
Allah, kurasa aku menyukainya. Bolehku titip rasa agar tetap terjaga? Sakit pun ujungnya, karena bersama-Mu, ku pikir aku rela (Saida Nur Fauziana)
______
Perlombaan kaligrafi dimulai, sejak tadi pagi. Umar terlihat begitu fokus di sana, membuat karya terbaik yang sudah ia pelajari sejak lama.
Tidak berhenti berdoa dihati, semoga Allah melancarkan dan memudahkan segalanya hari ini.
"Hamasah."
Deg!
Ditengah keramaian suara, seruan indah bernada amat lembut pecah begitu saja, menembus dinding-dinding pendengaran Umar.
Sejenak, ia berhenti mencari gema suara lembut tadi. Didapatinya seorang perempuan cantik berdiri di keramaian, menatap dan tersenyum manis kepadanya. Tidak direncanakan, Umar pun membalas senyumnya.
"Bunga?"
Bunga mengangguk, meminta Umar melanjutkan kegiatannya. Umar terkekeh kecil, menurut dan kembali mengukir di sana. Hatinya berdebar, bertanya dalam diam 'Bunga disini? Kenapa aku tidak pernah menyadarinya?'
Di sisi lain, Hasan menyusun langkah kecil tanpa tujuan. Menggenggam sapu tangan biru mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Di tengah keramaian, ia mendapati apa yang dicari. Saida berkumpul bersama teman-temannya ikut menyaksikan perlombaan kaligrafi.
Hasan tersenyum singkat, dan menghampiri.
"Tidak tampan, tapi manis. Kamu pasti kenalkan dengan pria itu, Saida?" tanya salah seorang temannya, Hasan dapat mendengar terus melanjutkan langkahnya.
"Tentu saja, namanya Umar. Dia memang ahli melukis, dan cukup diakui di pondok pesantren Al-Hidayah."
Deg!
Langkah Hasan terhenti, ia mengernyit bingung mendengar pengakuan Saida. Mengapa gadis berkursi roda itu mengetahui tentang sahabatnya, Umar?
"Kenapa kamu memilih pindah mondok, sih? Kulihat, santri-santri disana begitu berwibawa dan masya Allah sekali," sambung salah seorang lagi.
Gemetar, itu yang Hasan rasakan sekarang. Apa yang ia dengar barusan adalah benar? Bahwa Saida pernah menjadi bagian dari mereka?
Saida tersenyum lantas menjawab pelan "Ada banyak ketentuan, yang terkadang tak perlu ada alasan."
"Saida?"
Deg!
Saida menoleh ke belakang, begitu juga dengan yang lain. Matanya membulat melihat Hasan berdiri disana, memandang bingung kepadanya 'Apa Hasan mendengar semuanya?'
"Mm, Saida tinggal sebentar, ya?" Teman-temannya mengangguk mengerti, Saida pergi dengan salam dan memutar rodanya mendekati Hasan.
"Ya, Hasan?"
"Kita bicara ditaman sebentar, bisa?" tanya Hasan pelan, Saida mengangguk. Dan segera menurut.
"Jadi benar, kamu pernah menjadi bagian dari kami?"
Saida mengangguk, menatap jauh kedepan "Iya, beberapa bulan lalu."
"Kenapa kamu pindah?"
Saida terdiam ditempatnya "Tidak ada perjodohan antara saya dengan perempuan lumpuh seperti gadis ini! Berjalan saja tidak bisa, bagaimana mau membahagiakan seorang Suami? Jikapun ada perjodohan, sebaiknya berikan si mata empat ini pada Hussein! Saya rasa dia lebih baik untuk menerima!"
Ingatan itu muncul seketika, Saida menghela nafas panjang, memejamkan matanya sebentar.
"Atas permintaan kedua orangtua, saya."
"Hanya itu saja?"
Saida mengangguk pelan.
Hening.
__ADS_1
"Saida?"
"Hmm?" Saida menoleh, menatap mata bulat beriris hitam milik Hasan.
"Bisa kembali ke sana?"
Deg!
Jantungnya berpacu begitu cepat. Hasan adalah alasannya pergi, namun hari ini apa Hasan juga, pria yang sama yang akan membawanya kembali?
"Mm, en-entahlah."
"Kenapa? Takut kepada kedua orangtuamu? Biar saya yang bicara pada mereka, asal kamu mengizinkannya."
Saida memandang lagi kepadanya "Apa kamu bisa mengembalikan kepercayaan mereka lagi?"
Sempat, Hasan tidak mengerti kearah mana pembicaraan Saida. Melihat kebingungan itu, segera Saida menyambung "Maksud saya, apa alasan kamu meminta saya kembali kesana?"
"Saida?"
"Ya?"
Hasan menunduk, menetralkan perasaan gugup di jantungnya. Kali ini ia harus berani bicara "Bukankah, hari itu kamu bilang kita tidak saling mengenal?"
Mengalihkan pandangan ke arah depan, Saida mengangguk "Lalu?"
"Meskipun itu kebenaran atau kebohongan belaka. Aku ingin--"
Terdiam, Hasan tidak melanjutkan ucapannya. Ia masih menunduk, memainkan sapu tangan biru di genggamannya.
"Ingin apa?" tanya Saida lembut.
"Aku ingin--"
"Ya? Kamu menginginkan apa?"
"Aku ingin kita--"
"Saida?"
Ck! Suara lain datang, memutuskan ucapan Hasan yang baru saja ingin terucap. Saida menoleh ke arah suara tadi, begitupun Hasan. Salah seorang temannya datang, menghampiri keduanya.
"Ayo ke asrama, waktu istirahat sudah tiba."
Saida mengangguk, sekali lagi mengalihkan pandangannya kepada Hasan yang terlihat putus asa.
"Bicaralah, sebelum saya pergi." Saida berucap, menahan rasa penasarannya.
"Nanti saja, ini milikmu." Hasan mengulur sapu tangan biru kepadanya, Saida segera mengambil "Bisa minta alamat rumahmu, atau nomor telepon orang tuamu?"
"Untuk apa?"
"Untuk bicara, meminta izin pada mereka untuk membawamu kembali."
Deg!
Tidak pernah ia rasakan denyutan keras ini, selain bersama Hasan. Pria yang pandai membuatnya bahagia sekaligus terluka, Saida hanya mengangguk mendengar pernyataannya barusan.
"Kami permisi, assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam." Saida berlalu, membiarkan temannya mendorong kursi roda yang ia duduki.
Hasan masih mematung di tempatnya, memandang jauh kepada Saida yang hampir menghilang.
"Aku ingin kita menjalin hubungan ta'aruf, agar bisa saling mengenal satu sama lain! Itu saja, kenapa sulit sekali mengatakannya. Huft ...." Hasan bermonolog, menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak terasa gatal.
🌷
"Assalamualaikum?"
__ADS_1
Fisya, Muna dan Zahra yang masih sibuk dengan cerita-cerita konyol mereka, segera menoleh kepada suara lembut itu. Liana, ia menghampiri mereka membawa senyum manis.
"Waalaikumsalam." Serentak mereka
"Bisa saya bicara berdua dengan, Fisya saja?" tanya Liana, menatap kepada Muna dan Zahra.
Mereka mengangguk dan berlalu dengan salam. Segera Fisya memberi tempat kepada Liana untuk ikut duduk disebelahnya.
"Ada apa, Mbak?" tanya lembut Fisya.
"Maaf jika saya lancang, tetapi saya sudah tidak lagi dapat menahan diri untuk tidak bicara padamu, Sya." Liana menundukkan kepalanya
Fisya tersenyum miring memandang mata beriris hitamnya dari samping "Bicaralah."
"Apa kamu dan Husein saling mencintai?"
Deg! Deg! Deg!
Seperti petir di siang bolong, pertanyaan Liana berhasil memekakkan telinga Fisya, mendegupkan keras jantungnya.
"M-maksud, Mbak?"
Liana menghela nafas berat "Hari itu, dia mengejarmu, dan meniggalkanku di taman dengan perbincangan yang belum selesai. Kurasa air mata yang kamu jatuhkan saat mendengar perbincangan kami dan kecemasan yang terlihat jelas di wajah Husein, adalah bukti yang begitu jelas. Katakan, sejauh apa hubungan kalian?"
"Mm ...." Fisya kehabisan kata untuk bicara.
"Belum begitu jauh." Suara lain datang, mereka berdua memandang "Tetapi In Sya Allah akan segera menjadi halal."
Husein tersenyum manis, mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman, tidak menatap Liana ataupun Fisya.
Sakit, itu yang Liana rasa. Pria yang dulunya bergelar penganggum rahasianya sekarang sudah berpindah hati. Liana berdiri, memandang kepada Husien "Benarkah? Lalu bagaimana dengan perjodohan kita?"
Fisya terdiam di tempatnya, benar-benar tidak pernah bermimpi akan dihadapan dengan situasi seperti ini.
"Maaf, Liana. Kedua orangtua saya salah paham. Begitupun kamu, kita adalah masa lalu, tidak salahkan jika saya memilih masa depan saya tanpa kamu?"
"Tidak salah juga bukan, jika masa lalu adalah bagian juga dari masa depanmu?" cetus Liana, ia menangis ditempat.
"Itu tidak salah, semua tidak salah. Yang bersalah adalah saya, sudah berani hadir di tengah-tengah kalian berdua." Tidak kalah sakit, Fisya berucap begitu serak.
"Bukan begitu maksud saya, Sya." Liana mengelak, tidak pernah berniat ingin menyakiti siapapun dengan cinta dari masa lalunya yang malah masih ada sampai sekarang.
"Baiklah, saya permisi, assalamualaikum?" Fisya berbalik badan menyusun langkah pergi.
"Jika saya bisa memilih, saya juga tidak menginginkan perasaan ini, Sya!"
Deg!
Ucapan serak Liana berhasil membuat langkah Fisya terhenti.
"Jika saya boleh memilih, saya juga tidak menginginkan bertemu lagi dengan, Husein. Membodohi diri, membiarkan rasa ini kembali. Saya tidak punya pilihan, selain menjalani peran ini, Sya! Saya kecewa, saya sakit melihat kedekatan kalian berdua. Bohong, jika saya mengatakan rela melihat kalian berdua bahagia!"
Gema tangis menyelingi ucapan Liana, air matanya berhasil membasahi niqabnya.
Fisya juga merasakan hal yang sama, ia juga tidak ingin memendam rasa pada seorang lelaki sebaik Husein. Pria yang jauh, bahkan jauh lebih baik darinya dalam segala hal. Tapi ia tidak punya pilihan, harus menjalani arus kehidupan yang sudah begitu baik di tentukan.
"Fisya menyerah, mengalah. Berbahagialah," ungkapnya pelan, Fisya mengusap wajahnya gusar, kembali melanjutkan langkah kepergiannya.
Husein tidak berkata, ia hanya terdiam ditempat, mencerna ucapan keduanya, masa lalu dan cintanya sekarang.
"Begitulah cinta, ia adalah permainan takdir yang kuasa. Jangan katakan siap jatuh cinta jika tidak bisa mengendalikan diri dan emosi. Huft ...." Husein menghela nafas berat "Maaf, Liana. Saya memilih Fisya, bukan karena cinta, tapi karena dengannya saya bisa merasa tenang dan nyaman."
"Saya tahu, saya pernah menolakmu, Husein. Mungkin ini ketetapan, tapi apa tidak ada kesempatan kedua untuk cinta yang saya punya?" Liana mengungkap semua dengan air mata, memandang wajah Husien yang tidak ada jawaban "Baiklah, assalamualaikum?"
Liana pergi, meninggalkan Husein di tempatnya sendirian.
"Waalaikumsalam."
Husein menyentuh dadanya yang sesak, mendengar pernyataan Liana semua kembali menyeruak dalam ingatannya.
__ADS_1