Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part _ 27 akad


__ADS_3

Biarlah aku kalah dalam cinta, asal yang menjadi pemenangnya adalah dia, yang selalu ku sebut dalam doa (Saida Nur Fauziana)


______


Hiasan mewah memenuhi ruangan acara, tinggal menunggu beberapa jam lagi, ia akan resmi menjadi milik Hasan. Saida duduk diatas kursi, menatap binar wajahnya dalam cermin, betapa senyum manis itu tak mampu terbilang, begitu indah dan lebar.


Ibu Mila ikut tersenyum, berdiri tepat di belakangnya, memandang wajah cantik sang putri di dalam cermin. Dengan gaun pengantin berwarna putih, senada dengan hijab lebar juga mahkota yang terletak di kepala, di tambah sedikit sentuhan make up, benar-benar membuat wajah Saida semakin terlihat cantik dan menarik.


"Senyum inilah, yang selalu ingin Ibu lihat, Saida." Ibunya tersenyum haru, mengusap puncak kepala putrinya.


Saida mengangguk pelan, menahan air mata yang sudah tergenang "Terimakasih, sudah menerima Hasan, Bu."


Melihat kearah bola matanya yang berkaca-kaca, Ibunya segera memutar kursi dan memandang langsung wajah anaknya "Tidak boleh ada air mata, di hari bahagia kamu, Nak."


Saida mengangguk pelan, menghapus air mata yang hampir saja jatuh dari pipinya "Saida, tidak akan menangis untuk, Ibu."


Ibu Mila mengangguk, mengelus lembut pipi chubby manisnya. Bulir bening jatuh di pipi Ibunya, membuat Saida terperangah langsung mengusap "Ibu juga tidak boleh menangis."


"Ibu tidak menangis."


Mereka berdua saling memeluk, begitu erat penuh kasih sayang untuk beberapa lama.


"Yasudah," Ibu melepas pelukan menatap wajah cantik putrinya "Sebentar lagi akad, Hasan akan datang kemari, menjemputmu. Cium tangannya, sebagaimana kamu mengecup tangan Ayah dan Ibu."


Pipi Saida memerah, menahan senyum sipu malunya. Jujur, baru saja membayangkan hal itu, kegugupan sudah merajalela di jantungnya.


Menyadari itu Ibunya terkekeh kecil "Kenapa pipinya merah?"


"Ini merah karena blush on, Bu." Saida menutup malu pipinya dengan kedua tangan.


Lagi-lagi, Ibunya tersenyum manis "Baiklah, Ibu akan menemui tamu. Ingat pesan Ibu tadi, ya?"


Saida mengangguk, melebarkan senyumnya begitu baik "Siap, Komandan."


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam."


🌷


Masih terpaut dengan tangan Ayah Saida, dengan kegugupan luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hasan berucap fasih "Saya terima nikahnya Saida Nur Fauziana binti Muhammad Akhram, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."


"SAH!"


"Alhamdulillah ...."


Huft, Hasan menghela nafas lega, rasanya ia baru bisa bernafas baik sekarang (Mungkin, itu juga yang di rasain para pembaca, yang udah lama menanti pernikahan mereka setelah melewati banyak part yang mengundang kekesalan 🤭😅)


Sementara Saida di dalam kamar, di temani jantung yang berdegup tak karuan, duduk di bibir ranjang menatap kosong kearah pintu kamarnya yang masih tertutup rapat.

__ADS_1


Ya, Saida menunggu kedatangan Hasan, suaminya. Setelah mendengar proses ijab kabul berjalan lancar, hatinya ikut lega. Melewati berbagai halang rintang, akhirnya Hasan-lah pemenangnya.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka lebar, melihatkan wajah tampan seseorang di sana, dengan postur kekar dan tinggi, berbusana putih yang menyatu pula dengan warna kulitnya. Benar-benar membuat Saida tidak berkedip, ia terdiam di tempat, memperhatikan dengan baik lengkuk wajah Hasan.


"Assalamualaikum?"


Hasan tersenyum manis, menyusun langkah masuk kedalam kamar, melihat itu sontak membuat Saida gugup, ia menunduk menahan malu.


"Waalaikumsalam."


"Kamu baik?" Hasan mengambil posisi duduk di sebelahnya, masih lekat memandang kagum pada wajah istrinya yang teramat cantik.


Dag, dig, dug!


Saida bersikeras untuk menghilangkan perasaannya yang menggebu-gebu, tapi percuma. Semakin Hasan mendekat, semakin pula besar ombak yang menabrak relungnya.


"A-aku baik."


Hasan mengangguk pelan "Tidak mau mencium tangan, suamimu?"


"A-mm." Seperti kepiting rebus, pipi Saida benar-benar memerah "I-itu-Hasan ... Itu--"


Cup!


Deg!


"Ini maksudnya?" tanya Hasan menggoda.


"Huft ...." Saida menghela nafas begitu panjang, ia masih menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Hasan yang berjarak sangat dekat.


Menyadari itu, Hasan terkekeh. Ingin rasanya mencubit pipi chubby yang memerah itu, segera Hasan mengambil kedua tangan Saida dan menggenggamnya begitu erat "Kenapa menunduk? Sudah halal, kan?"


Saida tidak juga bicara, ia benar-benar kehabisan cara untuk menetralkan perasaannya sekarang.


"Dingin sekali."


"Apa yang dingin?" Saida memberanikan diri untuk bertanya.


"Tanganmu."


Mendengar itu, dengan cepat Saida melepas genggaman tangan Hasan.


"Kenapa malu? Ini bukan pertama kalinya kita bertemu, kan?" tanya Hasan lagi.


"Sudahlah, ayo kedepan. Tamu pasti sudah menunggu kita," ungkap Saida.


Lagi-lagi Hasan terkekeh, ia tahu seandainya Saida bisa jalan pasti sedari tadi ia melangkah pergi "Saida ...."

__ADS_1


Hasan menyentuh dagunya, menuntun Saida untuk menatapnya. Akhirnya, mata dan mata bertemu, begitu dekat menatap saling bertukar pandang "Kamu kenapa?"


"Aku gugup." Sangat polos, Saida berucap ketus.


Hasan menahan tawanya yang ingin pecah, dengan sesungging senyuman manis "Kenapa gugup?"


"Karena kamu menciumku."


Cup!


"Begini?"


"Hasan!" Saida berontak, menjauhkan wajah Hasan dari hadapannya.


Hasan tersenyum menang "Siapa yang mendandanimu?"


"Ibu, kenapa?"


Hasan mengangguk, tersenyum singkat "Katakan pada Ibu, lain kali jangan terlalu banyak mengoles blush on."


Saida melotot, memegang kedua pipinya. Ia tahu betul, apa yang di maksud Hasan.


"Hasan, Saida. Tunggu apalagi, ayo keluar." Suara Fisya menengahi keduanya, mereka berdua mengangguk. Melihat itu, Fisya kembali melangkah pergi.


Hasan tersenyum begitu manis, ia tidak pernah menyangka gadis yang pernah ia benci dulu, adalah gadis yang sangat ia cintai sekarang. Tanpa meminta persetujuan Saida, segera Hasan membawanya dalam dekapan hangat.


Meskipun masih canggung, Saida tidak punya daya untuk menolak, ia pasrah merebahkan kepalanya di dada bidang Hasan.


"Terimakasih, bersedia menjadi bagian dari kehidupanku. Aku akan melindungimu, karena agama, kamu adalah amanah Allah." Hasan mengecup puncak kepala Saida.


Saida tersenyum sipu, menikmati kehangatan pelukan Hasan. Dimana, ia merasa ada kasih sayang yang tulus dari perlakuannya.


"Aku belum mencium tanganmu."


Hasan terkekeh mendengar ucapan lembut Saida, segera Hasan melepas pelukan. Menyodorkannya tangannya kepada Saida, segera Saida menyambut dan mengecup punggungnya begitu lembut.


"Ayo keluar."


"Mau di gendong?" sekali lagi, Hasan mencoba menggodanya.


"Ck!" Saida kesal, memukul lengan Hasan "Jangan menggodaku terus, nanti pipinya makin memerah."


Hasan tersenyum manis "Baiklah."


Hasan mengambil kursi roda Saida, menggendongnya dan mendudukkan Saida di sana.


"Kamu mau berbulan madu kemana?" tanya Hasan sambil mendorong kursi rodanya.


"Aku belum memikirkannya," sahut Saida.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan membawamu ke suatu tempat besok."


Mereka berdua tersenyum, dengan binar mata yang tidak pernah padam. Saling menyembuhkan degup jantung yang semakin dalam.


__ADS_2