
Datanglah jika kau mau, aku sudah siap melibatkan hatiku untuk menjemputmu, cinta (Muhammad Hasan Al-asrof)
_______________
"Jadi, Fisya. Sepulang dari sini, kamu mau memberikan alamat rumah kamu kepada saya?"
Deg!
Sontak Fisya mendongak, menatap Husein dari samping pria itu tidak juga memandangnya.
"Mm ... saya duluan ya, Kak Husein, Mbak Fisya. Assalamualaikum?" Saida yang merasa tidak enak segera memutar roda kursinya untuk meninggalkan mereka berdua.
"Saida, di sini saja." Fisya menahan kursinya "Tidak baik kami hanya berdua disini," sambung Fisya.
Berat hati, akhirnya Saida menurut tetap ditempat menjadi peneman keduanya.
"Untuk apa Kak Husein alamat rumah saya?" tanya Fisya menunduk.
"Itu biar menjadi urusan saya. Pikirkanlah terlebih dahulu, apa mau memberikannya atau tidak. Saya permisi, assalamualaikum?" Singkat, hanya itu perbincangan keduanya, Fisya dan Saida menyahut salamnya, sebelum akhirnya Husein berlalu.
🌷
Gerimis kecil mengguyur wilayah pesantren, membuat semua kegiatan terpaksa ditunda terlebih dahulu. Segerombolan santri berbusana muslim berlarian kesana-kemari mencari tempat berteduh.
"Cepat, San. Aku tidak rela basah kuyup." Umar berlari, beriringan bersama Hasan disebelahnya.
"Kamu kira aku rela?" Sedikit terkekeh, Hasan menjerit keras.
Rintikan air hujan semakin terdengar deras. Benar saja beberapa menit setelah gerimis, halaman pesantren sudah di guyur air hujan yang lebat.
Tidak bisa menuju tempat peristirahatan, Hasan dan Umar berteduh di depan mesjid Al-Furqon. Berdiri di terasnya, mengedarkan pandangan ke segala penjuru halaman luas ini.
Mengatupkan kedua tangan kedepan dada, Umar membuka bicara "Sejuk sekali."
Menggesekkan kedua telapak tangannya, guna menciptakan rasa hangat, Hasan menyahut "Yang turun air, makanya sejuk. Coba pikirkan kalau yang turun api, pasti hawanya panas."
Mereka berdua terkekeh kecil, masih memperhatikan beberapa santri yang berlalu-lalang di hadapan mereka mencari tempat berteduh.
"Dulu, aku pernah berharap bisa mondak disini, San. Selain terkenalnya nama Al-Furqon ini didunia santri, aku juga tertarik dengan tempat-tempat indahnya disini." Umar tersenyum, mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Lalu sekarang, kamu menyesal mondok di Al-Hidayah?" tanya sinis Hasan.
"Tentu saja tidak, disana ada kamu, Ustadz Harun dan Umi Laila. Kebaikan kalian tidak bisa membuat aku berpaling."
Sekali lagi gema tawa pecah di selingi mereka berdua.
"San, San. Lihat kesana." Perhatian Hasan teralih, mengikuti arah jari telunjuk Umar yang terarah "Kasihan dia."
"Saida?"
Mata Hasan membulat sempurna, Saida terjebak di antara derasnya hujan yang menyerang. Ia tampak pucat, berusaha keras memutar roda kursinya yang tidak bergerak.
__ADS_1
"Saida ...."
Tidak berpikir panjang Hasan langsung berlari menghampiri Saida, tidak peduli pada air hujan berhawa sejuk yang sudah berhasil membasahi baju dan sarungnya.
"Ha-hasan?" Mencoba menghentikan tindakannya, Umar menjerit keras memanggil namanya, namun tetap saja Hasan bersikeras untuk menolong Saida.
"Saida?" Hasan berdiri tepat didepannya, ia berjongkok mengimbangi tinggi Saida.
Saida menatap, bibirnya gemetar, wajahnya begitu pucat "Ha-hasan?"
"Tidak apa-apa, kamu pasti baik."
Sakit, bercampur haru. Saida terdiam, menatap dalam wajah seri Hasan. Hasan yang berusaha mengambil kerikil berukuran sedang yang menjadi penghalang jalannya sang roda.
Saida menangis, dia menangis di antara tumpukan air hujan yang membasahi pipinya.
"Dasar buta! Saida itu lumpuh, tidak sepertimu! Mana mungkin dia bisa mengganti posisi kamu di hati saya, Sya!"
Tidak pernah mampu ia lupakan, gema nyaring suara Hasan saat menolaknya mentah-mentah hari itu. Hari dimana ia pertama kalinya mengerti, apa artinya rasa sakit. Dan hari ini, ia kembali mengerti arti dari kenyamanan, ketika Hasan, pria yang sama menjanjikan sebuah perlindungan untuknya.
"Batu tidak berguna!" Hasan melempar keras kerikil di genggamannya, membantingnya begitu jauh, ia menatap mata hitam Saida, Saida yang masih terpaku memandangnya. Untung saja air hujan menimpa wajahnya, menyembunyikan air matanya yang ikut mengalir.
"Kamu pucat, ayo berteduh." Begitu lembut, begitu menyayat. Hasan mendorong kursi roda yang ia duduki untuk pertama kalinya, tidak peduli pada keadaannya sendiri.
Hasan membawanya ke teras mesjid, tempat dimana Umar menunggu dan memperhatikan keduanya sedari tadi.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kepalamu sakit? Apa kamu merasa begitu kedinginan? Apa--"
Hasan menghela tertahan mendengar jawabannya, Umar menyela "Bajumu basah, kau bisa sakit, San."
"Aku tidak apa-apa. Tetapi Saida, dia pucat dan begitu kedinginan," sahut Hasan, terus memandangi wajah putih Saida.
Saida tidak mampu berucap, ia menunduk menetralkan rasa di jantungnya.
"Sapu tangan itu ...." Teringat, Hasan meraih sapu tangan biru di sakunya "Sapu tangannya ikut basah. Huft!"
Hasan mendengus kesal, memeras sapu tangan biru yang dipenuhi air. Saida menoleh padanya, menatap sejenak wajah kesal Hasan.
"Tidak apa-apa, Hasan." Hasan mendongakkan kepalanya memandang kepada Saida yang memutuskan untuk mengusap wajah basahnya dengan tepian hijab lebar yang ia kenakan.
Suasana hening.
Hanya terdengar rintikan air hujan yang menjadi nada tak berirama. Umar mematung ditempatnya, begitu pula Hasan. Sementara Saida, ia masih berusaha menetralkan perasaan campur aduk di hatinya. Ingin sekali pergi, namun derasnya hujan di hadapannya, memaksanya untuk tetap duduk di sebelah, Hasan. Mengapa takdir selalu menjebak mereka dalam situsi dan tempat yang sama? Apakah ini permainan, atau ketetapan?
"Saida?" Saida menoleh pada suara lembut Hasan, Hasan tersenyum menggesek kedua telapak tangannya "Cobalah, rasanya hangat. Siapa tahu bisa mengurangi rasa dinginmu."
Saida mengalihkan pandangannya kepada Umar, Umar tersenyum manis kepadanya sambil mengangguk pelan. Saida menyahut "Oya?"
Hasan mengangguk "In Sya Allah."
Sedikit ragu, telapak tangan Saida mulai merapat, ia mulai menggesekkan kedua telapak tangannya bertempo pelan. Merasa hangat, Saida mempercepat tempo gesekannya "Bagaimana?"
__ADS_1
Saida mengangguk "Kamu benar, terimakasih."
Hasan tersenyum, tidak lagi menyahut. Suasana kembali hening, suara rintikan hujan pun semakin mengecil. Beberapa menit kemudian, gerimis kecil meredakan derasnya hujan tadi.
"Seperti hujan sudah mulai reda. Saya permisi dulu." Saida tersenyum bergantian memandang Hasan dan Umar yang mengangguk.
"Baiklah, pilihlah jalan yang mulus. Takutnya rodamu tersangkut lagi seperti tadi," ucap Hasan.
"Sudah dua kali kamu menolong saya, Hasan. Terimakasih, saya tidak bisa membalasnya," sahut Saida.
Hasna terkekeh sambil menggeleng pelan "Masya Allah, tidak perlu, Saida."
"Terimakasih, assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam."
Saida memutar roda kursinya mulai meninggalkan Hasan dan Umar.
"Mm, Saida?"
Saida berhenti, menoleh ke belakang melihat wajah Hasan menyambutnya di sana "Ya?"
"Ganti bajumu, nanti masuk angin." Hasan tersenyum sipu menundukkan kepalanya.
Entahlah, Umar pun bisa melihat Saida juga tersipu malu di sana "Pasti, terimakasih, San."
Hasan mengangguk, mempersilahkan Saida untuk kembali melanjutkan perjalanannya. Saida menurut, dan segera memutar kembali roda kursinya. Hasan baru bisa menatap setelah punggung itu semakin jauh.
"Kau juga perlu ganti baju, ayo." Umar merangkul pundak sahabatnya, membawanya melangkah beriringan. Hasan tidak menolak, meskipun pikirannya belum sepenuhnya ada di sini, tentu saja masih tertinggal saat ia bersama Saida barusan.
"Hasan?"
Deg!
Langkah keduanya terhenti, segera Hasan berbalik badan begitu pula Umar.
"Saida? Ada apa?" Saida tersenyum manis di ujung sana, menoleh kepada Hasan.
"Tidak ada, hanya ingin meminta sapu tangan biru itu kembali. Bukankah kamu memberikannya waktu itu?" tanya Saida lembut.
Hasan terkekeh pelan, berdebar kencang, jantungnya benar-benar ikut berbicara sekarang. Ah, ada apa ini?
"Setelah kering, saya akan mengembalikannya," sahut Hasan sedikit menjerit.
Saida mengangguk pelan, terdiam beberapa saat untuk tersenyum sipu. Ia kembali memutar roda kursinya dan benar-benar berlalu dari tempat itu.
Hasan mematung di tempat, menatap bekas Saida di ujung sana 'Ada apa denganku? Dengan hatiku? Hujan kali ini, berbekas di ingatanku. Untuk kita, Saida.'
"Saida sudah pergi, ayo kembali ke asrama putra." Umar terkekeh kecil melihat tingkah Hasan. Kembali menyeretnya pergi dari sana.
#Next
__ADS_1