Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part _16 terulang


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Adakah cinta yang tak mengenalkan rasa luka? Ada, ia tidak lain adalah cinta suci yang dimiliki seorang hamba untuk Rabb-nya.


Halaman pesantren di hias sederhana menyiapkan acara pernikahan Fisya dan Husein. Ya, setelah perdebatan tempo lalu di Al-Furqon, Liana memilih mundur untuk cintanya. Awalnya Fisya menolak lamaran Husein, namun sekali lagi, karena alasan cinta Fisya dan keluarganya akhirnya menerima lamaran keluarga Husein. Hari ini Husein, Ustad Harun dan Ustadzah Laila, akan melangsungkan acara khitbahan di rumah Fisya tentunya. Fisya yang sudah diantar pulang dua hari yang lalu.


Berita baik untuk Hasan, ia segera bertindak cepat melangkah menuju rumah sang Abi.


Tok Tok!


"Assalamualaikum?"


Abi dan Umi-nya yang saat itu asyik berbincang, menatap kedepan pintu utama yang terbuka lebar, putra mereka Hasan tersenyum di sana.


"Waalaikumsalam."


"Masuklah, Nak."


Hasan menyusun langkah masuk, mengambil posisi duduk disebelah Abi.


"Ada apa, San?" Memandang wajah tidak biasa Hasan, kedua orang tuanya cemas.


"Mm ...." Hasan bergumam kecil, memainkan jari tangannya di bawah meja "Itu, Bi ...."


"Apa?"


"Sebenarnya, Hasan--" Terdiam lagi, Hasan benar-benar berusaha mengumpulkan keberaniannya di depan kedua orang tuanya sekarang.


"Sebenarnya Hasan kenapa? Bicaralah, jangan membuat kami cemas," sahut Umi Laila "Hasan sakit kepala? Atau, tidak setuju dengan pernikahan ini, atau---"


"Bukan, Umi." Dengan cepat ia menyela.


"Lalu?" sambung Abi-nya.


Memandang satu persatu wajah kedua orang tuanya, Hasan menghela nafas panjang berkali-kali berucap istighfar di hatinya "Saida--"


Kening keduanya mengernyit bingung mendengar nama Saida keluar dari mulut putra mereka.


"Kenapa, Saida?" tungkas cepat Ustad Harun.


Sekali lagi Hasan menunduk, memejamkan matanya menetralkan perasaan gugupnya diam-diam, mengumpulkan keberanian ia berucap pelan "Hasan mencintai, Saida. Apa Umi dan Abi mau memberikan restu jika kami menjalin hubungan ta'aruf?"


Deg! Deg! Deg!


Secara bersamaan, Harun dan Laila menelan salivanya. Saling memandang satu sama lain, bagaimana mungkin ini terjadi? Hasan, putra mereka yang sempat ingin di jodohkan dengan Saida tapi menolak mentah-mentah, hari ini malah memintanya sendiri.

__ADS_1


Umi Laila menundukkan kepalanya, menghela nafas tertahan "Pikirkan baik-baik, kamu sendiri tahu keadaan kamu sekarang, Nak."


"Umi benar, sebaiknya Hasan fokus pada pemulihan diri dulu, sisanya bisa di pikirkan nanti. Selesaikan dulu pernikahan Abangmu, Husein," ungkap Ustad Harun.


Tidak bisa di pungkiri, ada rasa pedih yang tiba-tiba menyerang batinnya. Tidak boleh, Hasan tidak ingin kehilangan Saida, meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu antara dia dan Saida, Hasan hanya ingin bersamanya sekarang.


Entah ini cinta atau obsesi yang katanya tidak jauh berbeda, Hasan pun tidak peduli, karena sampai hari ini hanya keyakinan bahagia bersama Saida yang ingin ia rasakan.


"Pernahkah Hasan meminta sesuatu kepada, Umi atau Abi?" tanya Hasan.


Ustad Harun tahu, apa maksud di balik pertanyaan putranya ini "Baiklah, kami mengizinkan kamu untuk berhubungan dengan Saida. Dengan satu syarat--"


"Apa?"


"Jika kalian tidak berjodoh, kamu harus ikhlas. Jika sewaktu-waktu ingatanmu kembali, kamu tidak akan menyesal." Ustad Harun menegaskan keras padanya. Tentu, ia tidak ingin gadis malang seperti Saida harus merasakan sakit untuk kedua kalinya lagi, apalagi jika luka itu kembali di torehkan oleh puteranya.


Hasan mengangguk cepat "In Sya Allah, Abi. Terimakasih."


Ustadzah Laila memandang kepada suaminya, seolah berisyarat kenapa mengambil keputusan seperti ini? Tahu akan hal itu, Ustad Harun mengangguk, seolah menjelaskan bahwa semua akan baik-baik saja.


Hasan mengembangkan senyum terhangatnya "Besok, Hasan akan menjemput Saida, apabila orang tuanya setuju mengizinkan Saida mondok lagi di sini. Sekaligus, Hasan akan memberikan CV, biodata Hasan untuk mengajukan hubungan ta'aruf dengan putri mereka."


Jauh di hati, Laila benar-benar takut memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagaimana jika dalam waktu dekat ini Hasan mengingat semuanya, bahwa gadis yang ia maksud sekarang adalah gadis yang tidak pernah ia pandang baik sebelumnya.


Hasan pasti akan menyesal, mengetahui tindakannya hari ini, dan pasti ia akan semakin memperbesar irisan luka di hati Saida. Jika itu terjadi, apakah Saida masih bisa baik-baik saja?


"Boleh Hasan meminjam ponsel, Abi?"


"Untuk?"


"Menghubungi orang tua, Saida."


"Sekarang?" sela Umi.


Hasan mengangguk "Apa Umi dan Abi keberatan?"


"Umi keberatan!" cetus Umi Laila.


Kening Hasan mengernyit "Kenapa, Mi? Apa hanya Bang Husein yang boleh memilih calon istrinya? Sementara Hasan tidak? Umur Hasan tidak muda lagi, Mi. Dua puluh tiga tahun, apa belum pantas Hasan mencari keberadaan tulang rusuk Hasan?"


"Hasan!" Ustad Harun berucap kesal.


"Kenapa, Bi? Apa karena Saida lumpuh? Saida tidak bisa melangkah bukan berarti Saida tidak bisa menjadi istri shalihah, 'kan?" jelasnya lagi.


"Mengurus diri sendiri saja tidak bisa, mau menjadi istrimu, apa itu tidak lucu?" Husein hadir, mengatakan apa yang pernah Hasan katakan hari itu.

__ADS_1


Hasan menoleh, begitupun kedua orangtuanya.


"Pikirkan lagi," sambung Husein terkekeh, menepuk pundak adiknya.


"Tidak ada yang perlu di pikirkan, Hasan mencintai Saida karena Allah. Allah yang mengajarkan manusia untuk tidak mencintai dari rupanya atau fisiknya. Memang benar tidak ada yang sempurna, tapi Hasan yakin, kami bisa melengkapi kekurangan-kekurangan kami yang Allah titipkan untuk kemudian menjadi sempurna," ungkapnya jelas, Hasan menghela nafas panjang meredakan nafasnya yang memburu.


"Pikirkanmu sedang kacau, Nak. Jalankan salat sunnah, setelah itu baru bicara lagi pada kami. Bukan apa-apa Hasan, kami tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari." Umi Laila tersenyum kepada putranya.


"Ck!" Hasan berdecak kesal, mengusap wajahnya gusar "Assalamualaikum."


Tidak bicara apapun lagi, Hasan melangkah keluar rumah meninggalkan ketiganya dalam kebisuan.


Bukan memaksa, hanya saja rasanya pedih mendengar jawaban kedua orang tuanya. Bagaimana masa lalunya? Kenapa ada ketakutan besar di wajah kedua orangtuanya?


🌷


"Hasan, jangan nekat! Hidup di luar itu keras, kamu bisa bicara baik-baik pada Abi dan Umi." Umar mencoba menahan Hasan, yang bersiap untuk kabur dari pesantren, sebagaimana dulunya.


"Tidak ada yang perlu dipertahankan. Perempuan yang kumau malah di tolak mentah-mentah dengan keluargaku, Mar!" Hasan berucap pelan, masih sibuk memasukkan pakaiannya kedalam bag berukuran sedang.


"Istighfar, San. Tindakanmu benar-benar diluar batasan!" ujar Umar cepat, ia benar-benar tidak ingin kejadian hari itu terulang lagi.


"Kamu cukup tutup mulut!" sahut Hasan. Ia bergegas melangkah keluar kamar menggendong bag di pundaknya.


"Hasan, istighfar, San!" Terus melangkah ia tidak menghiraukan jeritan Umar. Sama saja, jam menunjukkan pukul dua belas malam adalah waktu yang tepat baginya untuk meninggalkan penjara ini, sebagaimana sebelumnya saat peristiwa perjodohan antara ia dengan Saida dua bulan lalu.


Umar yang cemas, diam-diam mengikutinya dari belakang membawa kecemasan dan ketakutan yang sama seperti saat ia membututi Hasan malam itu. Tanpa sepengetahuannya Umar terus menerus menyusul jejak Hasan.


Tidak ada yang berbeda, satu langkah lagi, setelah menyebrang jalan raya ia akan tiba di halte bis, kendaraan umum yang dapat mengantarnya jauh dari wilayah pondok sang Abi.


Umar, masih di belakang melihat putra pemilik pondok pesantren itu berada di pertengahan jalan raya. Ingatan itu berputar di kepalanya, bagaimana sebuah mobil dengan kencangnya membawa tubuh sahabatnya itu melayang seperti angin di jalan raya.


"Hasan?" Tidak mampu menahan, sebelum akhirnya terjadi lagi, Umar meneriakkan keras namanya. Mendengarnya, Hasan menoleh, masih berposisi di tengah jalan raya.


Begitu sesak Hasan berteriak serak "Kau yang paling tahu, Umar. Betapa aku sangat menyukai, Saida. Aku mencintai kekurangannya!"


Sontak mata Umar melotot, mobil dengan kecepatan tinggi menuju kearah Hasan. Membabi-buta seolah tidak ada manusia di hadapannya "HASAN, AWAAAS!"


Hasan menoleh "Hah? Aaaaaargh!"


BRUUK!


"Hasan?" Umar mematung, mendekap bibirnya yang gemetar. Tidak! Kenapa ini terjadi lagi, terulang kembali? Sudah dua kali, Umar bertindak bodoh, hanya mematung menatap tubuh itu seperti angin yang melayang.


"Ha-hasan--" Tubuh kekar Hasan terlempar jauh, terseret membelah jalan raya.

__ADS_1


#Next


__ADS_2