Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part 3 | #Saidah nur Fauziana#


__ADS_3

#Cinta_Untuk_Saida


#Religi


Bukan cinta yang memilihmu tetapi Allah yang memilihmu untukku cintai (Saida Nur Fauziana)


___________


Semburat merah menyala mengintip di antara sela-sela jendela, setelah selesai menjalankan salat subuh, musholla Al-Hidayah di penuhi dengan gema suara dzikir pagi. Dipimpin oleh Ustadz Harun semua santri mengikuti.


Beberapa menit kemudian, dilanjutkan dengan kegiatan mengaji, menyetor atau melancarkan hafalan Qur'an, di bimbing Ustadzah Laila dan sang putera pertamanya, Husein. Selain pandai berdakwah pria tampan bergingsul ini juga adalah seorang hafidz Qur'an.


Hasan, pria yang terlihat seperti seorang santri baru ini, melangkah beriringan bersama, Umar. Mengambil Qur'an di lemari khususnya. Umar meraih Qur'an berwarna silver miliknya, memandang Hasan yang tampak celingak-celinguk mencari sesuatu.


"Cari apa, San?"


"Qur'an saya yang mana, Mar?"


Mendengar pertanyaan Hasan, Umar tersenyum kecil "Afwan, saya lupa."


Mengingat kondisi Hasan yang masih amnesia, Umar mengambil satu-satunya Qur'an berwarna putih di antara tumpukan Qur'an-Qur'an tersebut "Ini punya kamu, ingat ya."


Hasan mengambil "Terimakasih, Umar."


"Mari ...." Mereka melangkah bersama kembali duduk mengambil posisi semula di kelilingi para santri lainnya.


"Silahkan di buka Qur'annya, dibaca dan dilancarkan hafalannya. Jika sudah merasa benar, kemari dan bacakan." Husein berucap pelan, memulai kegiatan seperti biasa.


Para santri mulai membuka Qur'an mereka masing-masing, ada yang sibuk melancarkan ada pula yang sudah siap di hadapkan pada Husein. Hasan, ia masih sibuk membalikkan lembarannya, mencari tanda terakhir dari bacaannya.

__ADS_1


"Hasan?" Husein menatapnya seolah bertanya ada apa.


"Maaf, Bang. Hasan sedang mencari tanda terakhir dari bacaan," sahutnya sopan.


Husein mengangguk paham "Baiklah, cari baik-baik."


Hasan mengangguk, melanjutkan pencariannya. Membuka setiap halaman, di saat yang bersamaan sebuah kertas putih terselip diantara helainya. Hasan mengernyit heran "Surat?"


Hasan membolak-balikkan amplop putih tersebut, penasaran ia membukanya. Tulisan rapi yang benar-benar menakjubkan tertera begitu singkat di sana, segera Hasan membacanya pelan.


*Bukan cinta yang memilihmu tetapi Allah yang memilihmu untukku cintai*


-Muhammad Hasan Al-asrof


-Saida Nur Fauziana


Deg!


'Saida Nur Fauziana? Siapa dia?' Hasan tidak berkutik hanya menatap binar pada tulisan indahnya.


🌹


Pagi membawa ketenangan, mengantar bola jingga terang benderang. Fisya, gadis manis bermata cokelat, menyusun langkahnya ke Mushola. Membawa sekotak makanan, ia tersenyum manis semanis mentari yang memandang padanya.


Belum tiba di sana, seorang pria berjubah putih lebih dulu melangkah keluar Mushola. Fisya tersenyum sipu, memberanikan diri untuk mendekatinya.


"Assalamualaikum?" sapanya ramah.


Husein berbalik badan, menatap wajah merah Fisya yang menunduk "Waalaikumsalam, Fisya?"

__ADS_1


"Sobahul khair (Selamat pagi), Kak Husein."


Husein ikut tersenyum segera menundukkan kepalanya "Sobahunnur (Balasan selamat pagi), Fisya,"


Mengulur kotak makanan kepadanya, Fisya membalas "Lau samatha (Maafkan saya)"


Tersipu, Husein mengambil dari tangannya "Jazakillahu khairan katsiran (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), Fisya."


"Aamiin, illalliqa' (Sampai bertemu kembali) Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam."


Fisya melangkah kecil meninggalkan Husein, pria yang baru berani mendongak kepalanya, memandang punggung Fisya yang semakin menghilang.


Hasan berdiri di depan pintu mushola, menyaksikan keduanya, ikut memandang langkah kepergian gadis bergamis abu-abu tadi.


"Mengapa kamu tidak pernah bisa menerima saya? Bukankan saya cukup layak untuk mendampingi kamu?" Gema nyaring seruan itu memekikkan telinga Hasan.


"Ar-gh ...." Menekan kepalanya yang terasa sakit, Hasan hampir terjatuh di keramik musholla. Ingatan yang tiba-tiba muncul, entah siapa dan darimana asalnya suara tadi, Hasan benar-benar tidak mampu menahan sakitnya kepala.


"Kamu baik-baik saja?" Umar menahan tubuh kekarnya, menatap cemas pada pria berjubah hitam itu "Ayo, kembali ke kamar.'


Umar merangkul pundak sahabatnya, membantunya melangkah menuju asrama putra.


#Next


Apa Hasan akan mencari wanita yang bernama Saida Nur Fauziana itu?


Bagaimana jika ingatannya kembali, apa cintanya untuk Fisya akan terulang lagi? Menjadi penghalang dari kedekatan Husein dan Fisya? Bagaimana nasib Saida nanti?

__ADS_1


Tunggu part selanjutnya 😁


Terimakasih selalu menyempatkan waktu untuk membaca 🥰


__ADS_2