Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part_ 19 mimpi


__ADS_3

Gelap, tidak bercahaya sedikit pun. Bahkan lentera pun tidak ingin menerangi jalan yang ia lalui. Saida terus memutar roda kursinya, tidak tahu dimana ia berada dan kemana tujuannya.


Sejuknya angin malam, menerobos ke dalam sela-sela kulitnya yang dilapisi gamis syar'i. Tidak menyerah, Saida terus menuntun arah.


Secercah sinar datang, menyilaukan pandangannya. Saida berhenti, menutup matanya dengan lengan, dan membukanya kembali untuk melihat apa yang ada di hadapannya.


Deg!


Sesak, nafasnya tak beraturan. Wajah seri seseorang muncul di sana, tersenyum manis kepadanya dan menatapnya penuh cinta.


"Ha-hasan--?" Saida mematung.


Tidak bicara, Hasan hanya menatapnya begitu dalam dan penuh makna. Memakai baju putih panjang menutupi mata kaki, tubuhnya di lapisi sinar tidak biasa. Menjadi penerang dari kegelapan malam.


"Kau datang?" Saida tersenyum.


Hasan hanya terdiam ditempat. Masih kosong menatapnya.


"Aku tahu kamu pasti akan datang, kedua orangtuaku sudah menunggumu, ayo?" ajaknya lembut.


Tidak, Hasan menggeleng. Bulir bening tergenang di pipinya, Hasan menangis masih menatap Saida membungkam.


"Kamu baik-baik saja? Kamu menangis?" cemas Saida.


Sekali lagi Hasan menggeleng pelan, tiba-tiba ia berbalik badan menyusun langkah pergi darinya.


"Hasan?" Saida menjerit keras, memutar roda kursinya untuk mengejar Hasan yang mulai menghilang "Hasan? Jangan pergi, jangan tinggalkan aku!"


"Hasan?" Saida terduduk paksa dari pembaringannya. Nafasnya sesak, menatap sekeliling ruangan kamarnya yang hening. Ternyata ia hanya bermimpi saja.


"Astagfirullah," Saida menyentuh jantungnya yang berdegup tak karuan, mencari makna dari pesan yang Hasan sampaikan lewat mimpinya barusan.


Ia menangis, menangis dalam diam. Rasa sakit saat Hasan meninggalkannya di dalam mimpi menyisakan rasa pedih di relungnya.

__ADS_1


"Hasan ... kau dimana?"


🌷


"Satu hari lagi, jika Hasan benar-benar tidak datang, Ayah akan menerima lamaran, Ustad Syafiq!" Gema nyaring suara bariton Ayahnya, memekakkan telinga Saida.


Ia berusaha menahan air matanya di pelukan sang Ibu, Ibu yang sepertinya mulai ikut tidak percaya pada Hasan lagi.


"Ibu rasa sudah cukup, Nak. Hasan benar-benar tidak memberikan tanda-tanda kedatangannya," sambung Ibu Mila.


Berulang kali, Saida beristighfar di hati, mencoba menenangkan dirinya untuk tetap percaya pada Hasan.


"Saida percaya, Hasan akan datang, Bu. Saida percaya," serak, Saida tidak tahan lagi, air matanya menetes dengan sendirinya.


"Jika benar begitu, dimana dia sekarang? Kenapa tidak juga memunculkan dirinya di sini?" cetus Ayahnya "Ayah menyayangimu, Nak. Ayah membesarkanmu bukan untuk di sakiti pria lain, Ayah ingin kamu bahagia, lepas dari segala derita yang menjadi santapanmu sehari-hari! Tolonglah, Nak. Jangan kecewakan kami lagi dengan kepedihan!"


Saida mengusap air matanya, jauh di lubuk hatinya ia pun tahu, tidak ada orang tua yang tidak ingin melihat anaknya bahagia. Kendatipun, ia memiliki keterbatasan atau perbedaan.


"Baiklah, kamu boleh istirahat." Saida mengangguk, menurut pada Ayahnya.


Memutar roda kursinya ke dalam kamar, membawa sederet kisah dengan Hasan. Benar-benar menjadi benang kusut yang sulit untuk di perbaiki. Tiba didalam, ia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Ustad Harun, mungkin hanya ini satu-satunya cara untuk mengakhiri semua kebimbangannya.


Tut ... Tut ....


Telepon berdering,


Umar yang kebetulan membersihkan rumah Ustad Harun, selagi mereka pergi ke rumah sakit menemani Hasan segera menerima telepon darinya.


[Assalamualaikum?]


"Waalaikumsalam."


[Maaf, dengan siapa? Ustad Harun-nya sedang tidak dirumah,] tanya Umar sopan.

__ADS_1


"Saida, saya Saida."


Deg!


Umar menelan salivanya, mendengar nama itu pecah nyaring ditelinganya [Oh, ya Saida? Ada yang bisa saya bantu?]


Tidak membuang waktu, Saida langsung bertanya "Apa kabar, Hasan?"


Umar terdiam, ia tahu Saida pasti membahas soal ini. Sebab, ia menjadi saksi cinta mereka kemarin.


"Halo?"


[A, ya. Hasan-dia, dia--]


Umar terdiam tidak tahu harus menjawab apa, namun pesan Ustad Harun sewaktu di rumah sakit menyeruak dalam ingatannya "Jangan beritahu siapapun, tentang keadaan, Hasan. Saya tidak ingin mereka cemas."


Benar, jika Saida tahu keadaan Hasan saat ini, Umar rasa gadis itu akan syok berat, berbohong adalah pilihan yang tepat.


"Hasan, kenapa?" desak Saida.


[Hasan, baik.]


Deg!


Saida menekan dadanya yang remuk, sesak dan terasa menyayat. Membiarkan air matanya menetes, segera ia memutuskan sambungan telepon, menangis sejadi-jadinya disana.


Mengutuk diri sendiri, kenapa ia terlalu bodoh? Ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Sedari dulu, Hasan tidak pernah menyukainya, apalagi menginginkannya. Hanya karena sebuah pengakuan cinta, Ia begitu cepat percaya, bahkan setelah beribu air mata luka Hasan keluarkan dari matanya.


Saida menangis, kesalahan apa yang sudah ia lakukan? Hasan di sana baik-baik saja, benar-benar tidak berniat untuk menepati janjinya. Apakah ini cinta yang ia punya? Hanya sekedar pengakuan tanpa pembuktian?


'Harusnya aku tidak percaya padanya!'


#Next

__ADS_1


__ADS_2