Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part 4 | mimpi


__ADS_3

Gerimis kecil mengguyur wilayah pesantren, Hasan mengintip lewat jendela kaca yang tertutup embun, samar-samar bola matanya menangkap pada rintikan air hujan yang turun.


"Saida Nur Fauziana, siapa kamu sebenarnya? Apa hubungan antara kau dan aku?" Hasan bermonolog, suasana hening kamar bernuansa menenangkan, jari jemari Hasan menyentuh kepada kaca, ikut merasakan kesejukan udara yang menembus dinding-dinding kamarnya.


Suara rintik hujan sepertinya semakin besar, Hasan diam di tempat, memejamkan matanya perlahan terus merasakan sejuknya udaranya.


"Saya bisa sendiri!" Hasan teringat sosok wanita shalihah berkursi roda yang ia temui beberapa waktu lalu di toko buku kemarin, sedikit terkekeh Hasan mengingat sikap manisnya.


"Hasan?"


Seruan lembut seseorang mengalihkan perhatiannya, Hasan menoleh kepada Umi Laila meneruskan langkahnya mendekati sang putra, membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air hangat.


"Umi?" Hasan tersenyum manis, menyalami tangan Uminya sangat sopan.


Sambil meletakkan nampan di atas kasur, Umi berucap pelan "Bagaimana keadaan kamu? Apa sakit kepalanya sudah berkurang?"


Hasan belum menyahut, menyusun langkah menuju kasurnya dan duduk dengan baik di sana "Alhamdulillah sudah lebih baik, Mi."


Segera saja, Umi Laila mengambil posisi di sebelah putranya "Alhamdulillah, Umi sudah menyiapkan makan malammu, makanlah. Setelah itu baru istirahat, Umi berharap secepatnya kamu bisa sehat kembali, Nak."


Hasan mengangguk "Terimakasih, Mi. Hasan boleh bertanya?"


"Tentu saja, Apa yang ingin kamu tanyakan?" sahut dan tanya kembali Ustadzah Laila, menatap wajah tampan putranya.


Hasan belum menjawab, ia malah menunduk menghela nafas panjang.


Melihat kepadanya, Umi Laila menyentuh keningnya yang masih terlapis perban ada sedikit bercak darah di sana "Jangan memikirkan sesuatu yang tidak perlu di pikiran, nanti kesehatanmu terganggu. Sebaiknya Umi mengganti perbanmu dulu."


Hasan menurut, mendongakkan kepalanya menatap punggung Uminya yang mulai menjauh.


"Umi benar, aku tidak perlu terlalu mengambil pusing soal nama perempuan itu. Daripada terus-menerus penasaran lebih baik aku bertanya, Umi pasti tahu jawabannya.' batin Hasan.


Suasana hening kamar menyuarakan langkah kaki seseorang, Hasan memandang kepada sosok wanita bergamis longgar berwarna hitam senada. Uminya melangkah menghampirinya memegang kotak P3K, kembali duduk di tempat semula.


"Kemarilah." Hasan menurut, berbaring dekat dengan Uminya. Umi Laila mulai membuka perban yang menempel di kepala putranya dan segera menggantinya dengan perban yang baru.


"Jadi bertanya?" Umi membuka bicara, Hasan mengangguk pelan "Umi akan jawab seandainya Umi tahu jawabannya. Apa yang ingin Hasan tanyakan pada Umi?

__ADS_1


"Saida Nur Fauziana," Hasan duduk dari pembaringannya menatap wajah Umi Laila yang tercengang "Umi kenal dia?"


"Mm ...." Umi Laila tertunduk hanya mampu bergumam kecil, bagaimana mungkin ia tidak mengenal nama perempuan itu? Gadis berakhlak baik, gadis cantik yang sempat ingin menjadi menantunya.


"Dimana Hasan mendengar nama itu?"


Hasan menggeleng pelan "Umi tidak perlu tahu, Umi cukup jawab saja. Apa Umi mengenal Saida Nur Fauziana?"


Umi tersenyum manis, tidak ingin membiarkan Hasan melupakan Saida sampai kapanpun "Umi mengenalnya, Abi mengenalnya, Bang Husein mengenalnya, Hasan pun mengenalnya. Namun untuk menceritakan siapa dia, Umi rasa belum saatnya kamu tahu, Nak. Kamu percayakan pada, Umi?"


Hasan melongo mendengar pernyataan Uminya, siapa sebenarnya gadis bernama Saida Nur Fauziana?


"Oya, Umi hampir lupa. Pondok pesantren Al-Furqon mengadakan acara lomba terbesar tahun ini, dan kita pun turut hadir untuk meramaikan. Banyak lomba-lomba yang diadakan di sana, Apa Hasan mau ikut?" Umi mengalihkan pembicaraan, menatap wajah tampan putranya.


"In Sya Allah, Hasan akan ikut lomba juga, Mi."


"Yakin? Keadaan kamu belum benar-benar baik, San."


Hasan menyentuh tangan Umi "Ada Allah. Umi jangan khawatir, Hasan akan jaga diri."


"Terimakasih, Umi."


"Umi tinggal ya, jangan lupa habiskan makanannya, setelah itu langsung tidur. Mengerti?"


Hasan terkekeh melihat bola mata Umi Laila yang membulat "Hasan mengerti."


Ikut terkekeh, Umi mengecup kening putranya "Yasudah. Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam."


🌹


Hasan menatap sekeliling tempat ini, benar-benar hanya di penuhi dengan bunga. Beraneka ragam warna dengan bau wanginya yang menyengat. Hasan menyusun langkah kecil, masih bingung dimana ia berada saat ini, Surga dunia?


Sesekali tangan kekarnya memetik bunga lalu mencium baunya yang manis "Masya Allah, tempat apa ini?"


Telinganya menangkap suara irama biola, begitu merdu dan mengagumkan. Seperti ada kekuatan yang membawanya melangkahkan kaki mencari sumber suara itu.

__ADS_1


"Lalala ... hmmm ... lalala ...."


Senandung indah suara lembut itu menggema sangat merdu, bak melodi yang sudah diatur sebagai penenang dari sebuah kegelisahan.


Dag!


Dig!


Dug!


Langkah Hasan terhenti, berdegup kencang sang hati menatap lekat punggung seorang wanita di sana, duduk di bawah pohon rindang di temani kelinci-kelinci kecil yang bermain riang bersamanya.


Tanpa berpikir panjang Hasan melanjutkan langkah untuk mendekatinya. Bunga-bunga seolah menjadi saksi ikut serta dalam pertemuan ini, turun entah dari mana menyambut kedatangan pria berjubah putih ini.


"Assalamualaikum?" Hasan memberanikan diri menyapanya.


Wanita bergamis hitam dengan hijab lebar itulah berbalik badan menatap kepada wajah seri Hasan.


Dia tersenyum amat manis, membiarkan pria tampan itu mematung menatap lekat padanya. Seruan indah nada biola yang entah darimana asalnya menjadi bagian penting dari pertemuan kali ini.


Mereka berdua mematung membiarkan sejuknya udara dan bunga-bunga jatuh begitu girang menyaksikan dua cinta yang di pertemukan dalam kehidupan.


"Waalaikumsalam." Wanita berkaca mata itu menyahut lembut salamnya.


"Saida?" Hasan terduduk dari pembaringannya, nafas berat yang terasa memburu mengeluarkan keringat dinginnya.


Hasan menatap sekeliling ruangan hening kamarnya, menyadari bahwa semua hanya bagian dari mimpi belaka.


"Astagfirullah hal'adzim." Hasan mengusap wajahnya. Mencoba meredakan nafasnya yang berat "Astagfirullah hal'adzim."


"Kenapa wajah gadis berkursi roda yang kutemui di toko buku itu muncul di mimpiku?"


Hasan menelan ludah, menatap pada Umar yang masih terlelap. Ia mengalihkan pandangannya pada jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua malam. Bergegas ia beranjak dari tempat tidurnya,


melaksanakan solat tahajud


Terimakasih selalu menyempatkan waktu untuk membaca 🥰

__ADS_1


__ADS_2