
-Pernahkah kamu berfikir, ada seseorang yang mencintaimu sedemikian bodohnya?
Menunggumu, tidak memandang luka dan lapuknya sang waktu. Sebut saja, dia adalah aku:(
___________
Jam menunjukkan pukul setengah dua malam, Saida masih bersimpuh di atas sajadah, memainkan butiran tasbih di jarinya. Bibirnya bergetar, memuji asma Allah dalam kesunyian yang membalut keheningan malam.
Belum terlalu banyak santri yang berdatangan ke mesjid Al-Furqon, juga ingin menjalankan salat malam tentunya.
Saida tidak berkutip, ia terdiam di tempatnya. Sesekali, sang jalan kehidupan meracau seperti benang kusut di ingatannya. Entah itu tentang sebuah kebahagiaan, kesedihan, ataupun pengorbanan.
Banyak yang gagal dalam memperbaiki diri, bukan karena Allah yang menghendaki. Sebab, ujian datang sebagai alat ukur seorang insan, setinggi apa taqwa dan iman yang ia punya.
Ada yang di uji dengan ekonomi, kesengsaraan, kepahitan hidup, atau keterbatasan. Sebagaimana, yang sudah di tentukan di dalam kehidupan Saida sekarang.
Berbeda dari yang lain, berteman begitu baik dengan kursi roda, tidak membuatnya merasa terhina. Sebab, karena adanya Allah, hal yang sulit dan pahit sekalipun bisa berubah menjadi indah.
Cukup lakukan yang terbaik, karena pemeran utamanya adalah dirimu sendiri. Mereka hanya bisa menonton, memberikan nilai bahkan komentar perihal dirimu. Perbaiki akhlak, karenanya kamu akan jauh lebih baik dengan akhlak yang menarik.
"Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (Q.S At-Tin : 4)
"Doakan saya, San. Semoga menjadi pemenang di lomba kaligrafi, ya?" Gema suara Umar yang tidak juga terlalu nyaring terdengar di telinga Saida.
Entah ini kebetulan, atau karena kekuatan cinta, Saida membuka matanya sejenak menghentikan jarinya.
"Aamiin, aku selalu berdoa untukmu, Umar." Hasan menyahut begitu pelan, mampu mendegupkan keras jantung Saida tanpa aba-aba.
Saida menoleh ke belakang.
Deg!
Mendapati Hasan yang juga mematung membalas pandangannya. Hasan menelan salivanya, berusaha menahan diri untuk tidak tergoda pada kecantikan wajah ayu gadis bermukena hitam di sana.
Begitupun Saida, ia kembali menunduk, menetralkan racun yang tiba-tiba membuat nafasnya sesak.
'Hasan, pernahkah kamu berfikir, ada seseorang yang mencintaimu sedemikian bodohnya? Menunggumu, tidak memandang luka dan lapuknya sang waktu. Ya, sebut saja, dia adalah aku.'
"Ayo, berwudhu. Keburu subuh nanti." Umar menyeret lengannya, membawa Hasan jauh dari Saida.
'Allah, boleh kutitip rasa untuknya. Entah di atas ketidakpantasan atau kekurangan, aku pikir aku menginginkannya.' Hasan membatin.
Tidak ada yang setia seperti pagi, yang masih sudi menggandeng mentarinya agar bisa menemaninya menikmati kicauan burung yang bernyanyi merdu di atas sana.
Selesai salat Dhuha, para santri mondar-mandir di halaman pesantren, mempersiapkan kepulangan mereka nanti sore setelah salat Ashar.
Saida sudah siap, dengan kertas di tangannya, menggenggam nomor telepon sekaligus alamat rumah kedua orangtuanya untuk diberikan kepada Hasan.
__ADS_1
Benar atau tidak, percaya atau ragu, sedih atau senang. Saida tahu, jauh di lubuk hati terdalam, ia ingin kembali ke pondok pesantren Al-Hidayah lagi, sebagaimana dulunya.
Masih memutar roda kursinya dengan perlahan, ia berniat menuju taman, percaya bahwa lelaki yang ia cari ada di sana saat ini.
Terlihat dari jauh, dugaannya benar, Hasan di sana bersama Umar membaca buku sambil berbincang ringan. Saida tersenyum memperlaju dorongan kursinya agar tiba di sana secepatnya.
"Sore kita pulang, sebutkan satu hal yang berkesan bagimu selama di sini." Umar membuka bicara, masih fokus dengan bukunya.
Hasan terkekeh "Tidak bisa dua hal?"
Mendengarnya, Umar tersenyum miring "Baiklah, dua hal."
Ingin begitu mengetahui, Saida berhenti di balik pohon rindang, menunggu jawaban Hasan.
Hasan menghela nafas panjang, menurunkan bukunya sebentar, mengedarkan pandangannya kearah depan "Banyak mendapatkan ilmu, dan bertemu dengannya."
Segera, Umar menoleh ke samping memandangnya "Siapa?"
Hasan tidak langsung menjawab, ia meraih sesuatu di sakunya. Menunjukkan selembar foto bercoret pena pada Umar "Saida Nur Fauziana."
Deg!
Saida menyentuh jantungnya yang berdegup kencang. Bukankah nama itu miliknya? Ahh, apa mungkin ia hanya salah mendengar saja?
'Katakan sekali lagi, Hasan.' Pinta Saida.
"Saida Nur Fauziana, untuk pertanyaanmu kemarin, rasanya aku sudah mengetahui jawabannya. Ya, aku menyukainya." Hasan berucap serius.
Bulir bening jatuh begitu saja, apa yang ia dengar adalah benar? Hasan, seorang lelaki yang tidak pernah menginginkannya dulu, lelaki yang sesukanya memporak-porandakan hatinya dulu, hari ini jatuh cinta padanya?
Umar menghela nafas panjang "Kenapa kau ceroboh?"
"Maksudmu?"
"Tak seharusnya kamu memiliki perasaan yang lebih padanya."
"Kenapa? Oh, karena fisiknya? Begitu maksudmu?" cetus Hasan.
"Ck!" Umar mengetuk jidatnya sendiri "Bukan apa-apa."
"Umar," Hasan menyentuh pundaknya "Entah dulu aku mengenalnya begitu baik, atau sebaliknya. Aku hanya tahu, bahwa sekarang tidak ada yang lebih baik darinya untuk kucintai. Soal kekurangan, aku akan menyempurnakannya dengan kelebihanku, begitupun dia, akan menyempurakan kekuranganku dengan kelebihannya
Setelah aku berhasil, membawanya kembali ke pondok pesantren Al-Hidayah. Aku akan bicara padanya soal ta'aruf, setelah itu aku akan bicara pada Abi dan Umi untuk mengkhitabah Saida. Kau setuju, kan?"
Tergenang begitu banyak, Saida mematung ditempatnya, jika ini mimpi-mimpi bodoh itu lagi, maka perintahkanlah sang mentari untuk membangunnya sekarang.
"Apapun itu, aku berharap Allah selalu bersamamu, San." Umar tersenyum singkat padanya.
__ADS_1
Hasan terkekeh, mengusap wajahnya lembut. Namun pandagan matanya tepat mengenai Saida. Segera, gadis itu mengusap air matanya.
"Saida? Kemarilah."
Saida mengangguk, memutar roda kursinya mendekati Hasan dan Umar.
"Ini," Siada mengulur kertas itu padanya "Nomor telepon orang tuaku, dan alamat rumahku."
Berseri, begitu girang. Hasan meraih kertas di genggamannya "Terimakasih, Saida."
Saida mengangguk "Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam."
Saida memutar roda kursinya, berlalu dari tempat itu.
"Saida?"
Deg!
Ia berhenti, mencoba menahan senyumnya sekarang. Namun ternyata, tidak semudah menyembunyikan air mata. Ahh, semerah apa pipinya sekarang?
"Saida?"
Segera, ia menoleh ke belakang melihat Hasan yang sudah berdiri menghadap kepadanya.
"Ya?"
Hasan tersenyum malu "Sebutkan satu hal yang berkesan bagimu selama di sini."
Saida tersenyum, ia kembali menatap jauh kedepan masih berposisi membelakanginya Hasan "Tidak bisa dua hal?"
Mendengar itu, Hasan terkekeh kecil menggaruk tengkuknya pelan "Baiklah, hanya dua hal."
Saida tersenyum lagi, mengedarkan pandangannya ke atas dahan pohon yang saling bertengkar hebat karena angin di atas sana "Pertama, Karena bisa mengikuti lomba ceramah agama--"
"Kedua?"
Saida menoleh kepadanya "Ketika kukira aku istimewa. Terimakasih sapu tangannya."
"Maksudmu, yang kedua adalah, saat saya memberimu sapu tangan biru?"
Ahh, Saida benar-benar merasakan jantungnya berpacu begitu cepat, sapuan angin seolah memberikan warna merah merona di pipinya. Malu, ia kembali memutar roda kursinya meninggalkan Hasan dengan senyuman manis.
"Benar begitu?" Jerit keras Hasan.
"Iya," balas Saida, tidak berhenti memutar roda kursinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah." Hasan terkekeh kecil melihat punggungnya semakin jauh. Entahlah, Kenapa ia begitu bahagia.
#Next