Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part _ 25 first love


__ADS_3

Tak ada tanya dalam cinta, mengapa dan kenapa? Sebab, ia datang tanpa alasan (Saida Nur Fauziana)


_________


Gerimis kecil mengguyur kota, menghilangkan debu-debu jalanan. Angin lembut yang datang berbarengan, tidak lupa berperan. Menjadikan suasana dingin begitu terasa.


Bulir-bulir air hujan, jatuh dari atas dahan pohon yang saling bergoyang. Detik demi detik, rintiknya semakin terdengar besar. Kendaraan-kendaraan melaju, begitu pun dengan para pejalan kaki yang berlarian.


Akankah cinta suci yang sempat ternodai irisan luka, akan meninggalkan bekas yang menyisakan bahagia? Diantara jejak kehidupan yang terlewati, tidak jarang keajaiban datang, bersama keinginan dan impian yang terwujud menjadi nyata.


"Dingin?" Hasan membuka bicara, menatap wajah nan cantik milik gadis beriris hitam itu.


Berteduh, di salah satu cafe depan toko buku. Hasan di temani Umar akhirnya tiba tepat waktu di sini. Menemukan Saida yang lebih dulu ada, sendirian di temani sebuah buku di genggaman.


Saida mengangguk pelan, masih menunduk memainkan tepian jilbab lebarnya Meksipun ini bukan kali pertamanya berbicara langsung dengan Hasan, namun degupan kencang itu, terus saja ada.


Kebetulan, Hasan memakai jaket kulit hitam. Segera, ia membuka dan mengulurnya pada Saida "Pakailah."


Saida menggeleng pelan "Tidak perlu, terimakasih. Kamu lebih membutuhkannya."


Umar menghela nafas panjang, selama hampir setengah jam duduk di sini, menyeruput secangkir teh yang hampir habis. Mereka berdua baru membuka bicara.


"Kamu kesini sendirian?" tanya Hasan pelan.


Masih sama, Saida hanya mengangguk pelan "Suamimu tidak ikut?"


Saida mendongakkan kepalanya, menatap iris hitam milik Hasan "Menurutmu?"


Mendengar pertanyaan itu, Hasan mengangkat kedua bahunya sambil terkekeh pelan "Apa kamu bahagia?"


"Apa terlihat begitu?" Saida kembali membalikkan pertanyaannya.


Hasan tersenyum miring, memandang sendu menembus kaca mata miliknya "Aku harap."


Beberapa detik terdiam saling bertukar pandangan, mereka berdua kembali menunduk. Ributnya rintikan hujan di luar masih bergema nyaring, sesekali Hasan pun menyeruput kopi hangat yang sudah di pesan.


"Bicaralah, kamu mau mengatakan apa padaku?" tanya Hasan datar.


Menghela nafas kasar, Saida menelan salivanya. Ia menunduk, memejamkan matanya sebentar, kemudian membukanya lagi dan mengarahkan tepat pandangannya kepada Hasan "Aku--aku senang, masih bisa melihatmu."


Hasan tersenyum manis, hatinya berdebar kencang. Mengingat, Saida sudah menikah, Hasan berusaha menyingkirkan perasaannya "Aku pun senang, bisa bertemu lagi denganmu."


"Darimana, kamu tahu aku sudah menikah?"


Hasan mengalihkan pandangannya kepada Umar "Umar menemaniku kerumahmu, orang tuamu yang mengatakannya."


"Apa kau percaya?"

__ADS_1


Deg!


Jantung Hasan terenyuh, memandang kembali netra hitam di balik kaca itu. Sesuatu mengganjal di hatinya, mendengar pertanyaan Saida barusan.


"Tidak ada alasanku untuk tidak percaya. Aku telah menyakitimu berkali-kali, kurasa kehilanganmu adalah hukuman yang baik untukku, Saida."


Saida tersenyum manis "Kamu memang orang pertama, yang mengenalkanku pada luka, tapi kamu juga adalah orang pertama yang mengajariku arti cinta."


Hasan mengusap wajahnya gusar "Itu tidak lagi bermakna, Saida. Kita sudah tidak pantas, bicara soal cinta."


Saida tersenyum "Matamu bicara jelas, apa masih ada cinta untukku?"


Umar terdiam gugup, apa-apaan ini? Kenapa ia harus terjebak di situasi seperti ini? Umar mengambil buku di samping meja, pura-pura sibuk membacanya. Hanya ini, satu-satunya cara untuk melarikan perhatian.


Hasan menghela nafas panjang "Saida, tolonglah ...."


"Aku belum menikah, Hasan."


Deg!


Dengan cetusnya Saida berucap, membuat kedua pria itu terbelalak kaget.


"Aku membatalkan pernikahan itu, dua menit sebelum ijab kabul."


Plak!


Sesak, Hasan menampar pipinya beberapa kali. Berharap ini bukan mimpi lagi, yang memberinya seribu harap, lalu menjatuhkannya setelah bangun.


Saida menggeleng keras "Aku bahagia, kamu sudah siuman dari koma."


Kening Hasan mengernyit bingung "Ka-kamu---"


Saida mengangguk lagi "Karena merasa bersalah telah berbohong, Umar menghubungiku tepat di hari pernikahanku. Dia menceritakan kondisimu, San. Setelah tahu, aku tidak berpikir lagi, aku membatalkan pernikahan kami tepat di depan penghulu."


Hasan yang masih berwajah syok, mengalihkan pandangannya kepada Umar. Bibirnya bergetar, bertanya pada Umar "Kenapa kamu tidak bilang padaku?"


"Aku juga tidak tahu, San. Saida memutuskan sambungan teleponnya, setelah aku bercerita." Umar menjelaskan sekenanya.


Hasan menghela nafas panjang, kembali memandang kepada Saida "Kamu berhasil, membuat aku mati rasa, Saida."


(Begitupun para pembaca, mereka sampai menangis karena author-nya tega banget, rilis beberapa part sedih🤣 Jangan di tabok ya author-nya, maaf ✌️)


"Ini bukan mimpi lagi, kan?" tanya Hasan memastikan.


Saida menggeleng, ingin rasanya mengusap air mata Hasan yang jatuh tiba-tiba. Hasan terkekeh kecil, mengusap habis air matanya, ia malu harus menangis di depan Saida. Bukankah, biasanya pria-lah makhluk yang jarang sekali menangis?


"Tapi ayahmu bilang, kamu sudah menikah. Apa kamu berbohong untuk membuat Hasan bahagia saja?" Umar menyela keras.

__ADS_1


Wajah cerah Hasan, langsung berubah murung mendengar pertanyaan Umar. Apa yang Umar ucapan memang ada benarnya.


Saida menghela nafas kasar, memperbaiki kacamatanya sebentar "Mereka marah besar karena keputusan yang kuambil, aku di usir dan di pulangkan ke pondok. Itulah sebabnya, Ayah berbohong kepada kalian, selain membenci Hasan, karena menjadi alasan kuatku membatalkan pernikahan itu, Ayah juga tidak ingin melihatku lagi."


Umar menggeleng pelan, sementara Hasan hanya bisa menghela tertahan, tidak menyangka demi menunggunya Saida rela melakukan pengorbanan besar seperti ini.


"Aku akan mengantarmu pulang," tangkap Hasan cepat.


"Bagaimana caranya?"


"Karena aku, kamu melakukannya. Untuk itu, aku akan bertanggungjawab. Kamu masih mencintaiku, kan?"


Saida mengangguk pelan, di sela air mata kesedihannya "Kau masih meragukannya?"


Dengan cepat, Hasan menggeleng "Tidak ada alasan untuk meragukanmu, aku bertanya untuk memastikan, jika kamu masih mencintaiku, aku siap melanjutkan keinginan baik kita untuk segera menikah."


Saida tersenyum lebar, menghapus tetes air matanya "Aku percaya, kamu akan datang untukku, San. Itulah alasanku berani mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan itu."


"Terimakasih, masih setia menungguku, dan percaya padaku. Ana uhibbuka fillah, Saida."


Saida mengangguk pelan "Pergilah, meminta restu orang tuaku, aku hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan kemudahan. Selebihnya, aku serahkan padamu dan kepada pemilik cinta."


Hasan tersenyum manis "Aku tidak lagi berjanji, tapi aku akan memastikan, kali ini ... aku tidak akan membiarkan kamu lepas."


Saida mengangguk sambil tersenyum manis "Aku selalu percaya cintamu, Hasan. Aku harus pergi sekarang."


"Kami akan mengantarmu pulang," sambung Umar.


Hasan mengangguk setuju, melihat itu Saida menunduk "Terimakasih, tapi baiknya, aku pulang sendiri. Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam. Hati-hati, Saida. Jaga dirimu untukku," sahut Hasan.


Saida mengangguk pelan, segera memutar roda kursinya dan berlalu dari sana.


"Saida, tunggu dulu." Hasan mencegahnya, Saida berhenti menoleh kepadanya.


Hasan tersenyum, berdiri dari kursi duduknya menggenggam jaket tadi.


"Ada apa, Hasan?"


"Ini," Hasan mengulurkan jaket itu kepadanya "Udara masih sejuk, meskipun hujannya sudah reda. Aku tidak ingin kau kenapa-napa, sebisaku, aku akan melindungimu. Entah itu dalam doa, atau nyata."


Saida tersenyum haru "Terimakasih, Hasan."


Hasan mengangguk, membalut tubuh kecilnya ke dalam jaket "Sampai bertemu lagi."


#Next

__ADS_1


Tinggal menunggu restu, Saida dan Hasan akan segera menikah. Tapi, jangan tenang dulu, tidak semudah itu meminta restu loh😅


Yang udah pernah mengalaminya pasti tau rasanya, kan?🤣


__ADS_2