Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
#cinta- untuk- Saidah part- 08 | sapu tangan biru


__ADS_3

"Hasan?" Husein datang, menyentuh pundaknya, Hasan menoleh "Ayo jalan."


Ia pasrah, di rengkuh Husein semakin jauh, sesekali Hasan menatap kebelakang. Masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Benarkah gadis itu adalah wujud sempurna dari seorang 'Saida Nur Fauziana?'


Husein menghentikan langkahnya begitupun Hasan. Kini mereka berdua berhadapan dengan sang Abi, Umi juga Umar di sana.


"Darimana saja, San? Umar bilang kamu tiba-tiba pergi tadi." Abinya membuka bicara, menatap serius wajah murung Hasan. Tentu saja, nama dan wajah gadis tadi masih meninggalkan jejak di ingatannya.


Hasan menggeleng pelan "Bukan apa-apa, Bi."


Ustad Harun tahu, ada sesuatu yang tersirat di balik wajah murung putranya. Ustad Harun mengalihkan pandangannya kepada Husein, dengan raut seolah bertanya, ada apa dengan Adiknya itu?


Husein yang menyadarinya, segera memandang kepada Umar "Umar, kalian berdua duluan saja, saya ketinggalan sesuatu di dalam bis."


Umar mengangguk, merengkuh pundak kekar Hasan, dan membawa pria tampan itu berlalu dari sana dengan salam.


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa wajah Hasan menjadi begitu murung?" tanya Abi kepada Husein.


Belum menjawab, Husein terlihat menghela nafas panjang, ia menunduk sambil berkacak pinggang "Saida. Dia ada di sini, Hasan tidak sengaja bertemu dengannya."


Umi Laila mendekap mulutnya "Bagaimana mungkin, Nak?"


Husein menggeleng pelan "Entahlah, Mi. Ketika ada seseorang yang memekikkan namanya, saat itulah wajah Hasan jadi murung. Apa mungkin ia mengingat sesuatu tepat ketika mendengar nama Saida?"


"Kita harus mencari Saida. Menceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada Hasan, agar jika nantinya mereka kembali bertemu, Saida bisa mengasingkan dirinya di depan Hasan untuk saat ini," jelas Abi Harun.


"Baik, Bi. Umi akan mencari Saida, dan membawanya kemari. Sebentar ya, assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam." Umi Laila berlalu masih syok mendengar penjelasan Husien.


Saida menatap kosong kedepan. Genangan air matanya tertahan setelah mendengar cerita tentang Hasan.


"Pantas saja, saat pertama kali kami bertemu, Hasan seperti pria asing di mata saya," ungkap Saida.


Umi Laila mengelus punggung gadis berkursi roda itu "Allah memiliki rencana ini, Saida. Bukannya kami suka melihat Hasan amnesia, namun dengan keadaan ini, Umi rasa dia berubah menjadi lebih baik sebelumnya, maafkan dia, Saida."


Genangan air di bawah matanya jatuh begitu saja, tidak mampu terbendung dan tertahankan. Melihat itu, segera Umi Laila mendekap erat Saida, Ustad Harun dan Husien yang berdiri di belakang mereka berdua, hanya bisa mengambil nafas lega.

__ADS_1


"Setelah genap satu bulan Saida keluar dari pondok, tepat pada saat Hasan menolak Saida, Saida sudah memaafkannya. Saida sadar, bukan Hasan yang bersalah, bukan pula Umi dan Ustad Harun yang bersalah, tetapi semuanya adalah ketentuan Allah. Meskipun rasa sakit itu masih ada, Saida tidak bisa membohongi diri Saida sendiri, Umi. Saida merindukan kalian, Saida merindukan-Hasan." Saida memecahkan tangisnya di pelukan hangat Umi Laila.


"Maafkan kami, Nak. Umi selalu berdoa, semoga kelak kamulah wanita yang memiliki Hasan, Hasanlah pria yang memiliki kamu. Umi berharap, perpisahan ini adalah jalan untuk kembali menyatukan kalian," ungkap Umi Laila.


Saida melepas pelukan, melepas kacamatanya dan segera mengusap habis air matanya, ia berucap pelan kembali memasang kacamata miliknya "Saida tidak berharap apapun, Mi. Meskipun Saida masih mencintai Hasan, bukan berarti Saida masih punya harapan untuk bersamanya. Saida harap Umi tidak salah mengartikan kerinduan yang Saida punya untuk Hasan."


Saida mengusap air mata yang jatuh dari pipi Umi Laila "Saida tidak pantas bersanding dengan putra, Umi. Saida tidak punya kelebihan untuk di miliki seseorang, Saida percaya di luar sana, akan ada wanita yang jauh lebih segala-galanya daripada Saida, menjadi pendamping Hasan di dunia dan surga."


"Tapi kami ingin kamulah wanita yang memerani posisi itu, Saida." Ustad Harun menyela ucapannya


Saida mengalihkan pandangannya pada Ustadz Harun sambil menggeleng "Afwan, Ustad, Umi dan kak Husein. Saida izin pamit sekarang. Assalamualaikum?"


"Saida?" Tidak menghiraukan jeritan Umi Laila, Saida terus memutar roda kursinya hingga berlalu dari tempat itu.


Ia menangis memberontak pada diri sendiri, seharusnya kehidupannya sudah tenang tidak dibayangi dengan kisah pahit yang pernah mengobrak-abrik hatinya itu, bahkan sampai menyisakan rasa sakitnyasaat ini. Namun apalah daya? Allah punya cara dan ketentuan yang lebih baik. Meskipun tidak beralasan, mengapa mereka kembali dipertemukan disaat luka masih berbekas lebam, Saida segera mengusap air matanya.


Kreek! Kreek!


"Kenapa roda ini?" Saida terdiam di tempatnya, roda kursi yang ia duduki tidak mau berjalan seperti biasa "Berat sekali."


"Aw ...." Saida melihat telapak tangannya, sedikit bercak darah ada di sana.


"Assalamualaikum?" Suara lain hadir.


Saida mendongakkan kepalanya menatap wajah seri seseorang yang sudah mengambil posisi berjongkok di hadapannya. Mata Saida membulat sempurna, ia tidak mengerti apa yang Hasan lakukan sekarang? Berlutut di hadapannya? Untuk apa?


"Wa-alaikum-salam."


"Maaf sebelumnya." Hasan menunduk, meraih sebuah kerikil di bawah roda kursinya.


Deg!


Jantung Saida berdetak tidak seperti biasanya, ternyata degupan kencang itu tidak pernah berubah setiap kali bertemu dengan Hasan, apa ia masih mencintai pria tampan yang ada di hadapannya sekarang?


"Ini sebabnya, kenapa roda kursimu tidak berputar," Hasan terkekeh berdiri dari tempatnya, segera membanting jauh kerikil tadi "Tanganmu berdarah."


Hasan menelan salivanya, meredakan jantungnya yang berdetak cepat "I-ini hanya luka kecil. Terimakasih sebelumnya, assalamualaikum?"

__ADS_1


Saida memutar roda kursinya meninggalkan Hasan yang masih mematung di tempat "Saida Nur Fauziana, nama itu milikmu?"


Deg!


Saida terhenti di tempat.


Hasan berbalik badan, menatap punggung gadis berkursi roda itu "Benar nama itu milikmu?"


Saida mengatur nafasnya yang memburu "Na'am."


Hasan tersenyum menang, akhirnya ia menemukan pemilik dari nama indah yang selama ini ia cari, Hasan menyusun langkah mendekati Saida, mengambil posisi di hadapannya. Ia menatap mata indah di balik kaca beningnya, Saida menunduk gugup.


"Apa kita saling mengenal dulunya?" Hasan bertanya dengan nada pelan, namun terasa sangat menyesakkan dada Saida.


Nafas yang Saida kira akan mereda, malah memburu begitu cepat, ia beristighfar di hati "T-tentu saja ti-tidak. Kita baru saja bertemu."


Hasan menggeleng "Tapi namamu selalu menampakkan dirinya. Ini ...."


Saida memberanikan diri untuk menegakkan kepalanya, ia menatap pada sapu tangan biru muda yang di ulur Hasan kepadanya "Bersihkan lukamu, rasanya pasti sakit bukan?"


Saida tersenyum miring "Sakit, tetapi tenang saja, saya bahkan sudah merasakan yang lebih daripada ini."


Hasan mengernyit heran "Maksudmu?"


Saida tidak menjawab, ia meraih Sapu tangan dari genggaman Hasan "Terimakasih, nanti saya kembalikan."


Saida mengusap habis sisa darah di telapak tangannya sedikit mendesah kesakitan.


"Hati-hati. Tidak perlu dikembalikan, itu untukmu." Hasan tersenyum.


"Baiklah, saya perlu obat. Assalamualaikum?" Saida berlalu dengan cepat.


Hasan membalikkan badannya menatap kepergian Saida "Sampai bertemu lagi, saya tahu kita saling mengenal dulunya. Waalaikumsalam."


#Next


Sehat selalu ya 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2