Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
extra _ part arasya


__ADS_3

~Tak perlu kesempurnaan, cukup lengkapi apa yang kurang. Karena kebahagiaan tidak dapat di beli dengan apapun, selain keikhlasan~


_______


Tenang, indah, nyaman dan cukup. Banyak yang ingin membangun hubungan demikian, meskipun tidak ada yang bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya, cukup sempurnakan hari ini saja.


Dekorasi sederhana terlihat menarik di sana, seorang pria gagah dengan tegapnya duduk di singgasana, di temani seorang bidadari cantik bergaun pengantin putih senadanya.


Beratus mata memandang kepada mereka, tidak jarang berucap restu dan doa terbaik.


"Jadi ingat momen dua tahun lalu, saat kita berada di atas sana." Hasan tersenyum hangat, merangkul pundak Istrinya dari belakang.


Saida tersenyum tidak kalah manisnya, sambil menyahut "Allah baik ya, menciptakan manusia berpasangan-pasangan, saling melengkapi dan berkasih sayang sesamanya."


"Tinggal bagaimana kita bersyukur saja, bisa merasakan hangatnya cinta yang di ikat tali pernikahan. Sebagaimana, memandang dan mencintainya adalah pahala," sambung Hasan.


Mereka berdua tertawa kecil, segera Hasan mengecup puncak kepala wanita berniqab hitam senada di sampingnya kini.


Saida tersenyum sipu, masih kuat menggendong bayi kecilnya "Arasya, juga ingin di cium, Abi."


Hasan terkekeh kecil, mencubit pipi chubby Arasya. Setelah menjalin hubungan kurang lebih dua tahun, mereka telah di karuniai seorang anak perempuan. Arasya Adilla Asyrof, nama indah yang di berikan Hasan padanya.


"Jangan di cubit, nanti dia bangun!" Saida menolak pelan dada bidang suaminya.

__ADS_1


Hasan terkekeh lagi, segera mencium pipi gembul nan lembut milik Arasya "Cantiknya putri, Abi."


"Cantik nomor dua, yang penting itu agama dan akhlaknya, Bi." Saida menyusul mencium pipi Arasya.


Bayi kecilnya tidak juga terbangun, begitu nyenyak dalam gendongan sang Ummi. Oh, manisnya raut Arasya saat ini, matanya terpejam berbalut kain hitam sutra, ia nampak begitu nyaman.


"Seperti Umminya, bukan?"


"In Sya Allah ...." Saida tersenyum lagi.


Setelah melewati berbagai macam proses, akhirnya Saida bisa berjalan satu tahun lalu, tidak ada hadiah paling berharga baginya selain dapat melangkah. Setelah kehadiran Arasya lima bulan lalu, kehidupan keduanya semakin baik.


Tidak sampai di sana, melihat sahabat baiknya menikah hari ini Hasan pun ikut bahagia. Setelah lulus mondok, akhirnya Umar benar-benar menepati janjinya untuk melamar Bunga. Ya, Bunga. Masih ingatkan gadis manis yang pernah ia temui di pondok pesantren Al-Furqon kemarin?


"Assalamualaikum?" Perhatian keduanya teralih. Fisya, Husein dan Anasya datang menghampiri.


"Waalaikumsalam."


"Sudah lama tiba, di sini?" tanya Husein pelan, sambil menggendong Anasya.


"Baru beberapa jam lalu, Bang," sahut Hasan


"Abi, au cium dede (Mau cium dede)." Anasya bicara halus, memandang dalam wajah Arasya.

__ADS_1


"Arasya, sedang tidur, sayang. Nanti saja ya?" Fisya membujuk lembut putrinya.


"Hiks ... Hiks!" Alhasil, gadis kecil itu menangis, Saida tidak tega segera ia dekatkan pipi gembul Arasya pada bibir kecil Anasya.


"Ciumlah, sayang. Jangan menangis, ya."


Cup!


"Hihi ...." Mereka di buat gemes, Anasya tertawa kecil, memeluk Abinya malu.


"Abi dan Ummi tidak ikut?" tanya Hasan.


"Sebentar lagi mereka tiba." Husein menyahut pelan.


Ya, setelah kehadiran Arasya, Hasan dan Saida memutuskan untuk pindah. Tidak jauh dari kediaman keluarga Saida, apalagi sekarang Hasan sedang fokus mendirikan pondok pesantren cabang Al-Hidayah di tempat tinggalnya sekarang, tentu saja di bantu sang Abi.


"Assalamualaikum?" Seruan lain hadir, mereka menatap kepada Umar dan Bunga yang menghampiri.


"Waalaikumsalam," sahut serentak.


"Alhamdulillah, kalian semua berkenan hadir. Terimakasih atas kedatangannya," ujar Umar, menatap bergantian pada Hasan dan Husein.


Sementara Bunga, ia memilih mengobrol kepada Fisya dan Saida.

__ADS_1


Berjalan beberapa jam, mereka ikut berperan dalam acara pernikahan yang digelar di rumah Bunga ini.


Seandainya, seluruh air menjadi tinta, kemudian daun-daun menjadi kertas. Tidak akan dapat menulis kenikmatan yang Allah berikan. Banyak yang lupa bersyukur, tapi Allah tidak pernah lupa memberikan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya. So, jangan lupa bersyukur.


__ADS_2