
Membuai sayang penuh kelembutan membawa rasa kantuk bagi Davika yang akhirnya ikut tertidur.
Arvi yang satu jam kemudian terbangun melihat istrinya itu ikut tertidur juga dengan tangan berada di kepalanya dan menyender ke sofa. Pelan pelan Arvi angkat dan pindahkan tangan Davika yang ada di kepalanya lalu bangun. Dibenarkannya posisi Davika menjadi berbaring di sofa bed itu, lalu Arvi merebahkan dirinya disamping Davika, menjadikan sebelah tangannya sebagai bantalan kepala sang istri, lalu tangan yang lainnya mendekap erat Davika. Ah, rasanya sungguh sangat mendukung sofa bed ini untuk dirinya, sempit tapi pas untuk menghimpit memeluk istrinya.
Saat adzan berkumandang Davika terusik dan mengerjapkan matanya, lalu mengucek pelan memastikan ini nyata, sebab saat ini di depan matanya adalah dada bidang seorang laki laki, pinggangnya pun terasa berat seperti ada yang menindih ditundukan pandangannya itu sebuah tangan, lalu mendongakan kepalanya memastikan wajah yang terlelap adalah Arvi.
Blushh....pipinya merona, dari hari musibah menimpa orangtuanya ia tak dapat tidur nyenyak selalu terbangun tengah malam, namun tadi malam ia tidur teramat nyenyak hingga terbangun saat adzan berkumandang. Senyum terbit di sudut bibirnya memandang Arvi yang masih terlelap, tetap diam tak berniat bergerak sedikitpun entah takut membuat Arvi terbangun atau memang ia masih ingin berada dipelukan suaminya itu.
Namun Davika tak menyadari bahwa Arvi pun sama sudah terbangun sejak adzan shubuh berkumandang, tapi ketika menyadari pergerakan Davika yang bangun diurungkan niatnya membuka mata, ia ingin tau bagaimana reaksi Davika dipeluk seperti ini.
"Sudah puas memandangi nya belum?" tanya Arvi tersenyum jahil.
"Siapa yang mandangin, ngga juga, orang aku lagi liat ke atap nungguin kapan kamu bangun soalnya aku ga bisa bangun." jawab Davika mengelak.
"Ga bisa bangun kenapa?" tanya Arvi pura pura tak tahu dan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Davika.
Papa Davika yang mendengar sayup sayup perdebatan candaan kecil pun terbangun.
__ADS_1
"Vika." ucap papa pelan.
Davika yang mendengar papa nya memanggil pun segera bangun, mengangkat paksa tanga Arvi dan menyingkirkan dari tubuhnya, membuat tubuh Arvi yang dipinggiran sofa jadibtak seimbang dan terjatuh.
Dugh.....
"Aduuuuh sakit.... bilang bilang dong sayang kalau mau bangun." ucap Arvi sembari mengusap usap kepalanya.
"Papa manggil, abis kamu ga mau lepasin dari tadi." ucapnya lalu pergi menghampiri papanya.
Arvi pun bangun menghampiri papa Davika "Assalamualaikum pa, maaf candaan aku sama Davika bikin papa ke bangun."
"Semalam pa, pulang kerja langsung berangkat kesini. Malem ga tega mau bangunin papa udah tidur.".
"Oh iya Ar.. Ya sudah kalian shalat dulu saja." ucap Papa Davika.
Davika dan Arvi pun shalat bergantian karena tak mungkin untuk saling menunggu waktu nya sudah semakin mepet.
__ADS_1
❤❤❤❤❤
Pukul tujuh pagi Davika kembali ke kamar, sebelumnya dia ijin ke kantin rumah sakit untuk membeli sarapan untuknya dan Arvi. Sedangkan papa baru saja menghabiskan sarapan yang disediakan pihak rumah sakit, peralatan yang ada di tubuh papa hanya tinggal jarum infus di tangan, yang lainnya sudah dilepas kemarin.
Tok..tok..tok...
"Ah, itu pasti dokter." ucapnya saat ada yang mengetuk dari luar sambil melirik jam tangannya menunjukkan pukul sepuluh, memang biasanya dokter yang datang jam segini untuk memeriksa keadaan papa nya.
Arvi hanya tersenyum menanggapi ucapan Davika, Arvi tau yang datang bukan dokter melainkan keluarganya karena baru saja pesan masuk dari abangnya dan mengatakan ada di depan kamar.
Ceklek.
Davika membuka pintu namun ia heran itu buka dokter dan perawat. Melainkan rombongan yang sepertinya akan menjenguk namun ia tak mengenali mereka semua, ada sepasang suami istri paruh baya, sepasang suami istri yang usianya sudah agak matang, dan sepasang anak kecil lucu.
"Maaf, cari siapa ya?" ucap Davika sopan.
***********
__ADS_1
Jangan lupa vote, comment, like..!!!!!!