Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part_ 18 kekuatan cinta


__ADS_3

Andainya cinta bergandeng duka, semoga kekuatan adalah penemannya (Saida Nur Fauziana)


____________


Acara pernikahan Fisya dan Husien di langsungkan hari ini. Keadaan Hasan saat ini tidak ingin menjadi penghalang bagi mereka, karena Ustad Harun sendiri telah memutuskan untuk merahasiakan kondisi Hasan kepada semua, selain keluarganya dan Umar yang hanya mengetahuinya.


"Saya terima nikahnya Fisya Az-Zahra dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."


"Bagaimana para saksi?"


"SAH."


Ijab kabul berjalan lancar, setelah penghulu membaca doa, segera Fisya mencium punggung tangan kekar Husein. Pria yang sudah bergelar Suami-nya beberapa detik lalu, di susul Husein yang merengkuh kepalanya untuk dikecup.


"Uhibuki." Husein berbisik dekat di telinganya, membuat sang empu berdegup kencang.


Sembari menegakkan kepala, Fisya menatap dalam mata beriris hitam milik Husein. Mata indah yang tetap menjadi candunya itu, kini bisa ia nikmati setiap hari.


"BarakAllah." Seruan seseorang menyambung, mengalihkan perhatian keduanya. Liana tersenyum di balik niqabnya menatap sendu pada dua wajah berseri itu "Semoga Allah selalu bersama kalian."


"Jazakillahu khairan katsiran, Mbak Liana." Fisya tersenyum manis padanya.


Liana mengangguk pelan, menyalami tangan Fisya, kemudian sekali lagi memandang wajah datar Husein yang menunduk. Siapapun, pasti merasa sakit jika berada di posisinya hari ini. Apa boleh buat? Ternyata, tak selamanya cinta tentang memiliki atau dimiliki saja.


"Saya tinggal, assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam."


Liana berlalu, menyusun langkah pergi membawa air mata yang enggan untuk ditahan. Fisya menatap iba punggungnya semakin jauh, melingkarkan tangannya kedalam lengan Husein.


"Semoga Mbak Liana mendapatkan jodoh yang baik." Fisya berucap pelan, menatap binar di wajah suaminya.


"Aamiin." Husein menyahutinya lembut.


Berlari tidak tahu arah, bukan hanya kisah cinta Saida dan Hasan yang kandas, begitu juga nasib cintanya. Lebih parahnya lagi, ia malah harus merasakan sakitnya mencintai sendiri.


Liana melangkah masuk kedalam kamar mandi, terduduk paksa di batas pintu yang sudah ia kunci. Tangisnya pecah, sesegukkan begitu jelas. Menenggelamkan kepalanya di atas lutut, Liana benar-benar tidak mampu menahan sakitnya sebuah kehilangan, begitu juga dengan indahnya sebuah kenangan. Ya, hanya sebatas kenangan saja.


______

__ADS_1


Gema nyaring nada shalawat memenuhi halaman pesantren, Pria berparas tampan duduk bersama teman-temannya ikut menikmati keindahan suara lembut di atas sana.


Mata beriris hitam miliknya tidak lepas memandang kepada seorang wanita yang memiliki suara indah tersebut, ia tidak lain adalah Liana. Satu-satunya santriwati yang ia kagumi.


Beberapa menit setelah bershalawat, pria tampan ini mendekatinya.


"Assalamualaikum, Kak Liana?"


Liana menoleh sambil menjawab salamnya "Waalaikumsalam, ya Husien?"


Husein, santri junior yang baru seminggu masuk kedalam pondok ini. Liana sebagai sosok senior terbaik tentu mengenalnya.


Selama seminggu ini pula, Liana tidak salah jika merasa sesuatu yang tidak nyaman. Sebab, Husein selalu mengganggunya, tidak jarang pula mengirimkan surat untuknya tertulis bait-bait cinta didalamnya.


"Kak Liana, sudah membaca surat, saya?"


Liana terkekeh pelan, pria mana yang tidak menyukainya. Selain mahir bershalawat, ia juga cantik berpenampilan seperti ini, dengan niqab yang menutupi sebagian wajahnya membuat ia menjadi incaran pria shaleh.


"Tentu saja sudah. Kamu mau jawaban?"


Cepat, Husein menganggukkan kepalanya. Liana terdiam, mengingat isi surat yang beberapa waktu lalu diberikan Husein kepadanya.


*Saya jatuh cinta pada, Kak Liana. Sejak pertama kali Allah mempertemukan kita, Kak Liana, meskipun saya lebih muda dua tahun daripada Kakak dan perkenalan kita baru seumur jagung. Saya sudah siap, menjadi imam Kakak, Kakak berkenan saya kenalkan kepada orang tua saya?*


Liana tersenyum di balik niqabnya "Untuk sekarang, saya masih fokus memperbaiki diri, Sein. Selebihnya, saya belum memikirkannya sama sekali."


Deg!


Husein menunduk, Liana tahu ada lentera yang seolah padam di wajahnya sekarang.


"Tidak tahu nanti bagaimana jadinya, saya hanya bisa menjawab ini sekarang. Saya harap, kamu mengerti. Fokus saja pada pendidikanmu di sini, dan satu lagi, panggil saya Liana saja. Assalamualaikum?"


Liana berlalu meninggalkan bekas irisan bdi relung Husein.


______


Menyesal, itulah yang Liana rasakan sekarang, seandainya hari itu ia menerima Husien pasti hari ini ia tidak akan merasakan sakitnya kehilangan. Ingin menyalahkan rasa, mengapa baru sekarang ia ada? Kenapa tidak dari dulu saja, saat pria yang ia cinta, juga mencintainya. Tapi sayang, hati tak mampu di tebak kemana ia akan tinggal atau menetap, sebagaimana pilihan Husein, yang lebih memilih Fisya daripada dirinya.


Tok! Tok!

__ADS_1


"Siapa didalam?" Gema suara seorang lelaki hadir di balik pintu.


Segera, Liana mengusap habis air matanya tidak meniggalkan sisa. Untungnya, dia mengenakan niqab, sedikit banyaknya bisa menutupi wajah gusarnya sekarang.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Umar yang berdiri dihadapannya. Gugup, Umar menunduk.


"Ma-maaf, saya tidak tahu Mbak Liana di dalam. Assalamualaikum?"


Tergesa, Liana menatap punggung Umar semakin menjauh.


'Waalaikumsalam,' sahutnya dihati.


🌷


Jam menunjukkan pukul setengah tiga malam, seperti biasa, Saida bangun mengambil air wudhu dan segera menjalankan salat Tahajud.


Bukan untuk Hasan, ini memang rutinitas yang selalu ia lakukan. Meskipun ia mengakui, beberapa hari ini nama pria tampan itu selalu menjadi topik utama perbincangannya dengan sang Rabb.


Tidak jarang, air mata ikut serta dalam setiap bait kerinduan dana harapan yang ia punya. Selesai salat, Saida menadahkan kedua tangannya ke atas, sembari berdoa dihati.


'Cinta adalah anugerah dari-Mu. Tak bisa kami pungkiri, ia datang dan pergi sesukanya, juga bagian dari rencana baik-Mu, bukan? Seperti sebelumnya Tuhan, saat ini hamba meletakkan harapan pada-Mu. Izinkan hamba bersamanya. Kali ini kami sama-sama tersesat, tidak mengetahui jalan untuk sama-sama pulang.


Dimana pun Hasan berada, jagalah ia dengan keridhoan-Mu, jika memang hamba yang buruk ini tak pantas untuk bersamanya, maka kuatkan iman hamba untuk mengikhlaskannya.


Bukan hanya perihal cinta atau jodoh, tetapi tidak laik untuk menyempurnakan agama dalam ikatan pernikahan. Jika bukan dengan Hasan, maka hamba siap mengabdi pada ia yang Allah tuliskan.'


Tidak lagi bulir bening, kini genangan air diwajahnya seperti hujan yang enggan mereda. Pedih, setiap orang pasti merasakan hal yang sama, jika berada di posisinya. Harapan Saida hanya Allah untuk sekarang dan selamanya.


Di sisi lain.


Umi Laila menatap pada wajah tampan putranya, yang digenangi air mata. Hasan menangis, tepat ketika ia selesai menjalankan salat tahajud juga.


Bukan hanya sekali ini terjadi, sudah tiga hari setelah ia koma, bingung bercampur haru Umi Laila mengusapkan air mata Hasan yang enggan untuk berhenti keluar, membasahi bantal yang ia gunakan.


"Kenapa Hasan menangis? Umi di sini, Nakm Bangunlah, banyak yang menanti Hasan untuk kembali. Apa Hasan sedang bermimpi? Tentang siap, Nak? Atau, Hasan merindukan, Saida?" Umi Laila mengangguk pelan "Ya, Umi janji, jika Hasan siuman, Umi dan Abi, akan mengantar Hasan kepadanya. Bangun, sayang."


Sesak, suara serak Umi Laila memenuhi ruangan kamar itu. Tidak berhenti, mengusap air mata Hasan. Hasan yang seolah mendengar bait doa Saida, gadis yang amat ia cintai, setelah Umi-nya.

__ADS_1


Saida mengusap wajahnya gusar, membayangkan sosok Hasan yang di barengi pula dengan ancaman Ayahnya tadi siang, menambah luka di relungnya.


"Datanglah, untuk cinta suci kita, Hasan. Bukankah kita mencintai karena Allah? Jika kau tersesat, maka bersujud lah, kita bertemu dalam doa yang sama. Aku menunggumu, di sini bersama Allah."


__ADS_2