Cinta Untuk Saidah

Cinta Untuk Saidah
part- 22 pengemis cinta


__ADS_3

Karena bertemu denganmu, adalah salah satu dari sekian banyaknya keindahan yang tertata rapi di kehidupanku (Muhammad Hasan Al-asrof)


________


Satu minggu kemudian,


Kehidupan terus berjalan, memulakan dan mengakhirikan apa yang seharusnya. Kendatipun cinta adalah anugerah terindah dari-Nya, jika memang tidak berakhir suka maka cukuplah ia menjadi pelajaran berharga.


Seminggu telah berlalu, Hasan masih dalam masa komanya. Sedangkan Saida, tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan gadis itu sekarang.


Kegiatan pondok masih berjalan sebagaimana mestinya, Huisen dan Fisya menjadi peran baik di sana semenjak Ustad Harun dan Istrinya banyak mengabiskan waktu di rumah sakit bersama sang putra. Pernah mengajukan keinginan untuk membawa Hasan pulang, namun Dokter tidak mengizinkannya.


Alhamdulillah, Hasan bisa melewati masa kritisnya seminggu lalu. Kedua orangtuanya benar-benar amat bersyukur untuk itu.


Sambil mengusap wajah tampan putranya, yang berseri putih pucat, Umi Laila tersenyum manis, di temani selingan air mata kerinduannya.


"Umi rindu, Hasan. Sudah satu bulan, Hasan koma. Umi rindu suara, Hasan. Rindu, melihat senyum, Hasan. Rindu mendengar Hasan mengaji, Umi rindu semuanya tentang Hasan. Hasan tidak rindu, Umi? Sadarlah, Nak," ungkapnya serak.


"Tenanglah." Ustad Harun mengelus kepala Istrinya"Kalau sudah waktunya, Hasan pasti akan siuman."


Segera Umi Laila menghapus habis air matanya, masih menatap wajah nan rupawan milik putranya.


"Umi, lihat."


keduanya tercengang, jari telunjuk Hasan bergerak. Segera Ustad Harun menggenggam erat tangan Hasan, senyum keduanya mengembang.


"Hasan mendengar ucapan, Umi. Hasan pun rindu pada, Umi." Ustad Harun tersenyum begitu senang.


Umi Laila lagi-lagi menangis, tapi kali ini tangisannya di selingi dengan tawa kecil "Hasan?"


Akhirnya, mata beriris hitam miliknya terbuka, setelah hampir sebulan mata indahnya terpejam.


"Um-umi, Abi?"


Dan, suara indah Hasan pun menggema. Serentak, kedua orangtuanya memeluk erat Hasan yang masih berbaring. Berucap asma Allah di hati, bersyukur hari yang mereka nanti telah tiba masanya.


"Hasan ... Abi, percaya kamu akan segera siuman."


Setetes bulir bening tergenang di kelopak mata Hasan. Meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi padanya, tetapi kerinduannya tidak kalah hebat merajalela.


Apalagi, saat memimpikan bertemu Saida. Gadis nan cantik yang paling ia rindukan.

__ADS_1


____


"Hasan, kembali untuk cinta yang kau punya demi Saida!"


Deg!


Nafas Hasan sesak, mendengar gerungan Saida di belakangnya.


"Apa ini yang kau sebut, cinta? Mana buktinya? Bukankah, kau mencintaiku karena Allah? Jika benar adanya, buktikan sekarang!"


Sambungan ucapan Saida, berhasil memporak-porandakan isi hatinya yang remuk. Tidak tahan lagi, Hasan membiarkan langkah kakinya berbalik, berlari kecil menghampiri Saida yang sudah terduduk paksa di sana.


"Saida?" Hasan berjongkok, memeluk erat dirinya begitu erat. Mengumpulkan kerinduan yang selama ini ia punya "Aku akan pulang bersamamu, itu janjiku pada Allah."


Saida melepas pelukannya menatap sendu Hasan "Ayo ...."


Hasan mengangguk pelan, menghapus setiap tetes air mata kekasihnya. Membantunya duduk kembali di kursi roda, tanpa menunggu lagi, Hasan mendorong kursi roda Saida dan pergi dari sana.


_______


Mimpi, yang seolah membawanya kembali ke dunia, bersama cinta yang ia punya untuk Saida.


"Iya, Nak?


"Dimana, Saida?"


Deg!


Ustad Harun dan Umi Laila saling menatap pandang. Apa yang harus mereka jawab? Mengatakan pada Hasan bahwa, undangan pernikahan Saida telah sampai kepada mereka satu minggu yang lalu?


"Nak Hasan, tidak boleh banyak berfikir dulu, takutnya keadaan Hasan memburuk," jelas dokter.


Umi Laila dan Suami, menghela nafas lega, untungnya mereka belum menjawab pertanyaan Hasan.


Hasan terdiam, jika di tanya, apakah ia sudah sembuh dari amnesianya. Jawabannya ada, Ya. Dia mengingat semuanya, apa yang terjadi padanya dan Saida di masa lalu. Meski begitu, tak juga mampu menghilangkan perasaannya pada Saida yang sudah begitu lekat di hatinya.


"Hasan ingin bertemu, Saida." Hasan menatap nanar wajah Abinya, begitu dalam dan sendu.


"Nanti, Abi akan mengantar Hasan pada, Saida. Tapi syaratnya, Hasan harus benar-benar pulih terlebih dahulu. Abi tidak mau, Hasan drop lagi," jawab Ustad Harun sekenanya.


Hasan mengangguk mengerti, ia mengalihkan pandangannya pada jendela kamar, mengintip mentari yang menyapanya di sana. Ia tersenyum kecil, sambil memejamkan matanya. Benar-benar tidak sabar, bertemu Saida. Ingin menjelaskan, bahwa ia sudah mengingat semua, tidak akan pernah melepas cintanya untuk Saida.

__ADS_1


🌷


Umar tersenyum melihat sahabat baiknya sudah bangun dari tidur yang agak panjang.


"Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik?" tanya Umar.


Hasan tersenyum, masih berbaring di kasur rumah sakit, kemungkinan nanti sore ia baru pulang "Alhamdulillah, aku baik."


"Kau tahu, Abangmu Husein sudah menikah--"


"Bersama, Fisya? Gadis yang pernah kucintai, bukan?" tebak Hasan.


Kening Umar mengernyit bingung "Hasan-- ka-kau?"


Hasan mengangguk pelan "Aku sudah mengingatnya."


Umar menunduk mendengar itu, apa yang ia takutkan akan segera terjadi? Setelah Hasan sembuh dari amnesianya, ia akan menjadi angkuh seperti dulu lagi, bahkan tidak pernah mengingat cinta yang sempat ia punya untuk Saida?"


"Kenapa kau murung?" Umar menggeleng mendengar pertanyaan Hasan "Tenang saja, aku masih mencintai, Saida."


Deg!


Jantung Umar terasa berhenti sejenak, ia melotot memandangi wajah pucat Hasan.


"Aku adalah seorang pengemis cinta, yang akan selalu datang untuk memintanya dari, Saida. Aku rindu padanya, Umar. Lusa, kau maukan menemaniku bertemu kedua orangtuanya?"


"Untuk apa?"


"Untuk menepati janji yang kubuat padanya."


"Apa kamu tahu, berapa lama kamu koma?" tanya Umar datar.


Hasan menggeleng pelan "Satu hari?"


"Satu minggu."


"Hh?"


Hasan melongo mendengar pernyataan Umar.


#Next

__ADS_1


__ADS_2