
Karena sejatinya, patah hati bisa di sembuhkan dengan jatuh hati kembali.
____________
Mobil melaju, membelah jalan raya yang dipenuhi beberapa kendaraan. Beberapa jam di perjalanan, akhirnya mereka tiba di salah satu Villa, bertepatan di tepi pantai dengan suasana khasnya.
Hasan memarkirkan mobilnya di halaman depan, bangunan megah bercat cerah itu benar-benar terlihat ideal dan indah.
Hasan mengalihkan pandangannya ke samping, Saida masih tertidur sangat pulas di sana. Saida yang tenyata mabuk perjalanan, tidak bisa menikmati pemandangan saat di jalan tadi.
"Sayang ...." Hasan mengelus pipinya lembut, wanita bersetelan gamis army itu terbangun, mencoba membuka matanya yang berat "Lihatlah, kita sudah sampai."
Saida menekan pelipisnya yang terasa sakit sambil mengedarkan pandangannya ke luar "Kita dimana?"
Hasan tidak menjawab, ia hanya tersenyum memandang raut wajah Saida. Perhatian Saida terpusat pada satu arah, dimana ombak besar menghantam batu karang di tepi pantai.
"Hasan--kamu--"
Hasan tersenyum mengangguk pelan "Ini kan impianmu? Berlibur di tepi pantai, menikmati pemandangan indah, saat matahari terbenam. Sambil menunggu adzan magrib berkumandang."
Kening Saida mengerut, matanya mulai berkaca-kaca "Darimana kamu tahu?"
Hasan menatap dalam mata indah di balik kaca beningnya "Impianku sederhana, bisa menikmatinya indahnya kumandang adzan magrib, bersama secangkir kopi hangat untuk mengantar mentari pulang di birunya lautan lepas. Sambil memejamkan mata, berbaring di pundak suamiku."
Menyadari sesuatu, mata Saida melotot "Kamu membaca diaryku?"
Hasan terkekeh kecil, merapatkan kedua tangannya ke depan dada "Maaf, sayang."
"Kamu membaca semuanya?" Saida mendengus kesal, bertanya dengan cetus.
"Saat kamu tidur, aku membacanya. Tapi aku cuma membaca di bagian itu saja, percayalah."
Menatap binar matanya yang kosong, Hasan sudah tahu, Saida pasti tidak terima ia membaca buku rahasianya tersebut.
"Maaf, ya. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Hasan menggenggam erat tangan kanannya, memasang wajah memelas seolah benar-benar merasa bersalah.
"Ck!" Saida memberontak, melepas genggaman tangan Hasan "Hiks ...."
Grep!
Deg!
Hasan pikir ia akan mendapat pukulan manis, tapi ternyata salah. Saida memeluknya erat, Saida yang terisak keras di dada bidangnya, Hasan menghembuskan nafas lega, membalas pelukan Istrinya.
"Ana uhibbuka fillah, Habibi."
Hasan tersenyum di raut kebingungannya "Habibi--maksudnya?"
Saida melepas pelukan, Membiarkan Hasan membuka kaca matanya, kemudian menghapus setiap tetes air mata Saida.
"Habibi, kesayanganku, kekasihku. Kamu mau mengizinkan aku memanggilmu, Habibi?"
Hasan lagi-lagi tersenyum menang, langsung menyodorkan bibirnya di kening mulus Saida "Uhibbuki Zawjati."
Sempat saling mendekap beberapa waktu, sebelum akhirnya Hasan keluar dari dalam mobil, berlari kecil ke pintu sebelah kiri.
"Saatnya, istirahat. Kamu pasti pusing, kan?" Saida mengangguk manja, membiarkan Hasan menggendong tubuh ringannya menuju Villa.
Hasan menyusun langkah pelan, agar Saida bisa tetap nyaman di gendongannya "Bi, Apa Saida harus menurunkan berat badan?"
Hasan menatap binar beriris hitam miliknya, jarak keduanya begitu dekat hanya terhalang beberapa meter "Kenapa begitu?"
"Kasihan kamu, terus-menerus menggendongku. Kalau seandainya aku bisa berjalan seperti yang lain, pasti kamu tidak akan kerepotan begini, kan?" Binar di mata Saida menghilang, berganti dengan kepolosan yang menusuk relung Hasan perlahan.
Hasan tidak menjawab, ia terus memandangi wajah putih Saida. Setelah beberapa menit tiba di dalam kamar yang sudah di hias sedemikian menarik, Hasan membaringkan pelan tubuhnya di atas kasur.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkan irisan luka itu, sayang?" Hasan duduk di sebelahnya, mengusap kepala Saida begitu lembut.
Saida menggeleng pelan "Aku tidak bermaksud membuat kamu merasa bersalah, tapi kurasa apa yang kamu katakan dulu memang ada benarnya, Bi. Mengurus diri sendiri saja tidak bisa, bagaimana mau membahagiakan seorang sua---"
Hasan tidak sanggup, ia menutup mulut Saida dengan tangannya. Dadanya meremuk, begitu pedih dan menyayat "Seharusnya, kamu tidak menerimaku, Saida. Karena gelar beruntung bisa menjadi pilihanmu adalah kedudukan yang tidak pantas aku dapatkan. Aku terlalu banyak menyakitimu, bahkan aku tidak tahu dengan apa aku bisa menebus semuanya, aku malu padamu dan pada Allah."
Saida duduk dari pembaringannya, menghapus air mata Hasan yang entah kapan jatuh "Bukan kamu, tapi aku yang merasa beruntung, bisa bersamamu. Menjadi pelengkap hidupmu, sekaligus penemannya. Kita buka lembaran baru, cerita baru, dimana hanya ada aku, kamu dan cinta saja. Selebihnya, tidak akan ada."
Saida lagi-lagi mendekap erat tubuh kekar Hasan dalam kehangatan pelukannya "Aku minta maaf, untuk luka lama yang tidak sengaja kubuka."
Hasan memejamkan matanya, mengeratkan pelukan hangat Saida. Sebuah janji terucap di hatinya, demi apapun tidak akan ada yang boleh mengambil Saida dalam kehidupannya, selain kematian.
"Sekarang kamu istirahat ya," Hasan melepas pelukannya, mengelus lembut pipi chubby Istrinya "Kepalanya masih pusing?"
Saida mengangguk manja, dengan raut menggemaskan yang selalu berhasil membuat Hasan lumpuh "Baiklah, nanti Habib bangunkan, saat salat dhuhur tiba."
Saida menurut, kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Menatap lekat wajah tampan Hasan, yang sibuk membalut selimut di tubuh dinginnya.
"Habibi."
"Hmm?"
"Villa-nya indah, cantik dan nyaman."
__ADS_1
Hasan tersenyum manis, mengecup singkat puncak kepala Saida "Masih banyak kejutan-kejutan lain, tidurlah. Nanti Habib akan memberikannya satu persatu."
"Serius?"
Hasan mengangguk, melepas kacamata Saida "Tidurlah, sayang."
Saida mengangguk pelan, memejamkan matanya pelan.
🌷
Akhirnya, impian kecil miliknya terwujud z dengan kehendak Allah dalam perantara Suaminya.
Saida tidak tahu, bagaimana lagi berucap syukur, karena kebaikan Allah menyiapkan jalan kehidupannya begitu indah dan berarti nyata.
Sambil merebahkan kepalanya di pundak kekar Hasan, mereka berdua tersenyum begitu lepas. Menyaksikan bola merah menyala itu, berlalu bersama desauan ombak yang riuh.
Duduk berdua, di atas pasir putih, membiarkan air laut menyentuh kaki mereka begitu geli. Hasan dan Saida tidak tahu, harus menyimpulkan apa, untuk mengatakan betapa indahnya pemandangan ini.
"Sayang ...." Hasan membuka bicara, masih memanjakan Saida di pundaknya.
"Hmm." Saida hanya bergumam kecil, masih menatap binar cahaya yang mulai menghilang di ujung sana.
"Kamu tahu kenapa mentarinya pergi?"
"Kenapa?"
"Karena dia cemburu, melihat kita berdua di sini." Hasan sedikit terkekeh.
"Kurasa tidak begitu, Bi." sela Saida.
"Lalu apalagi?"
Saida tersenyum manis, menatap lebih baik bola merah di sana "Dia pergi untuk memberikan pelajaran, bahwa tak selamanya sendiri selalu berakhir sepi."
"Maksudnya?"
"Seumpama perempuan muslimah, setiap mata memandangnya indah. Namun dengan ketajaman sinarnya, ia menjaga dirinya. Tidak membutuhkan apapun untuk bersinar, selain aturan Allah yang menerangkannya."
Hasan mengangguk mengerti "Seperti kamu, dan sekarang aku seumpama jemuran yang selalu membutuhkan kamu."
"Kok jemuran?"
"Haha ... haha ...." Mereka berdua tertawa renyah, saling menatap pandang begitu dekat.
"Allahuakbar Allahuakbar ... Allahuakbar Allahuakbar." Adzan magrib memusatkan perhatian keduanya, Hasan dan Saida terdiam sejenak menikmati kemerduan suaranya.
"Tunggu sebentar."
Saida terdiam, melihat Hasan meraih sesuatu di dalam ransel kecil miliknya "Kejutan lagi, Bi?" tanya Saida.
Hasan tersenyum manis "Pejamkan matamu."
Saida terkekeh kecil, segera menurut menutup kedua matanya.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah. Aku sebagai suamimu, memintamu untuk menggunakan ini karena Allah."
Deg!
Bisikan lembut itu membuat air mata Saida menetes, tepat saat tali cadar terikat di sanggulnya.
"Impian keduaku, juga sederhana. Ingin segera memakai sepotong kain kecil penutup wajah, sebagaimana orang-orang di luar sana. Entah kapan terwujud, aku hanya ingin mewujudkannya." Sekali lagi Hasan mengucapakan sepotong harapan yang tertulis rapi di dalam buku diary Saida.
Saida membuka matanya, menemukan bola mata beriris hitam Hasan yang begitu lekat memandangnya penuh kasih sayang "Apa aku boleh menangis, Bi?"
Hasan menggeleng cepat, menghapus air matanya di balik kaca mata "Kamu hanya boleh memelukku."
"Hasan--hiks, hiks ...."
Tidak bisa ia tahan, meksipun Hasan tidak mengizinkannya menangis, ia tetap menangis di pelukan Hasan. Dengan cadar berwarna gelap yang sudah pas menutup sebagian wajahnya.
"Benar dugaanku, Habib membaca semua isi diaryku, kan?" Hasan kira, Saida akan memujinya dengan kata-kata manis, tapi ternyata? Ahh, sudahlah!
"Maaf, sayang. Itu halaman terakhir yang Habibi baca." Hasan tersenyum simpul sambil terus memeluknya.
"Jangan tinggalkan Aku, ya?" pinta Saida manja.
Hasan mengecup puncak kepalanya "Tidak akan pernah, terkecuali jika Allah yang memintanya sendiri."
Beberapa saat saling hanyut dalam kehangatan, Hasan kembali bicara "Saida?"
"Iya, Bi?"
"Coba lihat ke belakang." Hasan melepas pelukan, membiarkan Saida menoleh ke belakang.
Seorang wanita muda, bersetelan terbuka berdiri tidak jauh dari mereka, sama seperti Hasan dan Saida, ia sedang menikmati indahnya pemandangan di pantai ini. Namun anehnya, mata gadis itu terus mengarah kepada mereka berdua.
"Dia memandang kita?" tanya Saida masih menatapnya.
"Lebih tepatnya, memandangku." Hasan menutup mulutnya, menahan tawanya yang ingin pecah.
__ADS_1
Saida kembali mengarahkan matanya kepada Hasan, Hasan yang pura-pura sibuk memperhatikan gadis asing itu.
"Bi, ayo pulang, nanti telat salat mahgrib." Saida menggenggam kedua lengan Suaminya.
Hasan masih menggodanya, ia menatap lekat ke arah yang sama "Sebentar lagi, sayang."
"Saida, mau pulang sekarang!" cetusnya keras.
Hasan terkekeh, mencubit dagunya lembut "Kamu cemburu?"
"Jelas!" sahutnya keras.
"Habibi, masih ingin melihatnya," Hasan kembali menatap gadis itu "Sayang, dia tersenyum."
"Ck!" Saida berdecak kesal, memasang wajah murung.
"Ayo pulang ...." Hasan menyerah, ia sudah tidak tega melihat raut menggemaskan istri manisnya ini. Segera Hasan menggendong tubuh ringannya, dan mendudukkan dirinya ke atas kursi roda yang berjarak tidak jauh dari mereka. Tentu saja, Saida tersenyum manis di balik niqabnya.
"Terimakasih untuk hari ini, aku tidak akan melupakan momen berharga ini, Bi." Saida tersenyum haru.
"Sama-sama," sahut Hasan, mendorong kursi rodanya menuju Villa.
_____
Selesai menjalankan salat Maghrib bersama, lalu di lanjutkan dengan mengaji, memperbaiki bacaan sesekali, Hasan membimbing Saida dengan jiwa pemimpinnya.
Seusai menjalankan kewajiban, Hasan dan Saida memutuskan untuk menyaksikan ceramah agama di YouTube, sambil berbaring mesra di tempat tidur, terkadang mereka merenung jauh, kemudian sesekali tertawa renyah.
Dreeet! Dreeet!
Ponsel yang mereka gunakan berdering, menandakan ada telepon masuk. Nomor asing tanpa nama, melihat itu segera Hasan menerima telepon.
"Assalamualaikum?"
[...........]
"Oh, Saida. Dia ada, sebentar ya." Hasan menoleh ke samping, tepat memandang binar indah di balik kacamata bening miliknya.
"Ada yang mencarimu."
Kening Saida mengerut, siapa yang menghubunginya malam-malam begini?
"Siapa, Bi?"
"Bicaralah," Hasan memberikan ponsel padanya, Saida mengambil masih dengan raut bingung "Habibi, tunggu di balkon."
Hasan berdiri, meniggalkan Saida dengan wajah aneh. Semakin membuat Saida bingung, siapa sebenarnya yang mencarinya ini.
Tidak menunggu lama, segera Saida menerima telepon tersebut.
"Assalamualaikum?"
[Waalaikumsalam, Mbak Saida.] Suara seorang wanita menyambutnya di seberang sana.
"Maaf, ada keperluan apa mencari saya?" tanya sopan Saida.
[Minggu depan, anda sudah bisa melakukan terapi jalan bersama saya. Nama saya Zina, dokter pribadi anda.]
Deg!
Saida mendekap mulutnya, ia benar-benar tidak percaya pada ucapan orang di dalam telepon ini.
"Se-serius, Dok?"
[Suami anda, Tuan Hasan. Dia yang meminta saya untuk membantu, anda. Itu saja, maaf menganggu liburannya. Selamat malam, Mbak Saida. Assalamualaikum?]
"Waalaikumsalam."
Tut! Tut!
Telepon terputus, Saida mematung di tempatnya. Masih mengingat jelas suara dokter Zina di dalam telepon barusan, ia benar-benar berhasil di buat bungkam sekarang. Dengan nafas tak beraturan, Saida hanya bisa menatap kosong pada langit-langit kamarnya.
"Harapan terakhir, bukan bermaksud melawan takdir--" Hasan datang, kembali berbaring di samping Saida, memeluknya erat "Aku ingin merasakan indahnya dapat melangkah, dan menuntun arah."
Untuk ketiga kalinya, Hasan mengucapkan sepotong harapan yang ia tulis di buku hariannya.
Cup!
Hasan mengecup puncak kepalanya lembut, Saida benar-benar terisak keras di pelukannya sekarang. Ia tidak mampu menyahut ucapan Hasan, Hasan benar-benar pria yang ia butuhkan.
"Aku minta maaf, sebenarnya aku sudah membaca semua isi diarymu, sayang."
"Aku mencintaimu, terimakasih untuk semuanya, Bi."
Hasan mempererat pelukannya, berusaha menenangkan Saida dalam kehangatan.
Tak perlu kesempurnaan, cukup lengkapi apa yang kurang. Karena kebahagiaan tidak dapat di beli dengan apapun, selain keikhlasan.
#SELESAI
__ADS_1