
Ini bukan persoalan rasa yang bodohnya masih ingin jatuh pada orang yang sama. Anggap saja ia ada, untuk membuatmu lebih baik merawatnya.
Tidak ingin menyakiti diri sendiri, dan jangan lupa mengistirahatkan hati (Saida Nur Fauziana)
________
Pengumuman pemenang dari setiap lomba yang diadakan telah selesai beberapa jam lalu. Pondok pesantren Al-Hidayah, menjadi juara umumnya. Meskipun lomba ceramah agama tidak di pegang, sebab Saida-lah yang menjadi juaranya.
Seusai salat Ashar, bis berukuran sedang terparkir di depan gerbang halaman Al-Furqon. Tentu saja bis yang sama saat mengantar mereka ke sini kemarin.
Sore ini pula, Ustad Harun memutuskan untuk pulang bersama santri-santrinya.
"Terimakasih, untuk semuanya. Membuang kerikil di bawah roda saya, memberikan saya sapu tangan untuk mengusap luka, dan mengajak saya untuk kembali ke Al-Hidayah." Saida tersenyum manis, sesekali memperbaiki kacamatanya yang sebenarnya terletak baik di atas hidung mancungnya.
Ditemani Umar, pria berumur dua puluh tiga tahun ini tersenyum, sambil menjawab "Sama-sama, sebelum pulang, apa saya boleh bertanya satu hal lagi, padamu?"
"Apa?"
"Mm ... apa kamu merasa ada yang berbeda di antara kita?" Mengumpulkan segala keberanian, Hasan berucap begitu pelan.
"Menurutmu?"
Hasan terkekeh kecil mendengar pertanyaan Saida yang malah berbalik padanya "Bukan saya, tapi kamu yang harus menjawab. Beri saya kejelasan, agar saya bisa menempatkan diri lebih baik."
Umar manggut-manggut ditempat, pura-pura sibuk menikmati pemandangan indah danau berair biru ini.
Saida menatap sejenak mata beriris hitam milik Hasan "Iya."
Hasan tersenyum manis mendengar pengakuannya. Akhirnya, Saida juga merasakan apa yang ia rasa. Ya, perasaan berbeda yang belum pernah ia rasakan.
"Saida?"
"Hmm?"
__ADS_1
"Kamu mau menjalin hubungan ta'aruf dengan saya? Soal CV, saya akan mengantarnya ke rumahmu, saat saya menjemputmu kembali ke pondok pesantren Al-Hidayah. Kamu mau?"
Deg!
Umar dan Saida menukar pandangan secara bersamaan, benar-benar tidak menduga Hasan mengutarakan langsung keinginannya itu. Gawat, apa yang terjadi selanjutnya?
"Saida? Apa kamu menolak?"
Saida menunduk, menepuk pipinya beberapa kali berharap ini memang bukan mimpi.
"Saida?" Suara Hasan membuyarkan lamunannya, Saida menoleh pada wajah tampan yang sedari tiga tahun lalu ia kagumi itu.
"Bu-bukan apa-apa, Hasan. Apa kamu tidak pikir-pikir lagi, kamu tahu sendiri 'kan, sekarang kamu amnesia. Semua ingatanmu menghilang, jika suatu hari nanti, ingatanmu kembali, saya takut kamu menyesal--"
'Karena dulunya, aku terlalu buruk di matamu, Hasan.' Saida menyambung di hatinya.
Hasan menghela nafas panjang mengusap wajahnya gusar "Sudah satu Minggu, semenjak menemukan fotomu di dalam Al-Qur'an saya menjalankan salat Istikharah, untuk meminta petunjuk Allah. Dan saya pikir, inilah jawaban tepat yang saya dapat."
Hasan mengedarkan pandangannya ke arah sapuan angin yang berhembus kencang, menyisakan bisikan kecil dari beberapa ranting yang berirama indah. Beraksi atas dua hati yang sama-sama memiliki rasa, namun bagaimana akhir dari kisahnya, hanya Allah yang akan menjawabnya.
Hasan berdiri dari tempat duduknya, menyusun langkah kecil untuk segera pergi. Umar menggeleng pelan, namun akhirnya mengikuti jejak Hasan. Saida tertinggal di tempat, bagaimanapun adalah sebuah kebohongan besar, jika ia tidak ingin memiliki pria yang ia cintai itu.
"Hasan?"
Deg!
Hasan dan Umar berhenti, tidak ingin berbalik badan menatap padanya.
"Demi Allah, saya mencintai kamu."
Deg! Deg! Deg!
Mentari sore meniggalkan jejak di bawah pepohonan, daun-daun berjatuhan tepat di atas kepala mereka. Gesekan ranting yang saling menggoyang menjadi biola tak berirama yang bernada merdu sekaligus menusuk.
__ADS_1
Hasan berbalik badan, menatap wajah cantik Saida. Dengan hijab sedikit bergelombang akibat sapuan angin yang ikut membelai wajah cantiknya. Hasan mematung di tempat.
"Katakan sekali lagi," pinta Hasan bernada serak.
Saida mengangguk keras, bulir bening tergenang, dan jatuh bebas begitu saja "Saya mencintai kamu, dan saya bersedia."
Hasan tersenyum menang, mengucap syukur di hatinya.
"Terimakasih. Sampai bertemu lusa, assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam."
Umar tidak mau kalah, ia berjalan kesana-kemari mencari keberadaan Bunga. Tatapannya terhenti, tepat mengenai seorang gadis muda nan cantik berbincang asyik bersama teman-temannya.
Segera Umar menghampiri.
"Assalamualaikum?"
Mereka semua menoleh termasuk Bunga, yang kala itu mengernyit bingung melihat kedatangan Umar "Waalaikumsalam."
"Mm ... Bunga, bisa kita bicara?"
Bunga tersenyum, menatap satu-persatu wajah teman-temannya yang beraut menggodanya "Bicara di sini saja."
"Apa aku boleh mengenalmu?" Mengambil keberanian, Hasan. Umar berucap jujur, sedari pertama bertemu dengannya, Umar ingin sekali mengenal gadis manis itu.
Bunga tersenyum "Tanyakan itu pada yang lebih berhak atas diriku."
Bunga tersenyum lagi, menarik lengan dua temannya "Ayo pergi."
Umar tersenyum manis, menatap punggungnya semakin jauh "Dua tahun lagi, saya akan mendatangi orang tuamu. Bisa berikan alamat rumahmu?"
"Bisa."
__ADS_1
Bunga melanjutkan langkahnya sambil tersenyum sipu.
#Next