
#Cinta_Untuk_Saida
#Pertemuan
#Part_01
Jika cinta adalah sebuah rasa yang hadir tanpa aba-aba, maka perasaan adalah wujud dari kehadirannya (Muhammad Hasan Al-asrof)
--------
Satu Minggu kemudian. Mengawali sebuah kisah cinta.
Langit masih cerah, menampakkan birunya begitu indah. Dua pria berbusana muslim dengan peci menutupi kepala, mondar-mandir di toko buku untuk membeli beberapa buku keperluan mereka.
Setiap hari Minggu, para santri diberikan izin untuk keluar. Hasan memutuskan untuk kemari, ditemani Umar sahabat sekamarnya.
"Mencari buku apa, San? Aku bisa membantunya," tanya Umar.
Masih memilah mana yang terbaik dari semua buku di sana, Hasan menyahut "Apa saja, yang penting di dalamnya terdapat pelajaran hidup, entah itu tentang keikhlasan atau kebajikan."
Hasan, pria yang di vonis mengalami amnesia untuk beberapa waktu setelah mengalami kecelakaan tempo lalu, sepertinya banyak berubah. Ia yang dulunya dikenal angkuh, sombong dan tidak peduli pada orang lain malah berlaku sebaliknya sekarang.
BRUUK!
Perhatian keduanya teralih.
Bola mata hitam milik pria berbusana koko, mencari keberadaan sumber suara keras tadi, Hasan berbalik badan seorang wanita berkursi roda berada di antara tumpukan buku yang terjatuh dari tempatnya.
Hasan memperhatikan dengan iba, bagaimana wanita cantik sepertinya kesulitan berdiri, mengembalikan buku di rak atas.
"Sebentar, Umar."
Hasan melangkah menghampirinya. Sementara Umar, ia mematung di tempat memperhatikan keduanya dari jauh. Jelas, ia mengenal perempuan berkursi roda itu, yang tidak lain adalah, Saida.
"Maaf, Mbak?"
__ADS_1
Saida berbalik, menatap wajah tampan Hasan. Mereka bersitatap lekat, seolah waktu berhenti berputar. Bagai mimpi takdir malah mempertemukan keduanya kembali, sebagai dua asing yang berada di titik pertemuan pertama.
"Maaf, jika diizinkan saya bisa membantu." Lamunan Saida buyar, mendengar pernyataan Hasan. Pria angkuh, yang berhasil mengobrak-abrik hatinya kemarin, sekarang ada di hadapannya. Bersifat seperti malaikat, seloah lupa pada peristiwa tempo lalu.
"Saya bisa sendiri!" Saida bersikeras untuk berdiri, membiarkan egonya menguasai diri.
Umar menatap iba keduanya, pura-pura sibuk dengan buku. Berharap Saida tidak mendapatinya. Hasan mematung di tempat, hanya memandang aneh pada gadis asing di hadapannya ini, tidak berani bertindak selagi tidak diberi izin.
Saida berusaha berdiri, menggenggam pegangan kursi rodanya "Eh?"
Namun alhasil, ia gagal hampir terjatuh kelantai. Hasan menahan kursinya hingga tubuh ramping yang tertutup gamis longgar itu mendapat posisi baik di kursi.
"Maaf," ucap Hasan pelan.
Saida tahu, memendam rasa sakit tidaklah baik. Meskipun ingin sekali menangis setiap kali mengingat perlakuan pria ini kemarin, ia tetap harus bersikap baik, demi menjaga iman yang ia punya.
'Apa yang terjadi padanya? Apa Hasan memang tidak mengenaliku, atau hanya berpura-pura menjadikanku asing?' batinnya.
Saida menunduk, membiarkan Hasan memunguti satu-persatu buku di lantai. Tidak bisa menahan diri, Saida memutar roda kursinya meninggalkan Hasan dengan kebingungan.
Melihat kembali kearah yang sama, Umar melangkah mendekati Hasan "Kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi?"
"Alhamdulillah, baik. Tadi ada wanita yang menjatuhkan buku-buku ini. Dan anehnya dia pergi tanpa berucap apapun, seperti melihat maling saja." Hasan terkekeh kecil.
'Karena kalian saling mengenal, jika kamu sedang tidak lupa ingatan, mungkin kamu tidak akan menolongnya, San' batin Umar.
Umar menolong Hasan menyusun buku "Biar kubantu."
🌹
Jalan raya dipenuhi kendaraan-kendaraan yang melaju. Hasan dan Umar beriringan di pinggirnya, bertukar cerita kecil sesekali mereka tertawa.
Pandangan Hasan tertuju pada seorang wanita paruh baya, duduk di pinggiran jalan menadahkan kedua tangannya kedepan. Hasan mengajak Umar menghampirinya.
"Assalamualaikum, Bu?" sapa ramahnya.
__ADS_1
Kumal, buta dan tua. Pengemis jalanan itu menjawab "Waalaikumsalam, Nak."
Hasan duduk di sampingnya, menggenggam beberapa jumlah uang yang ia tutup begitu rapat "Ada sedikit rezeki, semoga berguna, Bu."
Pengemis tua meraih uang, menggenggam tangan Hasan dengan erat "Terimakasih, Nak. Semoga Allah membalas kebaikanmu berlipat ganda."
"Aamiin," sahut Hasan.
Umar mematung melihat kepadanya. Selama bertahun-tahun berteman baik dengan Pria berparas tampan yang bernama Hasan, baru kali ini ia melihat sisi baik darinya. Terharu, Umar malah bersyukur ia mengalami amnesia. Berharap setelah sembuh, Hasan tetap akan selalu seperti ini.
Hasan menepuk pundak sahabatnya "Ayo, Mar"
Umar mengangguk, melanjutkan perjalanan mereka. Di seberang jalan raya, bola mata seseorang mendapati keberadaannya. Saida terenyuh menyaksikan kebaikan Hasan, mengapa pria sombong itu berubah? Dalam hitungan satu Minggu, setelah kepergiannya?
'Apa yang terjadi padanya? Bukankah Hasan adalah pria yang selalu mengukur seseorang dari fisiknya? Dimana sikap dinginnya, sikap tak pedulinya selama ini? Apa dia Hasan? Atau bukan?' Saida membatin, mengusap bulir bening yang sudah keluar dari matanya.
Saat bersamaan, Hasan menoleh padanya, Melihat itu Saida menunduk membuang muka darinya, Hasan ikut membatin 'Wanita itu? Apa dia sedang memperhatikanku?'
"Kenapa kamu menolongnya, San?" Umar membuka bicara, mengalihkan pandangan Hasan.
Hasan tersenyum sembari menjawab "Sebagai rasa syukur, karena bukan kita yang Allah pilih untuk menjalani kehidupan sepertinya."
"Jikapun seandainya aku, atau kamu yang ada di posisi mereka, bagaimana?"
Hasan berhenti, menyentuh pundak kekar Umar "Bukan kita yang memilih, tapi Allah yang memberikan. Jika kamu bertanya pada Ibu tadi, apa dia yang memilih takdir itu?" Hasan menggeleng "Tidak, Mar. Allah adalah sebaik-baiknya skenario kehidupan manusia. Siapa yang tabah dan ikhlas menjalankan perannya, maka dialah pemenangnya. Aku atau kamu mungkin tidak akan sanggup memerani posisi tadi, itulah sebabnya bukan kita yang Allah pilih untuk menjalaninya."
Umar manggut-manggut "Terimakasih untuk pelajaran berharga ini, San."
Hasan terkekeh "Ayo pulang."
Mereka melangkah beriringan.
#Next
Terimakasih selalu menyempatkan waktu untuk membaca
__ADS_1