun. Ia tersenyum memandang kepada sekumpulan orang-orang yang duduk di hadapannya.
"Nah, Hasan?" Pria bertubuh tinggi putih dengan parasnya yang tampan segera mendongak menatap Ustad Harun, Abinya.
"Dari surah yang Abi bacakan tadi, sekiranya kamu dapat mengerti mengapa Abi mengumpulkan keluarga kita, dan keluarga Saida di dalam pondok pesantren Al-Hidayah ini," sambung Ustad Harun
Muhammad Hasan Al-Asrof, nama lengkap lelaki itu, mengernyit bingung setelah mendengar ucapan sang Abi "Apa maksud, Abi?"
Ustadz Harun terkekeh kecil, mengalihkan pandangannya kepada Saida. Gadis berkursi roda dengan setelan gamis hitam senadanya, menunduk sipu merasakan debaran kencang yang bergejolak di dada, seolah bermimpi saja apa yang ia harapkan selama ini benar-benar nyata di depan mata, pria yang ia cintai sejak lama, sebentar lagi akan menjadi miliknya, imamnya.
"Umi, jelaskan pada Hasan." Ustad Harun menatap istrinya, Ustadzah Laila, sambil mengangguk pelan.
"Masya Allah Hassan, dengan senang hati Umi akan menjawab kebingunganmu, Nak. Maksud kami mengumpulkan dua keluarga ini, tidak lain untuk menjodohkan kamu, Hasan. Dengan putri shalihah salah satu santriwati di pondok ini, yang tidak lain adalah, Saida," jelas Umi pelan.
"Saya?" Hassan menunjuk kearah wanita berkursi roda itu "Dan dia?"
Kedua orang tuanya mengangguk pelan, merekahkan senyuman manis, Hasan membisu beberapa saat, menatap mata Uminya yang berbinar-binar kemudian mengalihkan pandangan pada paras ayu gadis berkacamata itu.
"Haha ... haha ...." Detik berikutnya ia malah tertawa, semakin lama gema tawa Hasan semakin memekakkan setiap telinga, Hasan mengelus perutnya yang terasa sesak. Semua mata menatap tajam kepadanya, termasuk kedua orangtua dari gadis berkursi roda itu.
"Hasan? Abang, pikir tidak ada yang lucu!" cetus Hussein. Anak sulung dari Ustadz Harun dan Ustadzah Laila.
Hasan menghela nafas panjang mencoba meredakan gema tawanya "Tidak ada yang lucu? Coba pikirkan, Bang. Seorang 'Hasan' menikah dengan wanita seperti, Saida. Apa itu tidak konyol?" Sekali lagi gema tawa pria berseragam Koko itu pecah amat lantang.
Ustad Harun mendelik tajam menatapnya "Hasan!"
Hasaan tersenyum kecil "Tidak ada perjodohan antara saya dengan perempuan lumpuh seperti gadis ini! Berjalan saja tidak bisa, bagaimana mau membahagiakan seorang Suami? Jikapun ada perjodohan, sebaiknya berikan si mata empat ini pada Hussein! Saya rasa dia lebih baik untuk menerima!"
PLAKK!
Satu tamparan keras melayang di pipi putih Pria berparas tampan itu. Hasan menyentuh pipinya yang terasa pedih, menunduk tidak berani menatap bola mata merah sang Abi.
"Seperti tidak punya iman! Kembalikan ucapan kamu, Hasan!" bentak keras Abi.
Bagai dilempar kerikil panas, Saida membiarkan air matanya menetes merasakan sesuatu yang teramat sangat menyayat di batinnya, dengan keras ia menyahut "Apakah salah jika seorang wanita yang tidak sempurna berharap bahagia? Apakah salah jika wanita yang lumpuh ini ingin di cintai? Apakah seburuk itu nasib gadis lumpuh yang tidak layak dijadikan seorang istri?"
"Saida ...." Ibu gadis malang itu ikut menangis menatap iba putrinya.
"Siada, bu-bukan begitu, Nak ...."
__ADS_1
Tidak bicara lagi, dengan kepedihan Saida memutar roda kursinya keluar dari dalam rumah Ustadz Harun tidak mempedulikan jeritan keras yang memintanya kembali.
"Puas?" cetus Hussein, menatap sinis wajah merah adiknya.
"Harusnya, kalian tahu wanita yang Hassan cintai adalah, Fisya! Jika Allah menciptakan manusia berpasangan-pasangan, saling berkasih sayang, maka dengan Fisya lah Hasan memimpikannya, bukan bersama, Saida!" ungkap Hassan.
"Dan harusnya kamu sadar, San. Fisya tidak merasakan apa yang kamu rasakan terhadapnya!" ketus Hussein menyela.
"Sudahlah, kamu boleh pergi, Hasan!" timbal Ustadz Harun melerai keduanya.
Mendengar perintah itu segera Hasan bergegas meninggalkan rumah sederhana bernuansa abu-abu milik kedua orangtunya.
Ustad Harun menatap iba pada kedua orangtua Saida "Maafkanlah anak saya."
"Tidak mengapa, Ustad. Kami tahu tidak mungkin anak kami Saida, bisa bersama dengan putra pemilik pondok ini," sahut Ayah Saida.
"Bukan begitu-"
"Tidak mengapa, sebaiknya kami pamit," ujar Ibu Saida memotong ucapan Ustadzah Laila.
"Assalamualaikum?" mereka berdua berlalu dengan sesal.
"Waalaikumsalam."
🌹
'Sudah kutebak dia pasti di sana,' batinnya senang. Segera Hasan menyusun langkah mendekati gadis cantik bergamis abu-abu, duduk manis di bawah pohon rindang bersama kedua sahabatnya.
"Assalamualaikum, Fisya?" sapa Hasan.
Fisya, gadis bermata cokelat itu mendongak menatapnya "Waalaikumsalam, Hasan. Ada apa?"
"Bisa bicara sebentar?"
Fisya bertukar pandang dengan kedua sahabatnya sebelum akhirnya mengangguk menerima tawaran Hasan. Mereka bedua duduk di pinggir danau yang terletak tepat di belakang pondok pesantren ini, ditemani salah seorang teman.
Berteman dengan kesejukan udara sore, Hasan menatap jauh kedepan sementara gadis manis berlesung pipi itu hanya menunduk.
"Kenapa kamu tidak menerima saja perjodohan itu? Bukankah Saida adalah perempuan baik, shalihah dan cantik?" tanya Fisya setelah mendengar cerita dari Hasan.
Hasan terkekeh mengalihkan pandangannya pada wajah putih berseri milik Fisya "Jika pertanyaan itu kembali kepadamu, apa yang akan kamu jawab? Mengapa kamu tidak pernah bisa menerima saya? Bukankan saya cukup layak untuk mendampingi kamu?"
Fisya menggeleng pelan membalas pandangan mata penuh harap milik pria tampan itu "Karena sudah berapa kali saya katakan, saya tidak mencintai kamu."
"Kenapa, kenapa tidak mencoba?"
__ADS_1
"Cinta tidak bisa di paksakan, Hasan. Saya ingin kamu menerima perjodohan ini sebagai jalan untuk melupakan saya!" cetus Fisya.
"Semudah itu kamu meminta saya untuk melupakan kamu, Sya? Setelah dua tahun saya memendam rasa untukmu? Apa kamu pikir dengan penolakan ini saya akan menerima, Saida?" timbal keras Hasan.
"Kenapa tidak?" Fisya mendelik tajam menatapnya.
"Dasar buta! Saida itu lumpuh, tidak sepertimu! Mana mungkin dia bisa mengganti posisi kamu di hati saya, Sya!" ungkap keras Hasan.
Deg!
Terasa diiris halus, rasa pedih di relung Saida semakin menganga setelah mendengar penuturan jelas Hasan. Apalagi yang bisa ia lakukan selain menangis di balik pohon rindang, tempatnya menyembunyikan diri saat ini.
"Tidak mau tahu sampai kapan kamu mencintai dan mengejar saya, saya tetap sama, San. Tidak akan pernah bisa merasakan hal yang sama, saya harap kamu tidak menyesal menolak perjodohan ini, karena perlu kamu tahu, bukan kamu pria yang ada dalam hati saya saat ini!" jelas Fisya menghela nafas berat.
"Siapa pria itu, Sya? Katakan!" cetus Hasan kasar.
Dengan mata elang, Fisya membalas tatapannya "Pria itu tidak lain adalah, Hussein, saudaramu! Saya permisi, assalamualaikum?"
"Fisya? Saya akan tetap menunggu kamu sampai kamu benar-benar mencintai saya!" Tidak peduli, Fisya bergegas melangkah menjauhi tempat itu meninggalkan Hasan dengan kekecewaan.
"Ck!" Kecewa, terluka, Hasan memeras rambutnya yang mulai acak-acakan. Menangis, ia meraung di tempat itu menatap bola dunia yang bergeser hilang dari tempatnya, gelap mulai menampakkan dirinya membawa kesunyian luar biasa.
🌹
"Hasan, jangan nekat! Hidup di luar itu keras, kamu bisa bicara baik-baik pada Abi dan Umi." Umar mencoba menahan Hasan, yang bersiap untuk kabur dari pesantren.
"Tidak ada yang perlu dipertahankan. Perempuan yang kumau bukannya mencintaiku dia malah menyakiti perasaanku dengan mencintai saudaraku! Abi dan Umi yang seharusnya tahu perasaan putranya malah seenaknya menjodohkan aku dengan gadis bermata empat itu!" Hasan berucap pelan, masih sibuk memasukkan pakaiannya kedalam bag besar.
"Istighfar, San. Tindakanmu benar-benar diluar batasan!" ujar Umar sahabat sekamarnya.
"Kamu cukup tutup mulut!" sahut Hasan. Ia bergegas melangkah keluar kamar menggendong bag di pundaknya.
"Hasan, istighfar, San!" Terus melangkah ia tidak menghiraukan jeritan temannya. Jam menunjukkan pukul dua belas malam adalah waktu yang tepat baginya untuk meninggalkan penjara ini.
Umar yang cemas, diam-diam mengikutinya dari belakang. Tanpa sepengetahuannya Umar terus menerus menyusul jejak Hasan.
Satu langkah lagi, setelah menyebrang jalan raya ia akan tiba di halte bis, kendaraan umum yang dapat mengantarnya jauh dari wilayah pondok sang Abi.
Umar, masih di belakang melihat putra pemilik pondok pesantren itu berada di pertengahan jalan raya.
"Hasan?" Sontak mata Umar melotot, mobil dengan kecepatan tinggi menuju kearah Hasan. Membabi-buta seolah tidak ada manusia di hadapannya "HASAN, AWAAAS!"
Hasan menoleh "Hah? Aaaaaargh!"
BRUUK!
__ADS_1
"Hasan?" Umar mematung, mendekap bibirnya yang gemetar, tubuh kekar Hasan terlempar jauh, terseret membelah jalan raya.
#Next?