Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part _ 24 pupus


__ADS_3

Sebongkah rindu, akhirnya menjadi batu. Biarlah, aku mengalah, menyerah untuk bersamamu (Muhammad Hasan Al-asrof)


________


Hasan masih memilih diam, menatap jauh keluar jendela mobil. Ucapan demi ucapan Ayah Saida terus saja mengisi kepalanya Begitu sesak, Hasan benar-benar tidak mampu membendung air matanya, yang terus ingin jatuh.


Umar menatap iba padanya, Umar yang merasa bersalah padanya.


"Aku tidak ingin keadaanmu kembali memburuk, tenangkan dirimu, San." Umar membuka bicara, menatap wajah Hasan dari samping.


"Kamu tahu, bukan? Aku tidak pernah berniat ingin menyakitinya lagi. Aku sadar, aku pernah menolaknya, Mar. Seandainya, hari itu aku menerima perjodohan antara kami," Hasan terkekeh kecil, mengusap air matanya "Mungkin, aku tidak akan kehilangannya."


Umar menghela tertahan, memandang pada Hasan yang malah semakin larut dalam kesedihannya "Aku minta maaf."


Hasan menatap "Untuk apa?"


"Kamu kehilangannya, karena kecerobohanku." Umar menunduk tidak berani membalas tatapan tajam Hasan.


"Kamu bicara apa, Mar?"


Mungkin ini saat yang tepat untuk bercerita. Umar menatap langsung netra hitam berair milik Hasan "Dua hari, sebelum undangan pernikahan Saida sampai di pondok, dia mengubungi Ustadz Harun, Abi-mu--"


Mata Hasan membulat "Lalu?"


Benar-benar begitu berat, ingin melanjutkan ucapannya. Ibarat, durian sejauh apapun menyimpan, pasti akan tercium juga baunya. Karena itu, Umar memberanikan diri untuk bercerita.


"Kebetulan, hari itu Ustad Harun tidak di rumah, beliau pergi menjenguk kamu di RS. Aku yang kebetulan ada di sana, menerima telepon dari Saida."


Umar terus menatap Hasan yang tak berkedip mendengar jelas ceritanya.


"Dia bicara apa?" tanya Hasan lagi.


"Dia menanyakan kabarmu."


"Kamu jawab apa?"


Umar mengusap wajahnya gusar, keringat dingin mulai membasahi keningnya.


"Ustad Harun, Abi-mu. Meminta kami untuk merahasiakan kondisi kamu yang koma kepada siapapun. Kupikir, itu juga berlaku pada, Saida. Aku bilang---kamu baik."


"Hh?" Tersentak kaget, Hasan bernafas sedikit sesak.


"Maaf, Hasan. Aku tidak tahu, akhirnya akan jadi begini. Setelah menerima undangan pernikahan Saida dua hari kemudian, aku benar-benar menyesal. Apalagi, setelah melihatmu begitu kacau hari ini, aku benar-benar minta maaf, San." Umar menatap penuh harap pada wajah datar Hasan.


Hasan mengangguk, berkali-kali beristigfar di hatinya "Jadi, kalian sebenarnya sudah tahu, perihal Saida yang sudah menikah?"


Umar mengangguk cepat "Maaf. Kami tidak bisa memberitahukannya langsung padamu, kami takut kamu tidak bisa mengendalikan diri."

__ADS_1


Hasan terkekeh kecil, menatap dalam wajah Umar "Apa aku terlihat baik?" Umar menggeleng pelan "Sama saja, apa gunanya kalian? Bukannya membantu, kamu malah semakin mengirisnya lebih dalam, Mar!"


Umar menggeleng pelan "Kamu boleh memukuliku, menamparku atau bahkan memakiku. Tapi kumohon, maafkan aku, San."


Hasan memejamkan matanya, membiarkan air matanya tumpah begitu banyak "Semua berawal dariku, Mar. Aku yang terlalu membenci Saida dulu, inilah balasannya."


"Hasan--"


"Saida pantas bahagia. Bersamaku, hanya ada luka. Aku menyerah, mengalah. Bukan karena aku tidak lagi mencintainya, tapi karena aku ingin dia bahagia," ungkap Hasan, sekali lagi menghapus setiap air mata yang masih enggan berhenti keluar.


🌷


Satu Minggu kemudian.


Meski tak mudah, apa yang ada di belakang sebaiknya segera di tinggalkan. Kendatipun, menyakitkan namun bersama keikhlasan, keindahan pun akan didapatkan.


Langit masih cerah, menampakkan birunya begitu indah. Dua pria berbusana muslim dengan peci menutupi kepala, mondar-mandir di toko buku untuk membeli beberapa buku keperluan mereka.


Seperti biasa, setiap hari Minggu, para santri diberikan izin untuk keluar. Hasan memutuskan untuk kemari, masih ditemani Umar.


Sambil memilih buku, masanya dengan Saida saat pertama kali bertemu, begitu jelas tinggal di ingatannya. Hasan benar-benar merindukan gadis itu, gadis cantik yang ternyata tidak sendiri lagi.


Begitulah kehidupan, kadang jalannya tidak mampu di tebak. Ada yang baru memulai ada pula yang harus mengakhiri.


"Mencari buku apa, San? Aku bisa membantunya," tanya Umar.


Jawaban Hasan masih sama seperti waktu itu, Umar yang ikut mengingat hanya bisa menghela nafas panjang. Hari-hari yang Hasan lalui selama seminggu ini, benar-benar terasa amat berat. Ia jadi lebih pendiam, berteman sepi dan kesendirian yang selalu mengajak ingatannya untuk bernostalgia saat-saat bersama Saida. Ya, saat-saat yang paling membahagiakan, Diaman senyumnya yang hilang, tertinggal di kenangan.


"Baiklah, aku kesana sebentar." Hasan mengangguk, memberikan Umar menyusun langkah pergi.


BRUUK!


Deg!


Suara lantang seseorang menjatuhkan buku di belakangnya terdengar jelas. Jantung Hasan berdetak lebih cepat, ia menelan salivanya. Masih ingat saat itu, dimana Saida-lah pelakunya. Apa kali ini masih sama? Apa kenangan indah yang Hasan rindukan itu, kembali lagi?


Hasan memberanikan diri berbalik badan, dengan kaki dan dada yang bergetar tak menentu.


Deg!


"Boleh saya meminta tolong?"


Sempat beberapa kali Hasan mengucek matanya, namun alhasil, setelah kembali terbuka hasilnya tetap sama.


'S-saida?'


Mereka terdiam, sama-sama membungkam tak saling bicara. Hanya mata keduanya yang semakin lekat teradu, menghabiskan segala kerinduan yang sama-sama terpendam.

__ADS_1


Setetes bulir bening keluar dari dua pasang mata itu, tidak sanggup berkata-kata. Air mata adalah bukti, bahwa mereka saling merindu.


Saida tersentak, sadar dari lamunannya. Ia menundukkan kepalanya, mengusap air matanya yang entah kapan jatuh. Melihat itu, Hasan pun melakukan hal yang sama, sama-sama mengusap air mata.


"Tidak apa-apa, jika anda tidak bisa membantu. Saya bisa sendiri," sambung Saida.


Sambil sesenggukan, ia memungut buku-buku di bawah kakinya, membiarkan setiap air matanya jatuh. Hasan masih mematung di tempatnya, tidak menduga pertemuan ini pun terulang kembali.


Saida mulai berusaha berdiri, bertumpu pada pegangan kursi rodanya "Eh?"


Hal sama terjadi, tubuhnya yang lemah tidak terjatuh sebab Hasan dengan sigap menahan kursinya. Saida kembali duduk, masih berusaha menetralkan perasaannya yang menggebu.


"Biar aku saja."


Hasan bertindak cepat, memunguti satu-persatu buku di bawah kakinya. Masih memasang wajah dingin, ia terus melakukannya.


Saida membungkam, menatap dalam wajah tampan Hasan. Ia masih menangis, begitu banyak menangis, pertemuannya dengan Hasan tanpa di sengaja ini, benar-benar membahagiakan sekaligus menyesakkan dadanya.


"Dimana suamimu? Kenapa di tidak melindungimu?"


Deg!


Pertanyaan dingin Hasan, mengiris tajam di hatinya. Saida memejamkan matanya, hingga air mata yang tergenang tadi tumpah seketika.


Masih sibuk menyusun buku di rak, Hasan menyambung tanpa menatap "Kenapa menangis? Aku merelakanmu, bukan untuk melihatmu begini."


Saida mengusap habis air matanya. Umar datang, terkejut melihat keberadaan Saida. Ia memilih diam, tidak ingin menganggu keduanya.


"Aku--" Saida terdiam sejenak.


Hasan berhenti, netra beningnya mengarah tepat pada iris hitam Saida "Aku juga merindukanmu."


Hasan tersenyum tipis "Aku tidak tahu, kenapa takdir mempertemukan kita di sini. Aku setengah tidak percaya. Tapi percayalah, aku sudah ikhlas melepasmu. Maaf, aku tidak bisa menepati janji."


Saida tidak berkedip, menatap wajah Hasan yang murung "Hasan, aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi. Tapi, jika kau berkenan, temui aku besok di sini."


"Untuk apa?"


"Aku ingin bicara."


"Baiklah. Aku akan datang."


"Terimakasih, assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam."


Saida berlalu, meninggalkan sesak di dada Hasan. Apa ia bermimpi? Bertemu Saida lagi

__ADS_1


__ADS_2