Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part _ 26 restu


__ADS_3

Andainya rasa tercipta untuk saling berbagi, maka akan ku berikan ia untukmu saja (Muhammad Hasan Al-asrof)


________


Berkumpul di ruang tengah, berhadapan dengan kedua orang tuanya dan keluarganya, Hasan menjelaskan keinginan baiknya untuk melanjutkan ibadah dengan menikah.


"Umi, menyerahkan semua keputusan di tangan Abi saja. Umi tidak ingin sesuatu terjadi lagi pada, Hasan." Umi Laila tersenyum tipis, memandang kepada putranya.


"Abang, pun demikian, San. Tidak akan menyudutkan kamu dalam satu pilihan, apa yang baik menurut Abi, Abang dan Fisya juga setuju," sambung Huisen, masih memegang tangan sang istri, Fisya mengangguk pelan ikut setuju dengan apa yang Husien ucapkan.


Keputusan ada di tangan Abinya, Hasan menghela nafas tertahan, setelah menjalankan salat tahajud tadi malam, semoga Allah mengabulkan permintaannya untuk di mudahkan dalam segala urusan.


Memandang wajah datar Ustad Harun, semua gugup. Apalagi Hasan, ia hanya bisa terdiam memendam segala harapan.


"Apa kamu benar-benar sudah siap menikah?" tanya Ustad Harun, menatap Hasan.


Hasan mengangguk pelan "In Sya Allah, Bi. Hasan siap lahir dan batin."


Ucapan mantap Hasan, membuat hati Umi Laila terenyuh, tidak menyangka putra kecilnya dulu sudah bisa berpikir sedewasa ini.


"Pernikahan bukan mainan, kamu mengikrarkan janji bukan lagi pada manusia, tetapi kepada Allah. Sekali dalam seumur hidup, apa kamu yakin Saida adalah gadis yang tepat untuk menemanimu dalam ibadah panjang ini?" tanya Ustad Harun lagi.


Sekali lagi Hasan mengangguk mengerti "In Sya Allah, Hasan yakin, Bi. Saida adalah gadis yang tepat untuk, Hasan. Meskipun dia ada kekurangan, dengannya-lah Hasan merasa dekat pada Allah."


Husein tersenyum manis mendengar pengakuan Hasan, Abi menyambung lagi "Kamu adalah seorang lelaki, dimana dalam agama kita, kamu adalah nahkoda yang akan menuntun keluargamu ke surga. Apa kamu siap mempertanggungjawabkan segalanya?"


Hasan menghela nafas panjang, memejamkan matanya sebentar kemudian membukanya lagi "Bismilah, Bi. Hasan siap."


Untuk kesekian kalinya Ustad Harun mengangguk pelan, hatinya berdebar keras, mendengar pengakuan putranya semoga apa yang ia katakan benar-benar bisa di buktikan adanya.


"Dalam Q.S Ar-Rum ayat 21, Allah telah menjelaskan : Dan di antara bukti-bukti kekuasaan Allah diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tentram di sampingnya, dan dijadikan-Nya kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berfikir," ungkap Hasan jelas.


Semua mata memandang lekat kepadanya, Hasan yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling arah.


"Jika Allah menciptakan manusia berpasangan-pasangan, saling berkasih sayang, maka dengan Saida-lah, Hasan ingin merasakannya, sekaligus memperbaikinya," sambung Hasan haru.


Umi Laila mengangguk, bulir bening jatuh di pipinya yang sudah mulai keriput "Umi bahagia, Saida-lah perempuan yang Allah maksud untuk mendampingi kamu, San."


Hasan menyunggingkan senyuman manis, Abi mendekatinya dan memeluk erat putranya "Besok pagi, kami akan mengkhitabahkan Saida untuk kamu. Kami akan ikut bicara, meminta restu kepada kedua orangtuanya."


Rasanya pedih, begitu sesak. Hasan mengeratkan pelukan sang Abi "Terimakasih, Bi."

__ADS_1


🌷


Mobil mewah berwarna hitam, terparkir tepat di halaman rumah sederhana yang tidak asing lagi bagi Hasan, ditemani keluarganya bersama Umar akhirnya mereka tiba di rumah kediaman keluarga Saida.


Hasan benar-benar mengatur nafasnya yang mulai memburu, mengumpulkan semua keberaniannya untuk bicara di hadapan kedua orang tua Saida nanti. Anggap saja, ini rintangannya yang terakhir, karena setelah mendapat restu, Saida benar-benar akan segera menjadi miliknya.


"Ayo, Hasan. Bismillah, semua akan baik-baik saja. Abi, ada di samping, Hasan." Ustad Harun menyentuh pundak kekar putranya, tersenyum manis memandang kepadanya.


Hasan tersenyum manis sambil mengangguk pelan "Terimakasih, Bi."


Mereka semua keluar dari dalam mobil, Hasan, Umi Laila dan Ustad Harun berjalan lebih dulu, di susul Husein dan Umar di belakang.


Tok! Tok!


"Assalamualaikum?"


Beberapa detik tidak ada jawaban, Hasan kembali mengetuk pintu.


Ceklek!


"Waalaikumsalam."


Pintu terbuka, melihatkan wajah Ibu Saida di sana. Ia tampak terkejut, kemudian tersenyum tipis "Ustad Harun, Ustadzah Laila? Mari, masuk."


Mereka pun menyusun langkah masuk kedalam rumah, untuk pertama kalinya. Rumah sederhana yang terbilang tidak terlalu mewah, namun nuansa damai yang bercengkrama membuat siapa saja betah.


Keluarga Hasan duduk di ruang tamu, Ibu Mila masuk kedalam, kemudian keluar bersama Suaminya.


"Ada perihal penting apa, yang membuat pemilik pondok Al-Hidayah kemari?" tanya sopan Ayah, Saida.


Ustad Harun tersenyum manis "Sekiranya, bapak pasti sudah mengetahui jawabannya, bukan?"


Ayah Saida tersenyum, mengalihkan pandangannya kepada Hasan "Kami tidak dapat mengira."


"Kedatangan keluarga Hasan, tidak lain untuk mengkhitabah putri bapak, Saida. Hasan, tahu ... Hasan pernah menyakiti hatinya beberapa kali, tetapi tidak menepati janji untuk datang bukanlah keinginan, Hasan. Keadaanlah yang memaksa Hasan untuk mengingkarinya," jelas Hasan serius.


Ibu Mila bertukar pandangan dengan Suaminya, tatapan mata yang tidak dapat di tebak maknanya.


"Darimana kamu tahu Saida belum menikah?" tanya Ayahnya.


"Kami bertemu Saida minggu lalu, dia menjelaskan semuanya," jawab Hasan seadanya.

__ADS_1


"Saida lumpuh, tidak pantas berdampingan dengan pria seperti, Hasan. Bukankah, dulu Hasan sendiri yang mengatakannya?" tanya pelan Ibu Mila.


"Itupun menjadi alasan Hasan untuk mengkhitabah, Saida. Dia ingin memperbaiki kesalahan, sekaligus menyembuhkan luka yang pernah ia torehkan pada, Saida," sahut Umi Laila sopan.


"Saya tahu, tidak baik lagi pandangan kalian kepada putra kami, Hasan. Untuk itu, saya selaku orang tuanya, benar-benar meminta maaf." Ustad Harun menyela pelan.


Ayah Saida menghela nafas panjang, keputusan Saida membatalkan pernikahannya hari itu benar-benar masih membekas di ingatannya.


"Cinta kalian, telah menyakiti banyak hati. Salah satunya, Ustad Syafiq. Pria yang seharusnya menjadi suami Saida sekarang," jelas Ayah Saida menunduk.


Hasan menghela tertahan, melihat itu Husein menyambung "Apa tidak lagi, ada ruang untuk Hasan bisa memperbaiki semuanya?"


Ibu Mila menggeleng pelan "Kami tahu, Saida tidak pernah main-main dalam urusan perasaannya terhadap, Hasan. Entah apa alasan di balik itu, kami pun tidak dapat menerka. Tapi, sebagai orang tua, kami tidak pernah rela putri shalihah kami di sakiti."


Hasan menghela nafas panjang, rasanya terlalu pedih, apa benar tidak akan ada ikatan antara dia dengan Saida?


"Kami tidak bisa menerima lamaran ini--"


Deg!


Rasanya seperti kilat yang menyambar tepat di telinganya, meremukkan jantungnya begitu keras, menusuknya sangat dalam. Hasan tidak lagi bicara, apa kali ini, ia pun harus menyakiti Saida lagi?


Ustad Harun mengangguk pelan "Mungkin, memang benar, cinta Hasan untuk Saida hanya bisa di jadikan pelajaran saja. Untuk itu, kami permisi."


"Assalamualaikum?"


Ustad Harun berdiri dari kursinya, begitu pun dengan yang lain. Terkecuali, Umar yang masih duduk bersebelahan dengan Hasan yang enggan pergi dari sana.


"Ayo, San. Allah akan mengganti sesuatu yang hilang dengan hal lebih baik," ujar Umar iba, Hasan masih tak bersuara, diam tak bergeming.


"Tapi, tidak ada alasan kami untuk menolak."


Deg!


Sambungan ucapan Ayah Saida, menghentikan semua jejak kaki, apa-apaan ini, hati dan perasaan Hasan seperti kapal yang terombang-ambing di lautan tak bergelombang.


Ustad Harun berbalik badan menatap wajah Ayah Saida yang tersenyum tipis, ia menunjukkan sebuah undangan pernikahan, tertulis nama Ustad Syafiq dan Ayunda "Ustad Syafiq, sudah mendapat imbalannya. Saida membatalkan pernikahan ini, untuk Hasan. Karena itu, kami tidak punya alasan jika Hasan datang untuk memenuhi keinginan putri kami."


Hasan menangis tanpa suara, mendengar pernyataan itu, Umi Laila mendekap mulutnya tidak percaya, ia mendekati Hasan dan memeluknya.


"Tentukanlah, tanggal pernikahannya, kami pihak perempuan, akan selalu setuju."

__ADS_1


Ustad Harun memeluk erat Ayah Saida "Terimakasih, ya Rabb."


__ADS_2