
Hati selalu punya cara untuk mengobati lukanya, terutama perihal sebuah cinta (Saida Nur Fauziana)
_________________
"Tidak ada perjodohan antara saya dengan perempuan lumpuh seperti gadis ini! Berjalan saja tidak bisa, bagaimana mau membahagiakan seorang Suami? Jikapun ada perjodohan, sebaiknya berikan si mata empat ini pada Hussein! Saya rasa dia lebih baik untuk menerima!"
Entahlah, bahkan meskipun baru beberapa jam lalu Pria itu meluluhkan hatinya tanpa sengaja, peristiwa hari itu tetap juga mengambil posisi teratas di ingatannya.
Saida menatap jauh kedepan, sapuan angin lembut membelai hijabnya bergelombang. Senada dengan gelombang kecil di atas permukaan air danau dihadapannya.
Setelah hujan mereda beberapa jam lalu, udara masih terasa sejuk. Saida mendekap dirinya sendiri, ia terdiam di tempat mengadu pada dirinya. Bertanya pada hati dan logikanya, apa sebenarnya yang sudah ia lewati? Bersama, berbincang bahkan bersikap begitu baik didepan Hasan, seolah lupa pada rasa sakit yang masih tersisa di lubuk hati terdalamnya.
"Kupikir dia mencintaimu." Seruan itu pecah nyaring di belakang Saida, ia menoleh menatap Ayunda, teman se-pondoknya.
"Maaf, kamu bicara apa?" tanya Saida.
Tersenyum miring, gadis berkulit sawo matang ini mengambil posisi berdiri di hadapan Saida. Sifatnya sama persis dengan Hasan sebelum pria itu mengalami amnesia. Ya, tidak pernah menyukai gadis di hadapannya sekarang. Apa alasannya, tidak ada yang mengetahui, selain dia dan Tuhan tentunya.
"Pahlawanmu, rela berhujan-hujanan demi menyelamatkan seorang Saida," cetusnya terkekeh kecil.
Tatapan elang tertuju pada Ayunda "Tolong jangan usik saya, Nda. Ini bukan tempatnya! Nanti, setelah pulang dari sini, seperti biasa, kamu boleh sesuka hati mengolok-olok saya!"
"Ya ampun, Saida marah? Jadi begini wajah lugu Saida ketika sedang marah?" cibir Ayunda lagi.
Saida menghela nafas panjang "Sebaiknya kamu pergi, saya sedang tidak ingin di ganggu."
"Hei, cupu!" Dengan cekatan Ayunda melepas kacamata miliknya, mata Saida membulat sempurna melihat tingkah lakunya "Kamu pikir kamu siapa? Bisa memerintah seorang Ayunda, ponakan Ustad Ridwan, pemilik dari pondok yang kamu tempati sekarang, hah?"
Saida berusaha mengambil kacamata miliknya yang di main-mainkan digenggaman Ayunda dengan pandangannya yang kabur "Kembalikan, aku mohon!"
"Mau ini? Ambil sendiri!" Ayunda meletak kacamatanya di bawah roda kursi Saida "Bisa?"
Seperti biasa, Ayunda selalu berhasil membuat Saida menangis. Bukan karena ia benci pada Ayunda, tetapi sakit di dalam hatinya terasa begitu mengiris "Kenapa kamu membenci saya, Ayunda? Apa salah saya? Apa saya pernah mengusikmu?"
Ayunda terkekeh kecil mendengar suara serak Saida, memangkukan kedua tangannya pada pegangan kursi yang Saida duduki ia berucap pelan "Coba pikir sayang, sebuah batu kerikil saja tidak menyukaimu, dengan caranya ia selalu menyusahkanmu, bukan? Bahkan, di saat hujan begitu lebatnya menyerang. Apalagi, aku." sahutnya tertawa renyah.
Saida tidak berucap, ia menangis memberontak. Ingin rasanya menampar atau menolak Ayunda sekarang juga, namun teringat kepada Allah ia percaya tidak ada yang lebih baik selain balasan dari-Nya.
"Dah, Saida. Jangan lupa cara kacamatanya, nanti ada kerikil lagi loh di roda." Ayunda melangkah pergi, menyusul cibirnya dengan gema tawa yang renyah.
__ADS_1
Saida mengusap kasar air matanya, beristigfar beberapa kali didalam hati. Ia berusaha untuk turun dari kursi roda, duduk diatas rumput lembut dipinggiran danau itu. Saida meraba, menyentuh rumput basah di depannya, tidak ada yang berhenti, baik itu hinaann, cacian, ataupun airmata.
"Ini."
Deg!
Tangan seseorang mengulur kacamata di hadapannya, Saida menatap namun wajah putih berseri itu terlihat samar. Segera Saida meraih kacamata miliknya, dan memakainya.
"K-kamu?"
Hasan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, tentu saja senyum terus memperindah wajah tampannya. Melihat itu, Umar mendekatinya, mengambil posisi duduk di sebelahnya.
"Tampaknya wajahmu lebih segar," ujar Umar.
"Apa terlihat begitu?" Hasan terkekeh kecil mendengar ucapan Umar, masih sibuk mengeringkan rambutnya.
"San?"
"Hm?"
"Lihat aku sebentar."
"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Hasan.
"Apa kau menyukai, gadis itu?"
Kening Hasan mengernyit bingung "Siapa, Saida?"
"Ya."
Detik yang sama, Hasan tertawa begitu renyah, merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.
"Jawablah!" desak Umar.
"Huft ...." Hasan menghela nafas tertahan, ia terdiam menatap langit-langit kamar, mengingat wajah cantik gadis berkursi roda itu, dipadukan pula dengan kacamata penarik hati, menurutnya.
"Entahlah, aku tidak tahu pasti, yang jelas sekarang," Hasan menyentuh dadanya "Aku bahagia, itulah saja."
"Bagaimana jika kamu benar-benar menyukainya, San?" tanya Umar lagi.
__ADS_1
Hasan memiringkan kepalanya menatap mata merah milik Umar, ada apa dengan sahabatnya "Kenapa? Apa itu salah?"
Umar mengalihkan pandangannya ke arah jendela, mengusap gusar wajahnya lantas membatin 'Bukan, aku bahagia. Kami bahagia, jika benar kamu menyukainya. Tapi nanti, setelah kamu sembuh dari amnesia, Saida akan semakin sakit, San. Kamu tidak boleh menyukainya sekarang!'
"Sudahlah, temani aku keluar sebentar, kak sudah berjanji akan menemaniku, kan?" Umar mengalihkan pembicaraan, meniggalkan Hasan di atas kasur.
"Tentu aku ingat, ayo. Izin ke Abi dulu," sambung Hasan.
Berkeliling di sekitar kota, berjalan beriringan bersama Umar di pinggir jalan. Hasan tidak ingin melewati pemandangan indah kota ini, tentu saja jarang bagi anak santri bisa keluar dari kandang suci mereka.
"Mar, apa dulu aku pernah jatuh cinta?" Hasan membuka bicara.
Umar terkekeh mendengar pernyataan Hasan "Menurutmu?"
Hasan tidak menjawab, mengangkat kedua bahunya berisyarat tidak. Umar kembali melanjutkan ucapannya "Tidak perlu gali tentang masa lalumu, nanti jika sudah waktunya, kamu akan mengingat semuanya sendiri."
Hasa hanya manggut-manggut ditempat.
BRUKK!
"Eh?"
Tidak sengaja, Umar menyenggol lengan seseorang dengan keras. Segera mereka berdua menatap rintihan kecil itu, seorang gadis bergamis jingga terduduk di samping mereka, berusaha berdiri.
"Astagfirullah, maaf, Mbak." Umar berjongkok, memunguti satu-persatu buku yang berserak di sana.
"Tidak apa-apa."
Lembut, itulah definisi dari suaranya. Umar mendongak menatap wajah cantik di hadapannya. Mata bulat, beriris hitam pekat, dan ... cantik.
"Maaf." Lamunan Umar buyar, ia menunduk menetralkan degupan di jantungnya. Mereka berdua berdiri, menatap sejenak pada Hasan yang berpura-pura buta dan tuli.
"Mm, Umar." Tanpa diminta, Umar memperkenalkan dirinya sambil menunduk.
Gadis di hadapannya tersenyum "Bunga. Nama saya bunga. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam."
Bunga, gadis cantik itu berlalu, Umar membalikkan badannya menatap punggung gadis itu semakin jauh.
__ADS_1
"Ayo pulang." Berbalas, Hasan merengkuh pundak Umar dan menyeretnya dari tempat itu