
Waktu menunjukan pukul empat sore, Arvi masih setia duduk di kursi samping tempat tidur Davika ditemani Putra yang juga berada di kamar itu sedang duduk di sofa.
Arvi menunda lagi kepulangannya hari ini, dia sudah mengabari Pandu agar kembali dahulu ke Jakarta bersama sopirnya. Dia sudah menghubungi orangtuanya bahwa ia belum bisa kembali ke Jakarta karena pujaan hatinya mendapatkan musibah dan juga menghubungi Arkan meminta salah satu sopir perusahaan agar datang menjemput dua bawahannya yang ikut bersamanya ke Bandung karena mobil yang dipakai saat berangkat ke Bandung akan ia gunakan selama dia ada di kota ini.
Tak lama netra nya menangkap pergerakan pada wajah cantik Davika, bersyukur akhirnya Davika sadar.
"Vika...ayo bangun kamu sudah sadar?" terdengar olehnya suara lembut laki laki saat dia mengerjapkan kedua mata mengumpulkan kesadarannya.
Setelah kesadarannya utuh, dia bangun lalu duduk, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan bercat putih itu.
Dia menangis saat menyadari kini berada di ruang perawatan rumah sakit. Apa yang dia lalui beberapa waktu sebelumnya itu nyata bukan mimpi.
Putra yang awalnya duduk di sofa berdiri menghampiri saat melihat sepupunya itu bangun. Kini Arvi dan Putra berada di kanan kiri tempat tidur Davika.
"Sudah Vika jangan menangis, kamu harus kuat demi om dan tante." ucap Putra sambil memeluk adik sepupunya itu dan Arvi hanya mengusap usap kepala Davika yang dibalut hijab membantu perempuan itu tenang.
Setelah merasa lebih tenang dia mengurai pelukan itu.
"Bagaimana keadaan papa dan mama A,Ar??" tanya Davika pada Putra dan Arvi.
Arvi melempar pandang pada Putra, memberi isyarat bahwa lebih baik Putra yang menyampaikannya.
"Tante meninggal Vik saat tadi sampai di rumah sakit, lalu om saat ini sudah dipindahkan ke ruang rawat." jawab Putra yang langsung membuat perempuan itu turun dari tempat tidur lalu terjatuh karena tubuhnya masih lemah beruntung Arvi menangkapnya.
Davika kini berada di pelukan Arvi yang tadi menangkapnya saat ia akan terjatuh, kini mereka duduk di lantai.
__ADS_1
"Mama....mama...kenapa tega ninggalin aku begini,, kenapa Ar....ta....di ..me...re...re...ka....ma...sih...ba...ii...k...a..ja...hiks...hiks...hiks..." ucap Davika terbata bata seraya menangi pilu. Membuat Arvi dan Putra pun ikut menitikan air mata.
Namun Arvi sadar bukan saat nya ia menangis sekarang, dia harus memberi kekuatan kepada Davika.
"Istigfar Vika, sadarkan dirimu kuatkan hatimu. Ayo bangkit dan kuat masih ada papa mu yang sedang berjuang serta jasad mama mu yang harus dimakamkan." ucap Arvi.
"Iya Vika... sekarang keluarga besar kita serta keluarga dari almarhum tante sudah kumpul di rumahmu mengurus segala keperluan untuk pemakaman tante, tapi kita nunggu keputusan kamu mengenai pemakamannya." ucap Putra.
"Sekarang mama dimana?"
"Kania tadi menghubungiku dia sudah mengurus pemulangan jenazah mama mu." ucap Arvi seraya membantu Davika berdiri lalu memapahnya "Sekarang kita lihat kondisi papa mu dulu ya."
Davika berjalan dipapah Arvi menuju ruangan papanya, mereka masuk terlihat ada om dan tante nya yang menunggu di sofa. Menghampiri keponakan mereka dan silih ganti memeluk seolah olah memberi kekuatan pada Davika.
"Terima kasih Ar." ucap Davika saat Arvi sudah mendudukannya di kursi samping tempat tidur papa nya.
Davika menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali, dia harus tenang dan harus kuat jangan menangis lagi.
"Pa... ini Vika. Pa, mama sudah meninggalkan kita berdua sekarang. Vika hanya punya papa saat ini, Vika mohon papa berjuang." ucap Davika pelan dengan suara yang parau.
"Kata dokter bagaimana keadaan papa, om tante?" tanya Davika.
"Dokter hanya mengatakan papamu belum melewati masa kritisnya saat ini, terdapat cidera berat pada kepalanya dan dokter juga tadi sudah melakukan operasi. Om yang tadi menandatangani persetujuannya, karena jika tidak segera dilakukan mungkin papa mu takkan tertolong." ucap Om Ridwan.
"Saat ini kita hanya tinggal berdoa Vika, semoga papa mu bisa melewati masa kritisnya, walau dokter bilang kecil harapan meskipun telah di operasi tapi kita harus percaya bahwa mukjizat Allah itu nyata." tambah Tante Astri.
__ADS_1
Davika menganggukan kepalanya sebagai seorang dokter tentu paham, kini ia hanya berharap semoga Allah memberi kesembuhan pada papa nya. Lidahnya terlalu kelu untuk menjawab perkataan om dan tantenya.
"Pemakaman mama mu mungkin baru bisa kita lakukan besok pagi Vika, karena disana masih sama seperti disini hujan deras tadi Om sudah menghubungi keluarga yang ada di rumah."
"Iya om, lalu dimana sekarang jasad mama?"
"Jasad mama kamu baru sampai di rumah Vika." ucap tante Astri.
"Tante, vika pulang ke rumah dulu ya mau lihat mama. Vika titip papa kalau ada apa apa tolong segera hubungi Vika."
"Iya, pulanglah dulu Vik.. Biar om, tante, dan Putra yang menjaga papa mu disini, kami akan segera menghubungi mu jika ada apa apa." jawab tante Astri.
"Ayo aku antar Vika." ucap Arvi.
"Iya." jawab Davika.
Arvi dan Davika pun pergi meninggalkan rumah sakit itu.
"Terima kasih Ar, maaf merepotkanmu." ucap Davika.
"Tidak ada kata merepotkan bagimu Vika." ucap Arvi ambigu seraya fokus menyetir.
***********
Spoiler:
__ADS_1
"Pa...paa....i...ng...in..me..li.hat...mu...men....nik...ah."
************