Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part 2


__ADS_3

#Cinta_Untuk_Saida


#Religi


#Part_02 | Selembar foto


Ba'da isya diisi dengan ceramah singkat dari Hussein, lelaki tampan bergelar Abang bagi Hasan. Berdiri dengan percaya dirinya di depan podium, semua mata memandang kepadanya.


"Perbaiki sholat, maka In Sya Allah dia akan memperbaiki hidupmu. Banyak amalan yang di nilai baik oleh Allah. Namun salat menjadi amalan pertama yang di hisab, baik sholatnya maka baik pula seluruh amalnya, begitupun sebaliknya. Tidak peduli seberapa sibuk mengurus masalah dunia, sisakan sedikit saja waktu melakukannya.


Mengejar dunia, tidak salah. Namun ambil seperlunya saja, jangan sampai dunia yang bersifat sementara ini mengendalikan kita, tapi pastikan! Kitalah yang mengendalikannya. Genggam dunia di tanganmu, dan letakkan akhirat di hatimu."


Riuh desisan angin malam, menerobos masuk kedalam musholla. Ada yang manggut-manggut setelah mendengar penuturan jelas Husein, ada pula yang terdiam menunduk merasakan sesuatu memukul perasaannya.


Hasan ikut membisu, setelah satu Minggu berlalu, dimana dia sendiri tidak mengingat sang jati diri, hanya bisa menghela nafas panjang. Siapapun ia sebelumnya, ia hanya ingin memastikan bahwa memperbaiki diri adalah tujuan utamanya sekarang.


Fisya, gadis manis bermukena hitam masih di deretan makmum. Apa lagi yang ia rasakan, selain bertambah kagum pada Husein, sosok pria yang ia idamkan sejak pertama kali bertemu. Mempercayai bahwa bersamanya, maka surga akan terasa lebih dekat, namun pertanyaannya, adakah Husein merasakan hal yang sama?


"Sekian, terimakasih untuk perhatiannya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu." Kompak suara jawaban, Hussein segera meninggalkan mimbar, mengambil posisi di sebelah adiknya, Hasan.


"Masya Allah, terimakasih untuk materinya, Bang. Bagus." Hasan tersenyum manis menunjukkan jempolnya pada Husein.


Husein mendelik "Oya?"

__ADS_1


"Iya, Bang."


Husein tersenyum padanya "Alhamdulillah, suatu hari nanti Abang juga mau melihatmu berdiri di sana, membuat Umi, Abi dan Abang kagum."


"In Sya Allah, Bang. Doakan saja," sahutnya pelan.


Melihat kedua putranya, Ustadz Harun yang kebetulan duduk di samping Umar menangkap "Lusa, Abi ingin kamu mempersiapkan materi untuk maju."


"Tapi Bi-"


"Bismillah, In Sya Allah bisa." Ustadz Harun menyunggingkan senyuman manis.


Husein ikut tersenyum, mengelus pundak adiknya.


🌹


"Hasan, tidurlah. Tidak baik tidur terlalu malam, apalagi keadaanmu belum benar-benar baik. Ingat, kepala dan lenganmu itu masih dilapisi perban," ucap Umar.


Hasan menghela nafas berat setelah mendengar ucapan Umar barusan "Umar, apa yang terjadi padaku? Kenapa keluargaku enggan memberitahu alasan dibalik amnesia yang kualami ini?"


'Karena kami tidak ingin kamu tahu, bahwa sebelumnya kau adalah pria yang buta. Karena ulahmu, banyak yang tersakiti. Saida, gadis itu ... karena menolaknya kau jadi begini, San. Untuk sekarang, baiknya kamu tidak mengingat apapun dulu," batin Umar.


"Aku tidak berani mengambil keputusan untuk mengatakan yang sebenarnya, San. Tapi percayalah keluargamu pasti memiliki alasan baik, mengapa tidak ingin menceritakan apa yang terjadi padamu, sebelum kecelakaan itu." Umar menundukkan kepalanya.


Hasan berbalik memandang kepada Umar "Aku tahu, kalian orang baik, itulah alasan mengapa aku mempercayaimu, dan keluargaku. Meskipun sebenarnya aku benar-benar tidak tahu, siapa aku, siapa kalian, dan darimana asalku sebenarnya."

__ADS_1


Umar tersenyum padanya "Serahkan semua kepada Allah. Kamu akan baik-baik saja, suatu hari nanti kamu pasti akan menemukan setiap jawaban dari pertanyaanmu."


Hasan mengangguk mengerti, menyusun langkah kecil mengambil posisi duduk bibir ranjangnya "Buku keajaiban rezeki yang kita beli tadi siang dimana, Mar?"


Belum menjawab, Umar menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk miliknya "Ada di atas meja, cari saja di antara tumpukan buku-buku itu. Aku tidur duluan ya?"


Tanpa menunggu lama, Hasan melangkah menuju meja kecil yang terletak tidak jauh disamping kasurnya. Mulai mencari sebuah buku yang sejak tadi ingin sekali ia baca, membuka satu persatu lapisan buku, ia tetap tidak menemukannya.


"Dimana? Aku tidak menemukannya." Sedikit berteriak, Hasan terus mencari.


"Ada, lihat baik-baik, San. Aku mengantuk!" cetusnya.


Tidak menyerah, Hasan terus mencari. Mengacak susunan buku tinggi yang mulanya tersusun rapi.


"Tidak ada." Hasan bermonolog, memandang satu persatu buku yang berserak di meja berukuran sedang itu.


"Um-" Ingin membangunkan Umar, namun pandangannya tertuju pada sebuah kertas foto, berada di antara banyak buku koleksinya dengan Umar. Berposisi terbalik, foto berukuran kecil, Hasan meraihnya.


Dibaliknya terdapat sebuah nama, tertulis begitu rapi, Hasan membaca "Saida Nur Fauziana?"


Begitu penasaran, segera Hasan membalikkan foto tersebut. Keningnya mengernyit heran, foto seorang wanita bergamis abu-abu ada di sana, namun sayangnya bagian wajahnya tertutup dengan coretan pena.


"Foto siapa ini?" monolognya.


Enggan terlalu memikirkan, Hasan meletakkannya di dalam sebuah buku. Meraih buku keajaiban rezeki yang memunculkan dirinya sendiri di hadapannya Hasan. Segera saja ia mengabiskan malam dengan membaca buku tersebut

__ADS_1


Terimakasih selalu menyempatkan waktu untuk membaca 🥰


__ADS_2