
Jika bukan denganmu, tidak mengapa. Aku percaya, ada pelangi setelah hujan mereda (Saida Nur Fauziana)
Jika bukan denganku, aku bisa merela. Meskipun luka ada, aku bahagia, karenamu bahagia (Muhammad Hasan Al-asrof)
__________
Sudah hampir satu jam, dokter tidak juga keluar dari kamar. Umi Laila masih menangis di kursi duduk, ditemani Fisya yang tiba beberapa menit lalu.
"Kenapa keadaan Hasan bisa memburuk, Mi?" Fisya membuka bicara, masih memeluk erat mertuanya.
"Entahlah, Umi pun tidak tahu. Tiba-tiba saja, Hasan menangis, setelah itu detak jantungnya melemah begitu saja. Umi takut, Nak." Umi Laila berucap serak di antara tumpukan air matanya yang menetes.
Fisya terdiam, memahami ucapan Umi. Apa yang sebenarnya terjadi pada Hasan? Menangis? Kenapa Hasan menangis?
"Berdoa saja, Mi. In Sya Allah Hasan akan baik-baik saja," sambung Fisya.
Menghela nafas begitu berat, Fisya tidak sadar setetes air matanya menetes. Bagaimanapun, tentu saja ia masih jelas mengingat, bagaimana Hasan menolak mentah-mentah perjodohannya dengan Saida untuk dirinya, saat itu.
Ceklek!
Sontak perhatian keduanya teralih, pintu kamar tempat Hasan di rawat terbuka, bukan karena seseorang ingin keluar, ternyata beberapa dokter lainnya ikut melangkah masuk kedalam kamar tersebut.
Nafas Umi Laila terasa sulit terhela, apa yang terjadi pada putranya di dalam sana?
"A-apa yang terjadi, Fisya?" tanya gugup Umi Laila.
Dengan nafas tak karuan, Fisya menyahut "Entahlah, Mi."
Umi Laila berdiri dari duduknya, mendekati pintu kamar yang sudah kembali terkunci. Ia mencoba mengintip di sana, namun sayangnya terhalang oleh beberapa Suster yang menanganinya.
"Coba, coba sekali lagi." Perintah seorang dokter, Umi Laila dengar dengan jelas.
Menangis tak karuan, Umi Laila berucap "Selamatkan putraku ya, Rabb."
Tit, tit, tit.
Detak jantung Hasan masih bersuara keras di dalam. Senada dengan detak jantung Umi-nya yang sesak.
"Umi ...." Fisya datang, merengkuhnya dari belakang "Jangan begini, nanti kesehatan Umi juga terganggu."
Umi Laila menangis sendu, di pelukan menantunya.
🌹
Saida tidak berkedip sedetikpun, mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia seolah sedang berpijak di atas awan saja. Saida menatap rodanya yang seolah melayang di udara.. Apa ia hanya bermimpi lagi?
"Assalamualaikum, Saida?"
__ADS_1
Begitu serak dan lembut, suara seseorang menyapanya. Saida mendongak menatap wajah tampan yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.
"Waalaikumsalam. Hasan?"
Saida menatap lekat wajah pucatnya, putih dan begitu bersih. Tidak bisa di tahan, Saida menangis memandangnya penuh harapan.
"Apa kabarmu?" Hasan bertanya pelan, masih bersitatap begitu lekat.
Saida mengangguk pelan, menangis manja menatapnya "Baik, aku baik. Kamu?" tanya balik Saida.
Hasan tersenyum, tiba-tiba mengangkat sebelah tangannya dan mengusap air mata Saida "Kenapa menangis, kalau baik?"
Saida terkekeh kecil di selingan air matanya yang terus jatuh "Tidak, aku tidak menangis."
Hasan tersenyum manis "Dasar cengeng."
"Hiks ...." Tidak bisa ia tahan, Saida kembali sesegukkan begitu merindukan Hasan.
"Saida, suka tempat ini?"
Tidak mampu bicara, Saida kembali mengangguk pelan. Memanjakan matanya untuk memandang wajah pucat Hasan.
"Kamu sakit?" tanya Saida lembut.
Hasan terkekeh kecil, kemudian menggeleng pelan "Tidak."
Hasan menghela nafas tertahan "Aku mencintaimu, Saida."
Saida mengangguk cepat "Saida, juga"
"Kalau begitu pulanglah, tempat ini memang indah, tapi belum saatnya kamu datang kemari."
Kening Saida mengerut bingung mendengar ucapannya, meskipun ucapan Hasan begitu lembut, mengapa mampu mematahkan asanya perlahan?
"I-ini dimana, Hasan?"
Hasan tersenyum manis "Pulanglah, aku ikut bahagia karena kebahagiaanmu."
"Aku akan pulang, jika itu hanya bersamamu."
Hasan menggeleng "Aku tidak bisa bersamamu. Aku tersesat, aku kehilangan arah untuk menemukanmu. Pulanglah, sayang. Jaga dirimu."
"Kenapa tidak bisa?" cetus kesal Saida.
Hasan tersenyum miring, setetes kristal bening jatuh di pipinya begitu saja. Hasan mengusap lembut kepala Saida yang di lapisi hijan putih berseri "Cinta ini untuk, Saida. Meskipun mata tidak lagi bisa menatap, cinta untuk Saida, akan selamanya ada."
"Kalau begitu, ayo pulang bersama?" Saida masih terus menangis, menggenggam pergelangan tangan Hasan yang terlapis kain putih bersih.
__ADS_1
Hasan menggeleng pelan, melepaskan tangan Saida yang masih menggenggamnya "Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu, jangan lupa mencari jalan mulus, aku takut rodamu tersangkut lagi."
Hasan tersenyum sekilas, sebelum akhirnya berbalik badan menyusun langkah pergi. Melihat itu, Saida semakin menangis, meskipun ia tidak tahu, Hasan kemana, tetap saja kepergian Hasan selalu meninggalkan jejak luka di relungnya.
"Kalau kau pergi, siapa lagi yang sudi menolongku? Bahkan, rela berhujan-hujanan demi menyelamatkanku."
Deg!
Ucapan serak Saida menghentikan langkah Hasan. Ia menyentuh dadanya yang remuk, bukan Saida saja, berpisahnya dua raga ini pun ia tidak rela.
"Kau mau kemana, Hasan? Sudah cukup bermainnya, ayo pulang."
Hasan mengusap air matanya yang sudah jatuh, sebelum akhirnya berbalik badan. Menatap wajah kusut Saida yang dipenuh air mata.
"Apa kau masih percaya padaku?" tanya Hasan bernada serius.
Saida menunduk, tidak mampu menjawab pertanyaan Hasan.
"Baiklah. Aku paham maksud diammu, pulanglah. Kehilanganku , tidak akan membuatmu kehilangan segalanya, bukan?"
Saida mendongak menatap mata Hasan yang berair. Saida menggeleng pelan "Aku ingin bersamamu."
Tidak menjawab pertanyaan, Hasan menatapnya sendu begitu rapuh "Hasan? Ayo pulang, ini bukan dunia kita!"
Hasan berbalik badan menyusun langkah semakin jauh "Hasan ....."
Saida mendekap mulutnya. Memandang punggung Hasan yang semakin jauh.
"Hasan ... Hasan ...." Saida berteriak keras, terduduk di antara awan-awan putih.
Ia menggerung keras, membiarkan tangisnya terdengar begitu jelas.
"Hasan, kembali untuk cinta yang kau punya demi Saida!"
🌹
Umar menatap lekat undangan pernikahan yang ada di genggamannya sekarang. Beberapa menit lalu, seseorang mengantarkan Undangan ini kemari. Ya, undangan pernikahan bertulis nama Saida dan Ustad Syafiq. Hatinya ikut remuk, menjadi saksi bisu dari awal hingga akhir kisah cinta keduanya.
Di sisi lain, Saida menatap sendu ke segala penjuru halaman rumahnya yang sudah di dekorasi sedemikian rupa. Tentu saja untuk acara pernikahannya yang di adakan esok hari, menggenggam sapu tangan biru pemberian Hasan, Saida menangis di tempat.
Mimpinya tadi malam bertemu Hasan, membuat irisan luka itu tambah dalam. Hasan yang begitu ia percaya, benar-benar tidak menepati janjinya.
'Semua sudah berakhir, Hasan. Entah itu cinta atau rasa yang ada diantara kita, meskipun di atas keterpaksaan, kau tidak akan menemukan aku lagi dalam hidupmu. Gadis bodoh pemilik cintamu.'
Saida memeluk erat sapu tangan biru muda itu.
#Next
__ADS_1