
Fisya melangkah beriringan bersama kedua temannya, menuju tempat tujuan mereka, guna mengisi kekosongan waktu setelah selesai menjalankan ibadah salat dhuhur berjamaah bersama santri-santri lainnya.
"Tidak menduga kita akan bertemu lagi dengan Saida disini, ya?" ujar Muna, salah seorang temannya.
"Alhamdulillah, keadaannya sekarang sudah lebih baik daripada kemarin." Fisya menyambung, tersenyum manis di sana.
"Iya, diakan santriwati terbaik dipondok kita, Sya. Pastinya dia akan selalu bahagia karena Allah," sambung Zahra lagi.
Mereka bertiga berbincang, terus melanjutkan perjalanan.
"Apa kamu mau menerima perjodohan ini, Sein?"
Deg!
Pandangan ketiganya beralih ke sumber suara itu, langkah mereka terhenti disamping pohon rimbun. Terlihat, Husein dan seorang wanita berniqab hitam duduk berjarak di bawah kursi taman, ia tidak lain adalah, Liana. Fisya amat mengenalinya.
"Perjodohan?" cetus Muna menyela sedikit keras.
Saat bersamaan, Huisen dan Liana menoleh kepada mereka. Melihat Fisya berdiri disana, sontak Husein terbelalak kaget.
"Fi-fisya?"
Entah perasaan apa ini, Fisya tidak mampu mengendalikan dirinya, ia tidak juga berkedip menatap reaksi Husein. Bulir bening telah jatuh membasahi pipinya. Apa ia tidak salah dengar? Husein dan Liana baru saja membicarakan tentang perjodohan, untuk siapa? Mereka berdua?
"Fisya ...." Tanpa berpikir panjang, Husein berdiri dari kursi taman, menyusun langkah menuju Fisya.
Liana ikut berdiri, namun hanya mematung ditempatnya saja. Mengernyit heran melihat kepada Husein dan Fisya di sana.
"Kami duluan, Sya. Assalamualaikum" Zahra dan Muna bergegas meninggalkan Fisya, ketika melihat Husein sudah dekat.
Fisya mengusap kristal bening di pipinya, menatap dekat mata Husein yang sudah mengambil posisi berdiri di hadapannya sekarang.
"Selamat, Kak Husein." Berat, sesak dan terasa menyayat. Fisya menyusun langkah pergi darinya.
"Fisya, Fisya tunggu!" Husein bergegas menyusul langkahnya.
Fisya berhenti, masih berposisi membelakanginya "Ada apa?"
"Saya bisa jelaskan apa sebenarnya yang terjadi," ungkap Husein bernafas sesak.
Fisya menunduk, menetralkan sakit di jantungnya sambil berbalik badan "La ba'sa, Kak."
"Saya tahu, kamu kecewa mendengar ucapan Liana tadi. Jika sudah waktunya, saya akan menjelaskan kepadamu, apa peran Liana di masa lalu saya, Sya," ungkap pelan Husein.
Fisya tersenyum "Saya tidak berhak untuk apapun yang menyangkut kepentingan, Kak Husien."
"Secepatnya, kamu akan memiliki hak untuk hal tersebut," sambung Husein.
__ADS_1
Sontak Fisya mendongak menatap wajah tampan Husein, pria itu tersenyum sejenak sebelum akhirnya menunduk, meniggalkan kerutan di kening Fisya.
"Assalamualaikum?" Seruan lain menengahi keduanya, mereka menatap.
"Waalaikumsalam," serentak keduanya. Umar segera menghentikan langkahnya di sebelah Hussein, sambil berucap "Afwan menganggu. Ustad Harun meminta Kak Husein segera menemuinya."
Husein mengangguk, kembali memandang Fisya "Nanti kita bicara lagi, assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam."
Fisya menatap punggung keduanya semakin jauh, setetes kristal bening jatuh di pipinya 'Aku terluka, sejauh apa sebenarnya hubungan Kakak dengan Mbak Liana? Berperan sebagai apa dia di dalam kehidupan masa lalu kamu?'
"Assalamualaikum, Mbak Fisya."
Suara lembut seseorang menyapa, Fisya berbalik menatap wajah cantik Saida, memutar roda kursinya mendekat pada Fisya.
"Waalaikumsalam," Fisya mengusap habis air matanya "Saida, kamu di sini."
🌷
Hasan masih sedia berbaring di atas kasur bersebelahan dengan Umar yang masih sibuk dengan buku di genggamannya.
"Saya bisa sendiri!"
"Saida Nur Fauziana, apa benar nama itu milikmu?"
"Te-terimakasih."
"Anda tidak mengenai saya, dan saya tidak pula mengenali Anda. Kita asing, itulah sebabnya saya tidak punya alasan untuk bercerita apapun padamu. Terlebih, tidak baik seorang wanita dan pria duduk berdua di tengah kesunyian--"
Hasan tersenyum miring, menatap nanar pada selembar foto yang ada di genggamannya sekarang. Sejak pertemuan pertama mereka di toko buku kemarin, sampai akhirnya bertemu lagi di pondok pesantren Al-Furqon ini, lalu sempat beberapa kali bercengkrama dalam perbincangan singkat.
Tak bisa di pungkiri, pesona gadis berkacamata itu berhasil membuat Hasan merasakan kehadiran sesuatu yang ganjil setiap kali melihat atau memikirkannya.
"Apa dulu kami saling mengenal?"
"Siapa?" tanya Umar menyahut, masih menatap setiap bait di dalam buku.
"Aku dan dia. Saida ...." Umar terdiam, menatap Hasan masih memandang foto gadis tertutup coretan pena itu dari samping "Jika iya, rasanya aku ingin segera mengingatnya. Ingin tahu, seberapa besar perannya disana."
Umar menghela nafas "Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Tidak baik, lebih baik kamu membaca buku ini." Umar mengulurkan buku yang mulanya ia baca.
Hasan menoleh segera mengambil "Cobaku lihat."
Hasan menyiman foto Saida kedalam ranselnya. Sebelum akhirnya menghabiskan waktu membaca buku pemberian Umar.
"Nanti sore temani aku kepasar, San. Ada beberapa alat lukis yang kurang."
__ADS_1
"In Sya Allah Mar."
🌷
Fisya dan Saida duduk bersama di kursi taman, menatap jauh kedepan melihat kosong kearah yang sama.
"Sejauh apa hubungan Mbak Fisya dengan Kak Husein?" Saida membuka bicara.
Fisya terkekeh kecil "Apa terlihat sudah begitu jauh?"
Saida ikut terkekeh "Entahlah."
"Kamu apa kabar, Saida?" Fisya mengganti topik pembicaraan.
"Seperti yang Mbak Fisya lihat."
Fisya menoleh padanya "Kamu baik, hatimu?"
Irama gesekan ranting saling menggoyang menjadi nada yang mengiringi perbincangan keduanya. Saida tidak langsung menjawab, perbincangan Hasan dan Fisya hari itu malah menari-nari di benaknya.
"Dasar buta! Saida itu lumpuh, tidak sepertimu! Mana mungkin dia bisa mengganti posisi kamu di hati saya, Sya!"
Tik!
Tidak ada yang lebih baik selain membiarkan air matanya kembali mengalir, karena perempuan yang duduk di sampingnya sekarang adalah alasan Hasan menolaknya hari itu, hari bersejarah yang tidak mudah ia lupakan begitu saja. Segera Saida mengusapnya "Karena Allah, hati saya sudah sedikit membaik daripada sebelumnya, Mbak."
"Saya minta maaf, karena saya, karena mencintai saya, Hasan menolak kamu waktu itu." Fisya mengelus tangan lembutnya.
Saida menatap langit biru, berusaha menahan air matanya agar tidak lagi jatuh "Memang benar, tidak ada yang lebih sakit bagi seorang wanita, selain ditolak dengan pria yang ia cinta. Bukan hanya malu, rasa sakit dan kecewa itu sungguh luar biasa, Mbak. Tapi sekali lagi, karena Allah saya ikhlas dan percaya, ini adalah yang terbaik."
Fisya mendekap erat Saida, Saida yang sudah terisak keras membalas pelukannya "Hasan sudah mendapatkan balasannya karena menyakitimu. Dia amnesia di saat yang bersamaan, tepat ketika kamu pergi meninggalkan pondok dengan luka malam itu."
"Saida tidak pernah meminta untuk dibalas kan, Mbak. Saida hanya ingin melupakan kejadian hari itu, hanya itu saja, semoga Allah mengangkat penyakitnya."
Fisya semakin mempererat pelukannya.
"Assalamualaikum?" Sapaan lembut seseorang memutuskan perbincangan hangat keduanya, mereka melepas pelukan menatap wajah seri Husein yang sudah mengambil posisi di sebelah Fisya.
"Waalaikumsalam."
"Seru sekali berbincangnya. Apa saya menganggu?" tanya Husein menatap jauh kedepan.
"Tidak sama sekali, Kak." Saida menjawab, sementara Fisya hanya menunduk saja.
"Jadi, Fisya. Sepulang dari sini, kamu mau memberikan alamat rumah kamu kepada saya?"
Deg!
__ADS_1
Sontak Fisya mendongak, menatap Husein dari samping pria itu tidak juga memandangnya.