
Begitu baikku rawat luka, kukira ia telah mereda. Namun setelah berjumpa, bukan hanya luka yang semakin menganga, ada pula peranan cinta yang tersisa (Saida Nur Fauziana)
____________
Bis berukuran besar terparkir di depan halaman pesantren, siap membawa para santri menuju tempat tujuan, Pondok pesantren Al-Furqon.
Umar dan Hasan, bersama santri lainnya mempersiapkan segala kebutuhan selama tiga hari di sana.
"Jangan lupa bawa buku-buku koleksi kita, San. Kita bisa mengisi kekosongan waktu nanti tiba di sana." Umar, masih sibuk memasukkan perlengkapannya di dalam ransel berukuran sedang.
"Kamu benar, aku akan membawa beberapa buku kita." Hasan bergerak dari tempatnya, melangkah menuju rak susunan buku, memilah mana yang terbaik dari seluruh buku-buku koleksi mereka.
'Foto dan surat itu? Aku pikir, aku akan membawanya juga,' batinnya. Hasan bergegas menuju lemari kecil meraih amplop biru yang berisi foto dan surat dari Saida. Setelahnya, memasukkan semua di dalam ransel miliknya.
Di sisi lain, Fisya pun sibuk memasukkan pakaian syar'inya kedalam bag besar, sedikit bersenandung kecil melancarkan hafalan shalawatnya, kebetulan ia di pilih menjadi vokalisnya.
Selesai sudah semua, para santri melangkah beriringan keluar dari dalam asrama, menggendong bag mereka masing-masing.
Ukuran badan kecil Fisya rasanya tidak sebanding dengan bag miliknya. Akibatnya ia kesulitan membawa tas, sedikit mengeluh ia bermonolog "Aduh ... berat juga, rasanya tidak terlalu banyak pakaian yang aku bawa tadi."
"Berikan tasmu, saya akan membawanya." Fisya menoleh, menatap lekat wajah serinya.
Husein tersenyum kecil, menunduk sambil mengulurkan tangan kepadanya.
"Afwan, Kak Husein. Saya bisa sendiri," sahutnya. Fisya bersikeras menggendong bag miliknya.
"Eh?" Namun alhasil, ia tubuhnya sempoyongan. Segera, Husien menahan tubuh rampingnya, menggenggam pergelangan tangan Fisya yang terlapis kain.
Menyadarinya perbuatannya, Husein melepas dengan cepat "Ma-maaf."
Fisya menunduk menghela nafasnya berat, cemburu yang beberapa waktu menganggu dirinya, rasanya masih menyisakan rasa kecewa.
"Saya bisa membantu." Tidak menunggu persetujuan lagi, Husein mengambil bag yang bergantung di pundaknya "Saya tidak punya hubungan apa-apa dengan, Liana. Ayo jalan nanti ketinggalan."
__ADS_1
Fisya mendongak, memandang punggung Husein yang mulai menjauh, membatin di hati 'Apa hak saya untuk cemburu? Toh, kita tidak terikat dengan sebuah hubungan, bukan?'
Bis berjalan menyusuri jalan raya, mengheningkan suasana di dalamnya. Ada yang tertidur pulas, ada yang menikmati pemandangan di sekitar kota. Ada pula yang sibuk bercanda bersama teman sebangkunya.
Hasan, ia duduk bersebelahan dengan Abangnya, Husein. Pria tampan berjubah putih bergelar Abang baginya, tampak tertidur pulas menyenderkan kepalanya di sandaran kursi. Hasan tidak menganggu, atau mengikuti jalur mimpi sang Kakak. Ia malah terlihat fokus menatap lekat pada wajah di balik coretan pena itu.
'Saida Nur Fauziana, apa kita memiliki hubungan yang baik dulunya? Kenapa setelah aku tidak mengenal apapun, hanya namamu yang berhasil memenuhi pikiranku?' batinnya.
Bis terus berjalan, mengikuti jalurnya. Berjam-jam di perjalanan, akhirnya Bis terhenti tiba di depan sebuah gerbang megah, bertuliskan nama Al-Furqon di sana. Mereka semua bersemangat, menuruni Bis. Masya Allah, benar-benar pemandangan yang luar biasa, bukan hanya mereka, beratus-ratus santri juga memasuki gerbang yang sama. Melangkah beriringan saling bertukar pandang.
"Masya Allah, inilah generasi Islam." Ustad Harun bergandeng istrinya terkagum-kagum bukan main, menatap sekeliling sudut yang tidak lepas dari keberadaan santri dari berbagai macam pondok ada di mana-mana.
Umar, Husein dan Hasan juga melangkah beriringan menggendong ransel mereka masing-masing. Tercengang tidak berkutik memandang ke segala arah.
"Masya Allah, tidak sabar mau berlomba," ungkap Umar, tersenyum girang kepada Hasan dan Husein.
Husein tersenyum, mengalihkan pandangannya pada Fisya. Gadis bergamis abu-abu dengan hijab lebar miliknya, berjalan bersama santriwati lainnya, Huisen tersenyum manis, melihat bola mata cokelat Fisya ikut mengarah padanya.
Keningnya mengernyit, gadis berkursi roda ada di salah satu di antara keramaian di sana. Perempuan berparas ayu yang pernah ia temui di toko buku beberapa Minggu lalu.
'Dia di sini?' batin Hasan. Matanya tidak berkedip menatap kearah itu.
"Saya permisi dulu ya. Assalamualaikum?" Hasan terus memperhatikan dari sedikit kejauhan, gadis berkursi roda tadi mulai memutar rodanya, meninggalkan keramaian.
Mata Hasan menatap kepada sebuah buku, buku yang tadinya ada di genggaman Gadis berkacamata itu.
"Sebentar ya." Bermaksud baik ingin mengambilkan buku miliknya, Hasan izin kepada Umar dan Husein yang menatap gerak Hasan semakin menjauh.
Ia meraih buku yang mulanya tergeletak di atas kursi taman, membaca judulnya 'Berbeda atau tidak sempurna?'. Hasan mendongak menatap punggung gadis itu belum terlalu jauh, Hasan menembus keramaian jalan yang menghalanginya. Disaksikan birunya langit yang riang, irama ranting yang berirama sangat mengagumkan seolah menjadi saksi bisu dari pertemuan kedua mereka.
"Assalamualaikum?"
Gadis berkacamata itu berhenti di tempat, menoleh kepada gema suara di sampingnya.
__ADS_1
Deg!
'Hasan?'
Daun kekuningan berjatuhan dari pohon rindang yang terawat indah. Desisan angin lembut membelai hijab lebar yang ia kenakan, sekaligus menyentuh lembut pipi putih milik Hasan. Daun kering berputar seolah mengelilingi keduanya, tajamnya sinar sang mentari meniggalkan bayangan di bawah pohon rindang. Mereka bersitatap lekat, mengiyakan denyut jantung yang berdetak. Entah ada luka atau cinta yang belum usai, rasanya pertemuan kali ini meninggalkan benih di hati keduanya.
"Maaf, anda menjatuhkannya." Hasan tersenyum, mengulur buku di hadapannya.
Buyar ketika mendengar ucapannya, gadis itu menundukkan kepala. Mengatur nafasnya yang memburu.
"Te-terimakasih." Ia mengambil tanpa menatap. Hasan mengangguk pelan.
"Hasan? Kamu kenapa di sana? Ayo ...." Jeritan keras Umar terdengar jelas, Hasan menoleh padanya yang melambai. Sebelum akhirnya kembali memandang gadis itu.
"Permisi, assalamualaikum?"
Tidak menunggu jawaban darinya, Hasan berbalik badan menyusun langkah kecil.
"Saida? Kemarilah ...."
Deg!
Langkah Hasan terhenti saat mendengar nama itu, ia berbalik badan menatap kepada gadis berkursi roda tadi.
"Sebentar," jawabnya singkat. Saida memutar kursi rodanya menuju panggilan tadi.
'S-saida? Apa dia gadis yang aku cari?' Hasan membatin, menyentuh dadanya yang gemetar.
"Hasan?" Husein datang, menyentuh pundaknya, Hasan menoleh "Ayo jalan."
Ia pasrah, di rengkuh Husein semakin jauh, sesekali Hasan menatap kebelakang. Masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Benarkah gadis itu adalah wujud sempurna dari seorang 'Saida Nur Fauziana?'
#Next
__ADS_1