Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
#Cinta_Untuk_Saida #Religi #Part_06 | Cemburu


__ADS_3

Mobil mewah abu-abu memasuki wilayah pesantren, tepat di parkiran mobil terhenti, Umi keluar menggandeng Hasan yang masih terlihat pusing.


"Abi?" Ustadz Harun mendekati Umi Laila beraut cemas menatap wajah pucat Hasan.


"Hasan, kenapa, Mi?" Menggenggam sebelah tangan Hasan, Abi Harun gugup.


"Dia trauma, kepalanya pusing."


"Astagfirullah, Umar?" Ustad Harun mengalihkan pandangan kepada Umar yang berdiri di tengah-tengah kerumunan santri.


Berjalan menghampiri mereka, Umar menyahut sopan "Na'am, Ustadz."


"Bawa Hasan ke asrama. In Sya Allah keadaannya akan membaik setelah istirahat," sambung Ustad Harun.


Merengkuh tubuh kekar Hasan, Umar menurut. Meninggalkan keramaian dengan salam, sebelum akhirnya menyusun langkah pergi.


"Afwan ya Ustadzah," Ustadzah Laila menatap kepada Fisya "Apa pengajar kami bersedia kemari?"


Ustadzah Laila tersenyum manis "Ada di mobil. Liana? Keluarlah."


Semua mata tertuju kearah mobil. Satu kaki kanan terlapis kaus hitam terlihat keluar di sana, mata tercengang, mematung kearahnya. Beberapa detik, telah sempurna bentuk wanita shalihah yang berwujud nyata di hadapan mereka.


Berlenggang pelan tidak bermaksud menggoda kaum Adam, Liana tersipu di balik niqabnya menatap seluruh santri yang menyambut kedatangannya.


Berdiri di sebelah Ustadzah Laila, Liana menyapa "Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam," jawab seluruhnya.


"Nah, inilah Kak Liana. Selain pandai agama, In Sya Allah dia juga pintar menyanyi shalawat," sambung Ustadzah Laila.


Liana menunduk tersenyum manis di balik niqabnya, benar-benar seperti bermimpi takdir mengantarnya kemari. Fisya, dia manggut-manggut ditempat, tersenyum lebar menatap kepadanya. Husein? Terdiam di tempatnya, mematung seolah tak percaya, Liana, gadis itu berdiri di hadapannya sekarang.


"Kalau mau tanya tentang kemahirannya dalam bernyanyi, sepertinya Husein adalah narasumber yang baik untuk di wawancarai." Menyambung ucapan barusan, Ustadzah Laila terkekeh.


Deg!


Saat bersamaan, pandangan mata Husein dan Fisya bertemu. Jelas terlihat, ada kecemburuan di bola mata Fisya. Husein menggelengkan kepalanya pelan, berharap Fisya tidak berfikir terlalu jauh.


"Kamu bersedia 'kan, Husein?" Perhatian Husein teralih, menatap kepada paras riang Uminya.


"Mm ...." Tidak ada jawaban, Husein mengalihkan pandangan matanya kepada Liana, yang menunduk tersipu malu.


Menyela pembicaraan mereka dengan sedikit sunggingan kecil, Ustad Harun bicara "Sudah, sudah. Ayo lanjutkan latihannya, kebetulan Kak Liana sudah ada, Fisya dan kelompok Qasidah lainnya silahkan latihan sekarang."


Perintah Ustadz Harun di patuhi dengan baik, para santri mulai bergerak menuju tempat tujuan mereka masing-masing. Liana yang ramah, melangkah beriringan bersama Fisya.


Husein mendongak menatap punggung keduanya yang semakin jauh, gelisah. Ia membatin di hati 'Seandainya dari awal aku tahu, perempuan yang di maksud Umi adalah, Liana. Aku pasti akan terlebih dahulu menjelaskannya pada, Fisya. Tetapi qadarullah, semua akan berjalan dengan sebaik-baiknya takdir sang khalik.'


🌹


Kesibukan santri tidak luput dari perhatian Ustad Harun dan Istri. Mereka sesekali melihat dan menilai penampilan mereka. Hasan masih berdiam di kamar sendirian, waktu istirahat di gunakannya untuk kembali mencari materi terbaik agar bisa menjadi pemenang di perlombaan nanti.

__ADS_1


Tidak juga melewatkan kisah cinta yang tak kesampaian antara dua insan yang sebenarnya memiliki peran penting dalam sebuah perasaan.


Tepat di waktu istirahat, para santri diperbolehkan untuk melakukan apapun untuk menenangkan. Fisya memutuskan untuk menyusun langkah mendekati Umar, sedari dulu ia selalu kegum dengan karya kaligrafi milik pria berkulit sawo matang ini.


Tetap menjaga jarak, di temani salah seorang teman, Fisya menyapanya "Assalamualaikum, Umar?"


Umar memandang, menjawab salam sambil tersenyum "Waalaikumsalam, Fisya?"


"Boleh saya lihat karya-karya kamu?"


"Masya Allah, siapa yang melarang? Silahkan, sekalian dinilai," sahut Umar.


"Terimakasih." Fisya memandang setiap ukiran indah di atas kertas lebar berwarna putih di hadapannya. Masih sama, setiap coretan indahnya mampu membuat Fisya tercengang, kagum sekaligus tersenyum girang.


"Bagaimana? Apa ada yang kurang menurutmu?" tanya Umar.


Masih menyungging senyum manis, Fisya menjawab "Ada yang kurang."


Kening Umar mengernyit bingung "Oya? Apa yang kurang? Yang mana? Saya bisa menambahnya."


Mendengar jawaban Umar, Fisya tertunduk sambil tertawa kecil ""Kurang banyak, saya bisa menempelkannya di dinding untuk koleksi."


"Huft ...." Umar terhela lega "Fisya!"


"Hahaha ...." Mereka tertawa renyah di sana, membuat seseorang mematung di balik pintu. Husein, mencoba mengatur nafasnya yang seolah tidak ingin terhela, ia menggeleng keras kepalanya, mencoba untuk menghentikan pikirannya yang pangling. Apa Husein cemburu melihat Fisya di sana?


Tak berselang lama, Husien menyusun langkah kecil untuk pergi menuju danau belakang pondok, tempat paling tepat untuk menenangkan hati, ditemani mushaf Al-Qur'an yang ia genggam, guna memperlancar hafalan.


"Assalamualaikum?" Seseorang datang padanya. Husein menoleh, setelah mengenalnya, segera saja ia hentikan kegiatannya dengan menutup mushaf Qur'an.


"Waalaikumsalam." Tidak berani menatap, Husein menunduk menatap Al-Qur'an di tangannya.


Gadis berniqab dengan mata cokelat itu segera mengambil posisi di sebelahnya, berjarak beberapa meter, Liana mengulurkan sebotol air padanya sambil berucap tanpa menatap "Ini, untukmu."


Huisen segera mengambil "Terimakasih, Liana."


"Sama-sama, saya suka mendengarkan hafalan kamu, merdu dan damai." Liana tersenyum.


Menatap jauh kedepan, melihat genangan air tenang di danau, Husein menyahuti seruannya "Terimakasih, kamu juga berbakat dalam bersholawat. Banyak yang menyukai suaramu."


"Salah satunya, kamu?"


Entah apa yang harus ia jawab, Husein hanya tersenyum kecil menambah ketampanan wajahnya.


"Tidak menyangka bisa bertemu, bahkan menjadi bagian dari pondok milik Abi kamu, Sein," ungkap Liana.


"Alhamdulillah, mungkin memang begini keharusannya."


Di balik pohon rindang, bertepatan dengan pinggiran danau, Fisya menyaksikan keduanya bercengkrama dengan baik. Bulir hasil kecemburuan telah menjelaskan perasannya sekarang, segera Fisya mengusapnya.


Saat bersamaan, Liana menoleh tepat kearah dimana Fisya berada, dengan penuh keheranan ia berucap "Fisya? Kenapa dia di sana?"

__ADS_1


Huisen bertindak cepat mengalihkan pandangannya kearah Liana memandang. Benar, Fisya masih di sana. Melihat keberadaannya di sadari segera Fisya melangkah pergi.


'Fisya? Sejak kapan dia di sana?'


Ditemani buku dan pena, Hasan menghabiskan waktunya di dalam kamar. Sesekali berbincang dan bertengkar dengan logikanya. Apalagi, jika bukan tentang ingtan-ingatan asing yang memutar kepalanya sekarang.


Menatap langit-langit kamar berdekorasi islami, Hasan memejamkan matanya, mencoba menjelaskan kebingungan yang menggantung di benaknya sekarang.


Namun alhasil, ingatan itu tidak ada di pikirannya, hilang entah kemana. Hasan menyerah, bergerak menuju rak susunan buku, mencari foto yang pernah ia temukan di sana.


Ketemu, ia mengambil posisi duduk di bibir ranjang menatap lekat wajah seseorang yang tersembunyi di balik coretan pena, sekali lagi membalikkan kertas foto yang masih menunjukkan nama perempuan itu. Kemudian meraih surat cinta yang berasal dari dalam helai Al-Qur'an miliknya kemarin.


'Saida Nur Fauziana, semoga Allah mempertemukan aku denganmu.'


"Assalamualaikum, Hasan?" Hasan menoleh kepada Umar yang masih berjalan menghampirinya.


"Waalaikumsalam." Berposisi tepat di sebelah Hasan, Umar memandang pada foto yang ia genggam.


"Foto siapa, San?" tanya Umar heran.


Tanpa berpikir lagi, segera Hasan menunjukkan foto Saida kepadanya "Saida Nur Fauziana, Kamu mengenalinya?"


Mata Umar membulat, bagaimana mungkin foto tersebut ada dengan Hasan, menggelengkan kepalanya pelan, Umar menjawab "Ti-tidak."


"Serius? apa jangan-jangan kamu pelakunya? Kenapa mencoret wajahnya dengan pena? Kamu mengenalinya 'kan?" cetus Hasan.


Umar terdiam sejenak, membayangkan bagaimana foto itu ada. Satu bulan lalu, jauh sebelum peristiwa perjodohan Saida dan Hasan, Umi Laila menitipkan foto Saida pada Umar, untuk diberikan kepada Hasan.


___


"Hasan, titipan dari Umi Laila." Melempar amplop biru di kasurnya, Umar memberikan amanah itu.


Hasan mengambil dengan kening mengerut bingung "Apa isinya, uang?"


"Entahlah," sahut Umar.


Hasan membuka amplop, menarik isi didalamnya, sempurna terlihat foto Saida, gadis berkacamata mata dengan pipi chubby manisnya, Hasan tidak tergoda. Ia malah tertawa renyah mengambil sebuah pena, langsung mencoret wajah cantik Saida, bergamis abu-abu dengan senyum mengembang.


"Masih saja bersikeras membuat aku tertarik padanya. Mana mungkin seorang Hasan bisa menyukai gadis tidak sempurna ini!" celutuknya pedas.


Umar menatap nanar, merampas foto Saida dari tangannya "Tidak seharusnya kamu mencoret wajah Saida seperti ini, jikapun tidak ingin melihatnya, kamu bisa menyimpannya. Tidak sulit 'kan?"


Umar melangkah menuju rak susunan buku, menyelipkan foto Saida di sana.


___


"Umar?" Lamunan Umar buyar, ia mengusap wajahnya yang di basahi keringat dingin "Malah melamun, kamu baik-baik saja?" tanya Hasan.


"Ma-maaf, San. Aku permisi dulu, mau ketoilet. Assalamualaikum?"


Umar tergesa melangkah meninggalkan Hasan dengan kebingungan "Waalaikumsalam. Ada apa dengannya? Apa Umar mengetahui sesuatu?"

__ADS_1


__ADS_2