
Biar kekuranganku yang menjadi alasanmu untuk tetap tinggal bersamaku (Saida Nur Fauziana)
__________
"Sobahul khair, Zaujati." Hasan tersenyum, mengelus lembut pipi chubby milik wanita manis itu.
"Hmm--sobahunnur." Saida terbangun dari tidurnya, sedikit menguap sambil menutup mulut, Saida menatap samar-samar wajah cerah di hadapannya.
"Mau bangun atau---"
"Sttt ...." Dengan cepat Saida menutup mulut. Hasan dengan jari telunjuknya "Jangan bocorin dong sama pembaca, mereka rata-rata belum cukup umur, termasuk author-nya." (ðŸ¤ðŸ¤£)
Hasan terkekeh geli, segera ia bangkit dari kasur meraih hijab untuk di berikan pada Saida "Pakailah, aku tidak mau ada mata lain yang melihat kecantikanmu saat tidak menggunakan hijab seperti ini."
Dengan raut manja, Saida menatap lekat wajah tampan Hasan "Kamu selalu berhasil membuat aku luluh."
Hasan mengelus rambut hitam sepanjang bahu milik Istrinya "Aku adalah pengemis cinta yang akan selalu berusaha memintanya darimu, Saida."
"Kalau kamu pengemis cinta, aku siap menjadi juragannya. Memberikan seluruh cinta yang kupunya hanya untukmu," sambung Saida, Hasan tersenyum manis menjatuhkan Saida dalam pelukannya.
"Terasa seperti ABG, yang baru saja jatuh cinta." Mereka berdua tertawa kecil "Yasudah, kamu sekarang kamu mandi ya, kita salat subuh barengan."
Saida mengangguk pelan, menurut pada perintah Suaminya. Hasan menggendong tubuh ringannya, mendudukkan dirinya ke atas kursi.
_____
Selesai salat subuh, mereka berdua mengaji bersama. Menghabiskan beberapa jam di kamar pengantin yang begitu menawan.
Pagi mengantar cahaya terangnya, mentari turut menyaksikan keduanya di balik sela-sela jendela kamar yang masih tertutup tirai.
Gerimis kecil mengguyur, suasana pagi terasa semakin sejuk. Saida duduk di depan cermin, memakai jilbab panjang berwarna hitam senadanya. Sementara Hasan, ia sudah lebih dulu keluar kamar, Saida pun tidak tahu kemana suaminya.
__ADS_1
"Selesai." Saida tersenyum begitu manis, memandang sekali lagi wajahnya di dalam cermin. Entahlah, kenapa senyuman ini tidak pernah bisa hilang dari wajahnya, apa mungkin karena kehadiran Hasan yang menjadi alasannya?
"Kalau begitu, aku akan membawamu ke suatu tempat besok." Ucapan Hasan kemarin menyeruak dalam benaknya.
'Hasan mau mengajakku kemana ya?'
Tok! Tok!
Lamunan Saida buyar mendengar suara ketukan pintu, ia menoleh dan segera memutar roda kursinya menuju pintu.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, melihatkan wajah Ibunya di sana. Ya, mereka berdua ada di rumah kediaman kedua orang tua Saida.
"Ibu." Saida mengecup punggung tangan Ibunya.
"Apa Ibu mengajarimu begini, Saida?"
Terdengar Ibunya mendengus kesal "Hasan, dia di dapur. Membuatkan kamu sarapan, katanya."
Mata Saida membulat sempurna "I-ibu, serius?"
"Kalau tidak percaya, lihatlah sendiri. Ingat Saida, kamu yang harus melakukan pekerjaan rumah, bukan suamimu. Jadilah istri shalihah."
Saida tidak berkedip, segera ia memutar roda kursinya menuju dapur, mendapati Hasan sedang memotong bawang.
"Sayang, sudah selesai berdandan?" Hasan memandangnya sebentar, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya menyungging kan seyum "Cantik sekali."
Saida menghela nafas panjang, ia memutar roda kursinya mendekati Hasan "Duduklah, aku saja yang menyiapkan sarapan."
Hasan menghela nafas panjang, menatap binar indah mata Saida "Kamu sudah cantik, biar aku saja yang memasak pagi ini. Oya, sayang. Kamu mau apa? Nasi goreng, atau---"
__ADS_1
"Aku mau kamu duduk, ini pekerjaanku, Hasan." Saida memotong cepat ucapannya.
"Baiklah, aku akan duduk. Kamu yang akan memasak." Hasan menyerah, ia memberikan pisau dapur pada Saida, segera melangkah untuk duduk di meja makan.
Hasan tidak bicara, yang ia lakukan hanya memandang wajah datar Saida di sana, melihat keindahan nyata ciptaan Tuhan benar-benar menenangkan. Apalagi, Saida baginya halal, dimana mencintai dan memandangnya menjadi pahala.
"Kapan pulang ke pondok?" Saida membuka bicara.
"Kemungkinan, seminggu lagi."
Saida mendongak menatap iris hitam milik suaminya "Kenapa begitu lama?"
Hasan terkekeh kecil "Aku ingin mengabiskan waktu lebih lama bersamamu, sore ini seusai Ashar, kita siap-siap berangkat ya."
"Kemana?"
"Ke tempat impianmu," jawan Hasan sekenanya.
Kening Saida mengerut bingung "Kemana?"
"Sayang, aku lapar. Fokus saja pada masakannya, ya?"
Saida mendengus kesal "Ya, sebentar lagi."
Hasan tersenyum menang, melihat binar kekesalannya. Ia berdiri, kembali mendekati Saida. Hasan berjongkok, memutar kursinya, mereka berdua bersitatap lekat.
"Uhibbuki, Zaujati."
Saida tersenyum manis "Aku juga mencintaimu."
Hasan terkekeh kecil, mendekap erat Saida "Aku janji akan memperbaiki semuanya, setiap kali melihatmu aku selalu merasa bersalah, karena dulunya aku telah menyakitimu dengan hinaann yang tak pantas kamu dapat kan."
__ADS_1
Saida tersenyum manis mempererat pelukannya "Akan kucuri hatimu dengan kekuranganku"