
Katakan, dan sampaikan. Jangan pernah pulang, untuk sekedar mengulang (Saida Nur Fauziana)
Kurengkuh begitu jauh, bukan inginku menyerahkanmu pada luka, namun sekali lagi takdir dan keadaan tidak ingin kita bersama (Muhammad Hasan Al-asrof)
_________
Semenjak Hasan di rumah sakit, Umi Laila dan Ustad Harun benar-benar jarang menampakkan diri di pondok. Terakhir, setelah acara pernikahan putra pertamanya, Husein.
Memasak sendirian di dapur, dengan berbagai macam kegiatan. Fisya tidak keberatan jika menyangkut kepentingan suaminya, ia bersholawat, sambil memotong bawang di sana.
Husein yang kebetulan ingin kedapur, tentu saja mendengar suara merdu sang istri. Melihat Fisya dari jauh, sudah cukup mendegupkan jantungnya lebih cepat. Husein tersenyum manis, masih mematung menatap pada punggung istrinya. Fisya yang tidak menyadari, masih sibuk dengan pekerjaannya.
Menyusun langkah perlahan agar tidak ketahuan, Husein menyelusupkan tangannya ke pinggang ramping Fisya.
"Astagfirullah hal'adzim." Fisya terkejut dengan perlakuan Husein, sontak ia berbalik menolak keras tubuh kekar suaminya.
"Aduh ...." Akibatnya, Husein terduduk paksa di lantai. Melihat itu, Fisya benar-benar ingin tertawa namun di tahan adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.
"Makanya jangan seperti hantu, muncul tiba-tiba." Fisya terkekeh, membantu Husein berdiri, Husein yang masih sibuk menggosok pinggangnya yang sakit.
"Sakit, ya?"
"Menurutmu?" Menatap sinis wajah cantik sang Istri, Husein terlihat kesal.
Fisya terkekeh lagi, segera merapikan rambut suaminya yang ternyata masih acak-acakan "Maaf."
"Serius mau di maafkan?" tanya Husein.
Memasang wajah memelas, Fisya menganggukkan kepalanya "Iya."
"Ada syaratnya."
Kening Fisya mengerut "Apa?"
Mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur, Husein memasang wajah sok cool "Peluk dulu."
Fisya terdiam di tempat, syarat macam apa ini?
"Baiklah, kalau tidak mau juga tidak masalah." Husein tersenyum miring, menyusun langkah menuju meja makan.
"Apa harus begitu, Kak?"
Pertanyaan lembut yang keluar dari lisan istrinya membuat Husein tersenyum menang. Ia berhenti melangkah, masih enggan berbalik badan.
"Ya, har--"
Deg!
Lengan berlapis kain batik lembut melingkar di pinggangnya, Husein terdiam di tempat, jangan sampai Fisya tahu kondisi jantungnya yang berpacu sekarang.
"Begini?" Fisya yang masih erat memeluknya dari belakang, bertanya penuh kepolosan.
Husein tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, ia berbalik badan membalas pelukan erat Fisya. Menenggelamkan kepalanya di dada bidang yang masih saja berdetak kencang "Ya, begini."
"Sudah dimaafkan?" tanya Fisya lagi.
Memejamkan matanya, sambil mengelus lembut kepala istrinya yang dilapisi hijab, Husein menyahut "Sudah."
"Baiklah." Husein melotot, Fisya melepas pelukannya "Sudah di maafkan, berarti sudah acara peluk-pelukkannya. Waktunya makan ...."
Husein menghela nafas berat melihat Fisya sudah kembali ke meja dapur, memotong bawang-bawang di sana.
"Apa tidak bisa lebih lama?"
"Durasi sudah habis."
Duduk di meja makan, menunggu hidangan, Husein mengalihkan pembicaraan mereka "Kakak, mungkin akan menjenguk Hasan setelah sarapan. Kamu mau ikut?"
__ADS_1
"Jika kamu mengizinkannya, aku ikut."
Husein tersenyum, tidak salah pilih Fisya memang sosok perempuan yang ia idamkan selama ini, melakukan semua atas izinnya, benar-benar membuat Husein semakin jatuh cinta.
"Baiklah, kita pergi."
Fisya mengangguk pelan dan kembali dengan pekerjaannya.
🌷
Tok! Tok!
"Assalamualaikum, Saida? Kamu sudah bangun?"
Suara keras di balik pintu, membangunkan Saida dari tidurnya. Ia menatap sekeliling ruangan, ternyata ia tertidur di atas sajadah, setelah puas membicarakan tentang Hasan pada Allah.
Saida menekan kepalanya yang sedikit pusing, efek samping dari kebanyakan menangis pastinya.
Tok! Tok!
"Saida?"
Suara lembut Ibu membuyarkan lamunannya "Iya, Bu. Sebentar."
Saida melipat sajadah, dan membuka mukena yang masih ia pakai. Mencari jilbab dan segera membuka pintu.
Ceklek!
Wajah teduh sang Ibu menyambutnya dengan senyum "Kamu kesiangan, udah salat subuh?"
Saida mengangguk pelan "Sudah, Bu. Ada apa Ibu kemari?"
"Ustad Syafiq, ada di depan."
Deg!
Jantungnya nyeri, Saida terdiam di tempatnya mendengar ucapan Ibu.
Ibunya berlalu dengan sunggingan senyuman kecil, Saida menghela nafas panjang ia sama sekali tidak terkejut, sebab ia tahu cepat atau lambat Syafiq akan meminta jawaban.
Saida kembali masuk ke dalam kamar bernuansa abu-abu miliknya, tertata rapi meskipun tidak terlalu lebar. Ia duduk di bibir ranjang, masih suka mengingat masanya dengan Hasan yang belum juga ada ujungnya.
"Berjalan saja tidak bisa, bagaimana mau membahagiakan seorang Suami?"
Terasa lagi, sesak di dadanya terus menerus terasa nyata. Ucapan Hasan hari itu, seolah ia lupakan begitu saja, Saida menangis sendirian.
'Kau lumpuh, ingat itu! Kendatipun Hasan mencintaimu, itu hanya karena dia amnesia. Selebihnya, bukan apa-apa, Hasan sempurna, Saida. Sementara kau?' Ia terkekeh geli 'Dasar bodoh. Bangkai akan tetap menjadi bangkai, tidak akan berubah menjadi bunga.'
Saida mengusap wajahnya gusar 'Sudah cukup, menghabiskan waktumu dengan kebodohan yang kau perbuat sendiri, saatnya kau mengakhiri permainan ini, Saida.'
Ia menatap nanar wajahnya di dalam cermin, bagaimana mungkin, ada pria yang bisa mencintai gadis hina sepertinya? Selain Allah dan kedua orangtuanya, apa ada lagi yang bisa menerimanya dengan lapang dada?
Tidak menunggu lama, Saida membersihkan sisa air matanya. Segera memutar roda kursinya menuju ruang tamu.
"Kami percaya, Saida tidak akan menolak."
Sshh ... Saida berhenti, menekan dadanya yang sesak. Apa semua benar-benar harus berakhir? Beginikah akhirnya, Hasan?
"Nah, itu Saida." Saida mengusap air matanya yang sudah jatuh sejak tadi, ia menatap mata Ustad Syafiq yang mengarah padanya.
"Ayo, Nak." Ibu menghampiri Saida, mendorong kursi rodanya.
Syafiq tersenyum manis, sudah seminggu ia tidak melihat gadis nan cantik rupawan itu. Ibu Mila, menghentikan Saida tepat di samping ayahnya.
"Assalamualaikum, Saida?"
Saida mendongak menatap binar mata Syafiq "Waalaikumsalam."
__ADS_1
"Apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik."
Syafiq mengangguk pelan "Tidak baik berlama-lama, langsung saja. Apa kamu sudah memiliki jawaban?"
Deg!
'Kau lumpuh, kau tetap gadis yang sama. Gadis yang tidak akan pernah bisa dicintai, Hasan. Percayalah, dia baik-baik saja disana. Tidak menepati janjinya untuk datang, adalah keinginannya sendirian!' Saida membatin kuat.
Sulit, tapi harus ia ucapkan "Saya bersedia, menikah dengan, Ustad."
🌷
Tik!
Lagi-lagi, bulir bening terjatuh dengan sendirinya, berasal dari kata beriris hitam yang masih enggan terbuka itu.
Ustad Harun dan Istrinya, tidak lagi terkejut, Karena bagi mereka ini adalah hal biasa yang sempat beberapa kali mereka lihat. Hasan menangis tanpa sebab, meskipun matanya terpejam, mereka tahu, nalurinya masih bisa merasakan.
Umi Laila mengusap air mata Hasan dengan tangan lembutnya.
Tik!
Masih saja terjatuh, Umi-nya tidak lelah mengusap habis air matanya.
Tik!
Entahlah, tetapi kali ini berbeda, air mata Hasan enggan berhenti keluar terus saja menetes begitu deras.
"Kamu kenapa, Nak?" Cemas, Ustad Harun mengelus lembut kepala putranya yang masih terlapis perban.
Tit, tit, tit ....
Perhatian keduanya teralih pada suara layar monitor yang memekikkan telinga. Tiba-tiba saja, detak jantung Hasan tidak normal seperti biasa.
"Hasan?" Mulai sesak, Umi Laila menatap kepada wajah tampan putranya yang masih datar.
"Detak jantungnya melemah, cepat panggilkan Dokter, Abi!" Umi berteriak keras, berulang kali menukar pandangannya secara bergantian dari layar monitor kemudian kepada Hasan.
Ustad Harun yang ikut syok, segera melangkah keluar mencari dokter. Meniggalkan Umi Laila sudah menangis di tempat.
"Hasan ... Hasan jangan begini! Kamu harus bertahan untuk, Umi!" Begitu serak, nada keras suaranya yang parau menjadi saksi dari ketakutannya. Tidak ada yang enggan berhenti, baik itu air mata Hasan maupun nyaringnya bunyi detak jantung Hasan yang main-main di sana.
"Cepat tangani, dia." Dokter dan kedua susternya datang.
"Putra saya kenapa, dok? Tolong bantu dia, tolong selamatkan dia!" gerung Laila.
"Tenang, Umi. Dokter akan melakukan yang terbaik." Ustad Harun mencoba menenangkan istrinya.
"Ibu, bapak. Sebaiknya menunggu di luar, selama masa perawatan ini," pinta seorang suster.
"Ayo, Mi." Ustad Harun merengkuh pundak Istrinya.
"Aku tidak mau! Aku tetap ingin di sini menemani, Hasan. Aku ingin memastikan dia baik-baik saja, Abi." Umi Laila berusaha lepas dari pelukan suaminya.
"Kita tidak punya waktu, Bu. Keadaan pasien benar-benar kritis, tolong jangan mempersulit pekerjaan kami." Suster menyambung keras.
"Baik, Sus. Maafkan istri saya. Ayo, Mi." Ustad Harun bertindak cepat, merengkuh pundak Istrinya dan membawanya keluar dari dalam kamar.
"Bagaimana jika Hasan--"
Belum selesai bicara, Ustad Harun menutup mulut Istrinya "Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi, Hasan akan baik-baik saja."
Umi Laila masih menangis, menenggelamkan wajahnya kedalam dekapan sang suami "UM tidak ingin kehilangan, Hasan, Bi."
"Hasan tidak akan pergi kemanapun, percayalah."
__ADS_1
Ustad Harun terus menenangkan istrinya. Meskipun jauh di lubuk hatinya, ia sangat tidak siap kehilangan Hasan sekarang. Hasan harus baik-baik saja!
#Next