
Rindu yang terlalu, ternyata dicemburui waktu. Hei, cintaku. Aku harap kau sehat selalu:)
______
Hasan menatap satu titik, dimana sapuan angin lembut membelai dedaunan di atas sana. Setelah tadi sore di izinkan untuk pulang, Hasan merasa sedikit lega.
Namun permasalahannya sekarang, bukan itu. Ini tentang Saida, Hasan amat merindukan gadis itu, gadis yang pernah ia janjikan sebuah cinta suci.
"Kamu mau menjalin hubungan ta'aruf dengan saya? Soal CV, saya akan mengantarnya ke rumahmu, saat saya menjemputmu kembali ke pondok pesantren Al-Hidayah. Kamu mau?"
"Demi Allah, saya mencintai kamu."
Waktu begitu cepat berjalan, membawa kisah yang tidak kunjung usai. Apakah Saida masih menunggunya di sana? Bersama cinta yang katanya ada. Atau, Saida telah menyerah, karena digantung terlalu lama?
"Hei."
Umar datang, menyentuh pundaknya. Hasan menoleh sambil tersenyum "Umar."
"Kenapa melamun? Jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu."
Hasan tersenyum "Besok, aku akan tetap mengunjungi Saida di kediamannya. Aku ingin tahu, apa dia masih menungguku."
Umar tertunduk, undangan pernikahan bertulis nama Saida membayang di benaknya "Bagaimana, kalau tidak?"
Hasan menghela nafas berat "Mungkin, karena aku tidak pantas untuknya. Aku masih ingat, bagaimana aku menolak bahkan menghinanya saat kami di jodohkan. Aku ikhlas, Mar."
Umar mengelus pundak kekar Hasan "Masih banyak, wanita yang lebih daripada, Saida. Jika dia menyerah untuk cintanya, kau bisa mencari lagi."
"Tidak semudah itu, Mar. Karena yang berperan di sini adalah hati, bukan logika. Aku akan menjelaskan padanya, apa alasanku tidak datang. Sekaligus meminta maaf, untuk masalalu suram yang ku hadirkan luka di hidupnya."
Umar mengangguk pelan "Kusarankan, sebaiknya kapan-kapan saja, kamu menemuinya, San--"
'Aku takut, keadaanmu kembali memburuk, saat kau tahu, Saida sudah menikah,' sambung Umar di hati.
"Satu bulan, Mar. Satu bulan aku menggantung hubungan kami, aku tidak bisa membiarkan Saida menunggu lagi," jelas Hasan sesak.
"Tapi, San--"
"Kau tidak akan mengerti, betapa takutnya aku kehilangan cinta, Saida. Jika kamu tidak mau menemaniku, tidak apa. Aku akan pergi sendiri, besok!"
"San--"
Hasan menyusun langkah pergi meninggalkan Umar di taman belakang pondok.
__ADS_1
🌷
Matahari menampakkan sempurna wujudnya, kicauan burung yang saling bertengkar hebat, berirama tanpa bernada. Menghiasi pagi yang di tunggu Hasan sejak tadi malam, ia tidak bisa tidur, terlalu banyak memikirkan Saida.
Setelah minta izin pada kedua orangtuanya, Hasan di temani Umar meninggalkan pondok dengan sebuah mobil. Meskipun awalnya tidak di izinkan, tapi akhirnya Hasan di berikan izin. Takut, Hasan nekat pergi seperti sebelumnya lagi.
Didalam mobil, Umar terdiam menatap jauh keluar jendela mobil. Ia benar-benar takut, membayangkan raut wajah Hasan saat mengetahui Saida, gadis yang ia cinta, sudah menikah. Benar, menyerah untuk cintanya.
"Umar?" Hasan membuka bicara.
"Ya?"
"Aku selalu bermimpi bertemu, Saida."
"Lalu?"
"Entahlah, tetapi dalam mimpi itu, Saida terus menangis dan aku pergi meninggalkannya demi kebahagiaannya. Apa menurutmu, mimpi itu ada artinya?" tanya Hasan.
Umar menggeleng pelan "Aku bukan ahli tafsir mimpi."
Hasan mengangguk pelan. Mengheningkan suasana di dalam mobil, supir yang di suruh Abinya untuk mengantar mereka pun memilih diam tanpa bicara.
Beberapa jam di perjalanan, membawa alamat rumah Saida yang masih ia simpan selama ini. Akhirnya mereka tiba, di depan sebuah rumah sederhana tidak terlalu mewah, namun di pandang indah.
"Menurut alamat yang Saida berikan, kurasa ini tempat yang kita cari."
Umar mengangguk, tidak menunggu lama, segera Hasan bergegas keluar mobil, menyusun langkah mendekati halaman rumah Saida. Di susul Umar dari belakang.
Tok! Tok!
"Assalamualaikum?" Hasan memberanikan diri mengetuk pintu.
Ceklek!
Beberapa detik pintu terbuka, melihatkan wajah sembringas Ayah Saida "Waalaikumsalam."
Sedikit kaget, memandang wajah Hasan di sana. Lelaki yang sempat menyakiti hati Anaknya beberapa kali.
"Pak, saya kemari ingin--"
"Saida, sudah menikah," cetusnya datar, memotong ucapan Hasan yang belum selesai.
Deg!
__ADS_1
"Hah?" Hasan melongo tidak beraut apapun, ia terdiam masih menatap nanar wajah keriput itu
"Kau tidak dengar? Saida, sudah menikah. Kenapa kau datang? Untuk menghadirkan luka kembali dalam kebahagiaan barunya?" cetus Ayah Saida keras.
Nafas Hasan sesak, kakinya seolah melemah ingin terduduk paksa di tanah. Umar menggenggam pundaknya dari belakang, berusaha menguatkan Sahabatnya.
"Saya-saya tidak bermaksud--"
"Tidak bermaksud untuk mendekatinya? Lalu kenapa kau menjanjikan cinta untuknya? Apa untuk menghinanya lagi? Menghina keterbatasannya lagi? Seperti yang kau lakukan hari itu?" potong Ayahnya lagi.
Ini pertama kali, Hasan tidak mampu menahan diri. Ia menangis di tempat, terus menatap dalam wajah Ayah Saida.
"Pak--boleh saya bisa jelaskan semua, tolong sekali ini saja, izinkan saya bertemu, Saida?"
Terkekeh kecil, Ayahnya menyahut "Kau tidak akan pernah bertemu lagi dengannya! Tidak akan pernah!"
Suara ayahnya meninggi, bukan hanya Hasan, bulir bening itupun jatuh di pipi Ayahnya "Kau menghancurkan semuanya! Semua kebahagiaan putriku yang harusnya ia rasakan! Kau--"
Ayahnya terdiam, mengetuk jidatnya di pintu "Pergi! Pergi! Jangan pernah muncul lagi!"
"Pak--untuk terakhir kalinya. Izinkan saya bertemu, Saida." Hasan nekat berlutut memegangi kaki Ayah Saida.
Umat melotot, memandangi Hasan. Tidak percaya, Hasan akan melakukan ini untuk Saida.
"Saida tidak di sini!" Suara lain menyambung, mereka menatap wajah basah Ibu Mila yang ikut menangis di sana.
"Berikan saya alamat rumahnya, saya tidak akan menganggu rumah tangga, Saida. Saya hanya ingin meminta maaf kepadanya," gerung Hasan lirih.
"Kau tidak diberi izin untuk itu, pergilah."
Ibu Mila, membantu Hasan berdiri. Setelah itu, ia menutup rapat-rapat pintu, tidak mengizinkannya untuk kembali datang.
"Umar ...." Hasan menatap nanar wajah murung Umar. Hasan yang bersikap seperti anak kecil yang menangis saat kehilangan balonnya "Umar ... Saida, Umar ...."
"Hasan." Umar memegangi tangannya, tubuh kekar Hasan rasanya benar-benar ingin terhempaskan.
"Ayo, pulang. Tidak ada yang harus kau harapkan lagi, di sini. Entah itu cinta Saida, ataupun pertemuanmy dengannya." Umar merangkul Hasan memasuki mobil.
Seperti orang gila, Hasan terdiam tanpa raut. Membiarkan Umar menarik halus lengannya. Apa begini sakitnya sebuah kehilangan? Apa begini akhir dari cinta yang di katakan indah? Kenapa, rasanya sakit? Sesak, remuk dan terlalu pedih?
"Cinta ini hanya untukmu, Saida."
_______
__ADS_1
Allah, jagalah cinta kami. Karena hanya dengan cinta-Mu, kami mengerti artinya perlindungan, dan kasih sayang yang tidak kami dapatkan di dunia, selain dari mereka. Orang tua