
Semua pandai perihal mencintai. Namun, kebanyakan dari mereka selalu gagal dalam urusan melupakan (Saida Nur Fauziana)
_________
Takut, bercampur cemas. Apa kali ini ia salah lagi? Telah mempercayai Hasan akan memberikan kebahagiaan kepadanya?
Sudah terlewat lima hari, setelah kepulangannya dari pondok pesantren Al-Furqon. Hasan tak juga memunculkan dirinya atau hanya sekedar mengabari seperti janjinya.
Begitu menunggu dengan ketidak sabaran, Saida memutuskan untuk pulang, meminta izin pada pemilik pondok Al-Fatihah untuk membiarkannya tinggal beberapa hari di rumah. Ya, hanya untuk menunggu kedatangan Hasan, pria yang menjanjikan cinta suci padanya.
"Melamun lagi," suara lembut Ibunya terdengar, membuyarkan lamunan panjang Saida. Saida yang terlalu murung beberapa hari terakhir ini.
Saida tersenyum menatap Ibunya, ia mengusap wajahnya gusar, membiarkan Ibunya duduk di sebelah, merengkuh pundaknya dari belakang "Jangan terlalu di pikiran, Nak."
Saida mengangguk, tersenyum miring di sana "Saida hanya takut, Bu."
"Ayah sudah mengingatkanmu untuk itu, jangan membuang waktu sia-sia, Saida. Kembalilah ke pondok!" Suara keras Ayahnya sudah menyela, selalu mampu meremukkan jantungnya tiba-tiba.
"Ayah, jangan begitu, kasihan putrimu." Hanya Ibunya saja, yang mengerti dan selalu menjaga perasaannya.
Memang, mereka berdua sudah memaafkan Hasan. Saida sendiri pun sudah cerita, apa yang terjadi padanya dan Hasan di Al-Furqon, sekaligus janji-janji yang pernah pria tampan itu katakan. Semua sudah ia adukan pada kedua orangtuanya.
Awalnya tidak menerima, tetapi karena rasa sayang pada Saida membuat posisi Hasan di terima. Meskipun Saida tahu, Ayahnya masih tidak percaya pada Hasan sepenuhnya.
Kring ... Kring ....
Telepon rumah berdering nyaring, membuat mata Saida membulat sebagaimana setiap kali mendengar nada nyaring itu. Senyumnya mengembang, dengan cepat memutar roda kursinya menuju meja kecil di sudut ruangan.
'Aku tahu, kamu tidak akan menghancurkan kepercayaanku dan kedua orangtuaku, San' Saida membatin gugup sekaligus senang, segera ia mengangkat telepon.
"Assalamu'alaikum?" Penuh kebahagiaan, Saida tidak melepas senyuman.
[Waalaikumsalam, Ibu Mila-nya ada?]
Deg!
Sakit, pedih! Saida mengalihkan pandangannya kepada Ibunya. Mila yang mengerti maksud Saida segera menghampiri dan meraih telepon yang Saida ulur padanya.
"Iya, Mbak?"
Saida memutar roda kursinya menjauh, termenung begitu jauh, tidak menyadari bulir bening yang sejak tadi tergenang jatuh begitu saja di pipinya. Tanpa sadar, ia tidak melirik kepada Ayahnya yang menatap iba kepada putri malangnya itu.
Membuka pintu kamar, Saida segera masuk kedalam. Menatap jauh keluar jendela kamar, yang tertutup embun akibat air hujan diluar. Gema nyaring suara rintiknya menusuk relung Saida.
Hujan yang memaksanya untuk mengingat masanya dengan Hasan.
"Saida?" Hasan berdiri tepat didepannya, ia berjongkok mengimbangi tinggi Saida.
Saida menatap, bibirnya gemetar, wajahnya begitu pucat "Ha-hasan?"
"Tidak apa-apa, kamu pasti baik."
__ADS_1
"Batu tidak berguna. Kamu pucat, ayo berteduh."
Tik!
Airmata kembali jatuh, segera ia mengusapnya.
"Aku menunggumu, apa kau tidak datang untukku? Jangan paksa aku membencimu saat ini, aku benar-benar mencintaimu dan mempercayaimu. Kau dimana?" Saida pasrah, memberikan air matanya jatuh membasahi pipinya.
Mata beriris cokelatnya tetap tertuju pada rintik hujan di luar sana.
"Kamu mau menjalin hubungan ta'aruf dengan saya? Soal CV, saya akan mengantarnya ke rumahmu, saat saya menjemputmu kembali ke pondok pesantren Al-Hidayah. Kamu mau?"
Gemetar, Saida menyandarkan kepalanya kesandaran kursi roda. Masih membiarkan ruang dimatanya untuk mendaratkan air mata.
"Ayah beri kamu kesempatan dua hari," Sontak Saida terkejut mendengar suara bariton Ayahnya ada, segera ia menoleh ke arah pintu kamarnya yang sudah terbuka "Jika ia tidak datang, menepati janjinya seperti yang kamu katakan, Ayah akan menerima lamaran, Ustad Syafiq!"
Deg!
Menyakitkan sekaligus menyesakkan, Saida tidak berkedip. Memandang punggung Ayahnya semakin jauh.
Isakan tangisnya terdengar lirih, harapan demi harapan mengiris hatinya perlahan. Meninggalkan luka menganga lebih lebar daripada sebelumnya.
Ustad Syafiq, salah satu pengajar di pondok yang ia tempati. Sudah dua kali menanyakan kesiapan Saida untuk menikah, namun karena sisa cinta yang ia punya untuk Hasan selalu menjadi alasan utamanya menolak.
Kali ini, jika Hasan benar-benar mengingkari janjinya dan menyakiti hatinya untuk kedua kali, apa Saida masih bisa menolak lamarannya? Ya, dialah pria tampan yang pernah menolongnya saat Ayunda membuang kacamatanya hari itu.
________
"Ini."
Deg!
"K-kamu?"
Ustad Syafiq, pria tampan berbaju Koko putih dengan peci menutupi kepala. Tersenyum begitu manis memandang kepada Saida.
"Bisa bangun sendiri?"
Saida mengangguk, segera bangkit perlahan dan kembali duduk di kursi rodanya.
"Te-terimakasih, Ustad."
Ustad Syafiq mengangguk pelan "Sama-sama, saya tidak menduga Ayunda melakukan hal tercela ini kepadamu."
"Ustad, melihatnya?"
Syafiq mengangguk "Ya, apa ada yang sakit?"
Saida menunduk, menggeleng pelan "Saya pikir, Ustad tidak ikut kemari."
"Ayahmu, yang meminta saya untuk kemari, menjagamu. Kudengar, pria itu di sini."
__ADS_1
Ya, Ustad Syafiq memang mengetahui cerita kelamnya dengan Hasan. Siapa lagi, jika bukan sang Ayah yang menceritakan. Saida tidak tahu harus menjawab apa, segera ia hanya mengangguk.
"Soal Ayunda, saya minta maaf." Ustad Syafiq menatap jauh kedepan.
"Bukan kesalahan, Ustad. Ayunda-lah yang menyakiti saya," ungkap Saida.
Syafiq mengalihkan pandangannya kepada Saida dari samping, gadis cantik yang masih suka membuatnya kagum "Karena saya, dia menyakitimu. Karena cinta yang dia punya untuk saya, dia menyakitimu. Karena tidak terima saya menyukaimu, dia menyakitimu, Saida."
Ya, itulah alsan Ayunda membencinya. Menjadi pula alasan kedua Saida selalu menolak Syafiq dalam kehidupannya. Tentu, tidak ingin menyakiti hati Ayunda.
__________
"Saida?" Seruan lembut Ibunya lagi-lagi membuyarkan lamunannya, segera Saida mengusap air matanya.
Ibunya telah mengambil posisi berdiri di belakangnya, mengelus punggung gadis berkursi roda yang memiliki wajah cantik alami itu.
"Jangan pikirkan kata-kata, Ayah. Yakinkan saja hatimu, dan perbanyaklah berdoa, Ibu yakin Hasan pasti akan datang menjemputmu." Baginya, setelah Allah hanya Ibunya yang mampu menjadi obat penenangnya.
"Bagaimana, jika dalam waktu dua hari, Hasan tidak datang, Bu? Apa Ibu dan Ayah akan menerima lamaran, Ustad Syafiq?" tanya Saida serak.
"Stt ...." Ibu memeluknya dari belakang "Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi."
Saida memecahkan tangisnya di pelukan Ibu, berusaha meredakan ketakutan dan kepedihan di relungnya.
'Datanglah, Hasan. Jangan patahkan hati dan harapanku untuk kedua kalinya.'
🍁
"Apa yang terjadi pada Hasan, Bi?" Begitu cemas, Umi Laila, Umar dan Husien yang melihat wajah murung Ustad Harun setelah keluar dari ruangan dokter.
Ustad Harun menghela nafas panjang, mendudukkan lemah dirinya di kursi panjang disana. Segera semua menyusul, berdiri di hadapannya.
"Apa yang terjadi pada Hasan, Bi? Jangan buat kami cemas!" gerung Umi Laila menangis, menggenggam tangan Suaminya.
"Hasan--Hasan, koma."
Deg!
Sakit rasanya, Umi Laila lemah tidak berdaya memopong tubuhnya sendiri, ia terjatuh di pelukan Husein.
"Astagfirullah, ini semua salah, Umi! Umi yang melarangnya untuk mengubungi Saida waktu itu!" Mengutuk diri sendiri, Umi Laila menangis kencang.
"Istighfar, Mi. Semua sudah ketentuan Allah." Hussein menatap iba Umi-nya, jauh di lubuk hati, Husein pun sedih mendengar ini. Untuk menenangkan Umi, ia harus pura-pura kuat.
Segera, Husein mendudukkan Umi Laila di samping Abi-nya. Melihat kondisinya, segera Ustad Harun memeluk erat Istrinya, mereka berdua menangis.
"Kapan Hasan akan siuman, Ustad?" Umar menyambung tidak kalah lirih.
Ustad Harun menggeleng pelan "Dokter tidak bisa memutuskan kapan Hasan akan siuman."
"Ck!" Umar menumbuk dinding, meletakkan kepalanya di sana.
__ADS_1
Sementara Husein, ia mengintip jendela kamar, menatap Hasan adiknya terbaring lemah di sana. Tidak mampu ia tahan, air matanya menetes, bagaimana pun ia seorang Abang. Sakit melihat adiknya harus ada pada keadaan buruk ini. Segera, Husein mengusap habis air matanya.
#Next