Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part 5 | Liana #


__ADS_3

"Allah ... adalah tempat sebaik-baiknya meletakkan sebuah harapan. Mengadu kepada manusia, memang dapat menenangkan, namun mengadu pada Allah bukan hanya mendapatkan ketenangan namun dengan-Nya pula kita dapat solusi dari seribu masalah kehidupan.


Sebuah ketetapan, kadang jalannya memang membingungkan, menyebalkan bahkan tidak jarang menyakitkan. Sebagai seorang hamba, tidak ada komentar apapun yang harus kita tanyakan. Mengapa saya? Mengapa bukan mereka? Saya tidak sanggup Ya Rabb!


Astagfirullah, Allah tidak akan menguji manusia diluar batas kemampuannya. Sesungguhnya Allah maha baik, Allah maha benar, tidak akan membuat hamba-hamba-Nya kesulitan, sebagaimana yang Dia janjikan bahwa setiap kesulitan akan bergandeng dengan kemudahan. Maka percayalah pada janji-Nya. Dalam Q.S Al-Ikhlas ayat 2, sudah di jelaskan. Bahwa Allah adalah tempat seorang hamba meminta, mengantungkan segala sesuatu."


Riuh tepuk tangan meramaikan suasana musholla yang mulanya hening. Pria tampan berkopiah hitam tersenyum manis tepat di atas mimbar, menarik nafas lega setelah berhasil mengeluarkan suaranya barusan.


Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang menampakkan wajahnya di deretan makmum terdepan, bulir bening tergenang di mata damai miliknya. Hasan tersenyum manis terus memandangi wajah Uminya.


"Terimakasih untuk perhatiannya," sambung Hasan.


"Hasan?" Hasan menoleh kepada Abinya "Abi ingin kamu mengikuti lomba dakwah Islam di Pesantren Al-Furqon nanti."


Dengan senangnya Hasan mengangguk "In Sya Allah, Bi. Hasan bersedia."


Selesai sudah mendengar santapan rohani pagi, kegiatan selanjutnya para santri disibukkan dengan persiapan untuk mengikuti berbagai macam lomba. Umar, pria yang terkenal memiliki kepandaian dalam hal mengukir, memutuskan untuk mengikuti lomba kaligrafi. Husein, sang penghafal Qur'an, memilih mengikuti lomba Hafiz terbaik. Sementara Fisya, bersama santriwati lainnya, di pilih untuk mengikuti lomba Qasidah. Di bimbing Ustadzah Laila dan Ustad Harun.


Pagi hari, diam-diam sang mentari mengintai mereka di ufuk timur. Hasan sudah mulai sibuk mencari materi di berbagai buku islami, selanjutnya di berikan sedikit perbaikan dari sang Abi. Husein memperlancar hafalannya, di tambah sedikit sentuhan nada yang membuatnya menjadi lebih terdengar indah, di bimbing oleh Uminya sendiri. Umar, bersama alat kaligrafi pun terlihat fokus merangkai, sesekali Ustad Harun melihat atau menilai karyanya.


Tinggal Fisya dan sahabat, tidak ada yang membimbing mereka, Ustadzah Laila tidak mahir dalam hal bernyanyi, apalagi Ustadz Harun. Di tengah semua santri akhirnya sebuah keputusan di ambil.


"Kebetulan Umi ada kenalan seorang wanita yang mahir dalam bernyanyi, setelah salat Zuhur, Umi akan memintanya untuk mengajar di sini. Kebetulan guru pondok di sini masih kurang. Bagaimana apa kalian setuju?" tanya Umi Laila.


"Kami setuju saja, Umi." Fisya menyahut sopan.


"Baiklah, Hasan?" Hasan menoleh "Nanti siang temani Umi menjemputnya ya?"


"Na'am, Umi." Hasan mengangguk tersenyum manis.


"Alhamdulillah, Kalau begitu lanjutkan kegiatan kalian. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu?"


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu."


Seluruh kegiatan kembali di lanjutkan.

__ADS_1


🌹


Selesai sudah menjalankan salat Zuhur berjamaah. Umi Laila memberikan kunci mobilnya pada Hasan, mereka berdua melangkah beriringan menuju parkir mobil.


Setelah tiba, segera memasuki mobil. Di setir Hasan, mobil mewah membelah jalan raya. Semakin jauh meninggalkan wilayah pondok.


Sesekali Anak dan Ibu ini bercerita, kemudian tertawa kecil melihat pemandangan indah di kaca jendela mobil.


Meskipun Hasan merasa masih asing dengan wanita paruh baya ini, namun kasih sayang dan kelembutannya membuat Hasan percaya bahwa dialah sosok Ibunya.


"Umi?"


"Hmm?"


"Hasan ingin mencari keberadaan Saida Nur Fauziana. Hasan tidak akan bertanya di mana akan menemukannya, Hasan hanya ingin Umi mengizinkannya," ungkap Hasan.


Umi tersenyum manis sembari membatin 'Masya Allah, Umi selalu berdoa, bahwa perpisahan kalian saat ini bukan jalan untuk saling melupakan, namun kerinduan yang akan mengembalikan kalian untuk bersama, Hasan. Umi berharap kamu bisa membuat Umi bahaga, dengan bersamanya.'


"Umi, jawablah," desak pelan Hasan.


"Terimakasih, Mi."


Beberapa jam di perjalanan, akhirnya mereka tiba ditempat, sebuah rumah minimalis modern berwarna biru muda ada di hadapan mereka.


Umi Laila turun dari mobil, di susul Hasan. Seorang wanita berniqab hitam senada, sudah menyambut kedatangan keduanya. Hasan diam di tempat melihat Uminya memeluk gadis asing itu. Berselang beberapa menit, kedua orangtuanya keluar dari dalam rumah. Menyambut Hasan dan Umi Laila sangat baik, mereka segera melangkah masuk kedalam rumah.


Di ruang tamu, perbincangan hangat terjalin. Setelah puas mengabiskan waktu berjam-jam, mereka memutuskan untuk pulang. Gadis cantik bernama Liana sudah di beri izin kedua orangtuanya untuk mengajar di pondok Al-Hidayah. Tentu saja ikut duduk di dalam mobil, mobil melaju membawa mereka kearah tujuan.


"Jadi sebenarnya, selain mengajar, Umi juga ingin kamu melatih santri-santri untuk bernyanyi, Liana. Kebetulan, Pondok pesantren Al-Furqon mengadakan perlombaan antar sepuluh Pesantren di kota ini bergelar tiga hari. Di sana banyak lomba-lomba yang ditandingkan, salah satunya Qasidah. Liana bisa membantu bukan?" jelas Umi Laila menyunggingkan senyum manis.


Liana, gadis berniqab dengan sentuhan warna cokelat di bawah matanya menyahut "In Sya Allah, Umi. Liana juga tidak terlalu mahir dalam bernyanyi Qasidah."


Umi Laila terkekeh mendengar jawabannya "Umi tahu kamu bisa, Husein sudah banyak bercerita tentang kamu sewaktu kalian mondok di tempat yang sama kemarin. Kamu selalu menjadi juara Qasidahan bukan?"


Liana tersipu, tidak menduga ternyata pria dingin plus tampan seperti Husien pandai memuji seorang wanita "Husein berlebihan Umi."

__ADS_1


Hasan menyela pelan "Jadi Kak Liana dan Bang Husein saling mengenal, Mi?"


"Iya, San. Kak Liana ini pernah mondok di pesantren yang sama dengan Abangmu," jelas Umi.


"Ini adiknya Husein, Mi?" tanya Liana.


"Iya, namanya tidak jauh dari Husein, namanya Hasan."


Liana manggut-manggut "Oh begitu."


Hasan tersenyum fokus menyetir mobil, tiba-tiba saja sebuah ingatan lewat di benaknya.


"HASAN AWAAAS!" Pekikan keras Umar memekikkan telinganya.


"Ar-gh ...." Seperti biasa, Hasan menekan kepalanya kasar. Melihat kepadanya Umi Laila cemas.


"Hasan? Kamu baik-baik saja?"


Hasan menghentikan mobilnya, menempelkan kepalanya di sandaran kursi.


"BRUKK! SREET!" Semua ingatan itu terus lewat, suara gesekan jalan raya, dentuman keras mobil menyakiti kepalanya.


"Hasan?" Umi mengangkat kepalanya, lagi-lagi ada bercak darah di kening putihnya yang terlapis perban "Hasan?"


"Hasan Kenapa, Umi?" Liana ikut cemas mengulurkan sebotol minuman padanya "Minum dulu."


Umi mengambil meminumkan putranya. Berselang beberapa menit Hasan menghela nafas berat "Hasan melihat sebuah kecelakaan, Mi"


Umi menggeleng keras "Sudah, Umi saja yang menyetir. Hasan istirahat di kursi belakang."


Hasan mengangguk mengerti, mengganti posisi duduknya dengan Umi. Setelah keadaan baik, mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang.


#Next


Terimakasih selalu menyempatkan waktu untuk membaca, sehat selalu dan semoga selalu dalam lindungan Allah ❤️

__ADS_1


__ADS_2