Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part_09 maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


__ADS_3

Karena hadiah terbesar bagi kita hari ini, bukan kesempurnaan. Tetapi tidak lain adalah Iman dan Islam (Saida Nur Fauziana)


_________________


"Peserta selanjutnya, perwakilan dari pondok pesantren Al-Fatihah. Saida Nur Fauziana, kepadanya kami persilahkan." Gemuruh tepuk tangan meramaikan perlombaan pagi ini. Ya, perlombaan ceramah agama.


Nama indahnya telah di panggil dengan keras, Saida tersenyum manis sembari memutar roda kursinya menuju mimbar di depan sana.


Duduk berkumpul bersama dengan teman-temannya, Hasan ikut bertepuk tangan menatap, mematung, melihat kearah gadis bergamis hitam senada. Dengan begitu semangat memutar roda kursi yang ia duduki.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu." Gema nyaring namun terdengar begitu jelas dan lembut, Saida tersenyum manis menyapa semuanya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu," serentak semua. Tarikan nafas panjang terdengar, menandakan ia sedang mengatur kegugupannya "Saida Nur Fauziana, nama saya. Di antara tumpukan kegugupan dan keberanian diri, saya akan membawakan ceramah singkat, dengan judul :"Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"


Mukadimah berlantun indah, membuat semua terpukau tanpa bicara. Saida mulai berceramah, menyampaikan isi dari judul yang sudah ia pilih.


"Kekurangan, tidak menjadikan kita hina di mata manusia. Kekurangan tidak menjadikan kita berbeda dengan manusia lainnya. Jika ada seseorang yang mencelamu, itu bukan kesalahannya, juga bukan kesalahanmu, tetapi tidak lain untuk mengukur seberapa besar kepercayaan kamu kepada ketentuan-Nya, seberapa besar rasa syukurmu terhadap kenikmatan yang di berikan-Nya," ungkap Saida jelas.


Bulir bening tergenang di kelopak mata bulat Saida. Tidak memandang kepada tempat lain, sebagaimana semua mata memandang kepadanya. Tatapan dalam itu, ia arahkan tepat mengenai Hasan. Hasan yang juga mematung, membalas pandangannya yang seolah bermakna.


"Tidak ada yang lucu? Coba pikirkan, Bang. Seorang 'Hasan' menikah dengan wanita seperti, Saida. Apa itu tidak konyol?"


"Dasar buta! Saida itu lumpuh, tidak sepertimu! Mana mungkin dia bisa mengganti posisi kamu di hati saya, Sya!"


Seenaknya, semua menari di ingatan Saida, bagaimana cara lelaki yang ia pandang sekarang menghinanya, menolaknya dan menyakitinya hari itu.


'Apa kau pernah mengalaminya, Nona Saida?' tanya Hasan membatin.


Tik!


Bulir bening yang sejak tadi ia tahan, akhirnya mengambil keputusan untuk keluar. Semua orang menatapnya iba, melihat keadaannya yang lumpuh sangat menyentuh hati semua yang mendengar nasihatnya.


"Karena hadiah terbesar bagi kita hari ini, bukan kesempurnaan. Tetapi tidak lain adalah Iman dan Islam. Seorang manusia seberapa pun sedih dan merananya di dunia ini, tidak ada yang lain kecuai sesuatu yang telah di takdirkan baginya oleh Allah Azza wa jalla." Saida menyambung dengan penuh perasaan, sesekali mengusap air matanya yang enggan berhenti mengalir. Ia tidak lagi menatap Hasan, melakukan itu sama saja dengan membiarkan luka lamanya kembali menganga.


"Rasakanlah, bersyukurlah, karena tidak ada alasan apapun yang bisa membuat kita lemah. Dunia, penuh dengan keindahan dan kenikmatan.


Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan, Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"


Tepukan tangan lebih meriah dari pada sebelumnya, Saida menundukkan kepalanya mengusap sisa air matanya dengan tisu yang beberapa detik lalu di berikan salah satu temannya.

__ADS_1


"Terimakasih, untuk perhatiannya. Maaf, saya terlihat seperti sedang curhat saja." Saida terkekeh geli menutup wajha dengan kedua tangannya.


"Anda yang terbaik, Ukhti Saida. Kami yakin kamulah pemenangnya," jerit salah seorang di depannya.


Saia tersenyum sipu "Masya Allah, jazakallahu khairan katsiran. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu."


Sekali lagi, gema riuh tepuk tangan memenuhi ruangan acara. Bukan seperti perlombaan, tetapi seolah melihat seorang Ustadzah berceramah.


Sebelum memutar roda kursinya untuk meninggalkan mimbar, sekali lagi matanya melirik kepada Hasan. Pria berjubah putih dengan parasnya yang tampan memberinya senyum manis di sana. Saida tidak membalas,ia memilih untuk memutar roda kursinya dan meninggalkan mimbar.


🌷


"Bismillahirrahmanirrahim, Innaa anzalnaahu fii lailatil qadr, wamaa adraaka maa lailatul qadr,


Lailatul qadri khairum-min alfi syahr--"


"Tanazzalul malaa-ikatu warruuhu fiihaa biidzni rabbihim min kulli amr, salaamun hiya hatta mathla'il fajr."


Seseorang memotong surah yang ia baca, segera saja Saida menolehkan kepalanya ke belakang, seorang pria berpostur tinggi sudah mengambil posisi berdiri di belakangnya.


DEG!


"Assalamualaikum, Nona Saida?"


'Wa-waalaikumsalam." Saida memutar bola matanya kearah sekeliling danau di hadapannya sekarang.


"Maaf menganggu."


Tidak menjawab apapun, Saida masih menatap jauh kedepan, melihat genangan permukaan air yang sedikit bergelombang akibat sapuan angin sedikit kencang, sekencang jantungnya yang seolah senada.


"Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan. Apa ada sebuah cerita di balik sepotong ayat suci Al-Quran ini, Saida?"


DEG!


Saida tidak juga bersuara, ia lebih memilih menetralisasikan perasaannya yang terombang-ambing sekarang.


Terdengar suara kekehan kecil darinya "Afwan, Saida. Saya lupa memperkenalkan diri, nama saya Muhammad Hasan Al-asrof. Anda bisa memanggil saya, Hasan. Begitu kata Abi."

__ADS_1


Saida mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan, ternyata Hasan sudah berdiri dekat di sampingnya sekarang. Mereka bersitatap sejenak, sebelum akhirnya Saida berucap pelan "Apa yang membawa Anda kemari, Hasan?"


"Entahlah, mungkin karena kemerduan suaramu tadi. Atau, kekaguman itu sendiri, setelah mendengar nasihatmu beberapa jam lalu," jelas Hasan, mengikuti arah pandangan Saida yang kembali kearah semula.


"Terimakasih." Singkat saja, hanya ungkapan ini yang bisa ia utarakan.


"Anda belum menjawab pertanyaan saya, Saida." Hasan kembali memandang wajah serinya dari samping.


Saida memperbaiki kacamata miliknya, dan akhirnya menyahut "Fabiai-yi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan. Apa ada cerita di balik sepotong ayat suci Al-Quran ini? Itukan yang Anda tanyakan?"


Hasan mengangguk, mengedarkan pandangannya kearah langit biru di atas sana "Iya."


"Entah ini penting atau tidak untuk Anda. Memang benar adanya," jawab Saida.


Hasan mengerutkan keningnya memandang lagi pada Saida "Bolehku tahu?"


Saida menatap lekat padanya "Untuk apa?"


Hasan menunduk. Entahlah, pernyataannya barusan seperti punya alasan tersendiri, mengapa ia berucap begitu ingin menggali kisahnya. Apa itu, Hasan sendiri tidak punya jawabannya, ia menggeleng pelan.


"Maaf, Hasan," Hasan mendongak memandang pada mata indah di balik kaca putih milik Saida "Anda tidak mengenai saya, dan saya tidak pula mengenali Anda. Kita asing, itulah sebabnya saya tidak punya alasan untuk bercerita apapun padamu. Terlebih, tidak baik seorang wanita dan pria duduk berdua di tengah kesunyian--"


'Karena melihatmu terus menerus seperti ini, aku semakin tidak percaya, apa aku bisa melupakan cinta dan rasa sakit yang dengan bersamaan kamu hadirkan saat itu--' sambung Saida di hati.


"Ini sapu tanganmu," Saida menggantungkan sapu tangan biru muda di pagar pembatasan antara danau dan pinggirnya, tempat mereka sekarang berdiri bersama.


Setelah mendengar semua, Hasan hanya membisu, mematung di tempatnya.


"Assalamualaikum." Dengan begitu tergesa, Saida memutar roda kursinya meninggalkan Hasan dalam kebisuan.


"Waalaikumsalam." Hasan meriah sapu tangan yang menggantung tadi, kemudian berbalik badan menatap punggung gadis berkursi roda itu semakin jauh darinya "Bukan tanpa alasan, aku hanya sedang mencari rasa yang menghilang."


Hasan menghela nafas panjang, menatap sejenak pada sapu tangan di genggamannya, sebelum akhirnya memutuskan langkah untuk pergi.


Saida berhenti di tempat, menoleh kebelakang memandang punggung Pria berjubah putih itu semakin jauh.


'Kita tidak asing, Hasan. Kamu mengenaliku, begitupun aku, begitu mengenalimu. Hanya saja, aku tidak sanggup membuka luka lama yang sudah kujaga dan kurawat dengan baik, akhirnya kembali terasa ada, bahkan lebih menganga daripada sebelumnya. Cintaku, syafakallah. Semoga Allah mengangkat penyakitmu, dan segera membawa kita berdua pada titik terbaik menurut takdir.'


Saida mengusap air matanya di balik kacamata.

__ADS_1


#Next


__ADS_2