
O....o...ora..ng...tu...a...muu...." ucap Kania yang langsung memeluk sahabatnya.
Beberapa detik Davika masih terdiam mendengar dan di peluk Kania, hingga akhirnya ia kembali mengingat apa yang dikatakan Kania barusan.
Melerai pelukan Kania "Orangtuaku?" ucap Davika memandang Kania.
Menganggukan kepalanya lalu mengatakan "Mereka kecelakaan Vik."
"Dimana mereka sekarang?"
"Mereka di dalam Vik, bapakmu sedang diberi pertolongan oleh dokter, kita tidak boleh masuk dulu." ucap Randy pada adik angkatannya yang juga sahabat istrinya.
"Mama lalu bagaimana mana Mama?? dimana Mama?"
"Mama mu meninggal saat tiba disini." ucap Randy lagi, karena sang istri yang saat ini dipelukannya sepertinya sudah tak kuat berbicara lagi.
Tubuh Davika lemah mendengar itu, kesadarannya seakan hilang. Arvi yang berada di belakang Davika sigap menangkap tubuh Davika yang akan terjatuh, sedari tadi ia mendengarkan dengan seksama. Davika ternyata pingsan, ia sangat syok mendengar berita ini.
__ADS_1
"Vik vik bangun jangan pingsan... Mas bagaimana ini?" ucap Kania.
"Dia syok pasti, bawa ke ruang vip sayang ada yang kosong sebentar aku bawakan belangkar dulu." jawab Randy dan akan pergi membawa belangkar serta meminta tolong perawat.
"Tak usah biar ku angkat sendiri." cegah Arvi.
"Baiklah ayo, tak usah khawatir nanti Adit mengabariku." ucap Randy yang mengerti tatapan Kania.
Mereka pun pergi menuju salah satu kamar vip, Randy tau karna sebelumnya dia sudah visit ke ruangan vip. Randy mengurus kepentingan administrasi kamar vip Davika.
Davika sekarang sudah dibaringkan di ranjang pasien. Arvi duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang. Kania dan suaminya duduk di sofa. Tak lama ponselnya milik Randy berbunyi ada pesan masuk dari temannya yang menangani Bapak Davika.
"Aku ikut Mas." ucap Kania.
"Baiklah."
"Ar, aku pergi dulu bersama suamiku. Titip Davika sebentar ya."
__ADS_1
"Tenang saja aku akan menjaganya." Ucap Arvi.
Kini tinggal Arvi dan Davika di ruangan itu. Arvi memegang tangan Davika.
"Bangun Vik...Aku tau kamu perempuan yang kuat... Ayo bangun aku akan menemanimu." bisik Arvi.
Dia tak menyangka semua ini akan terjadi, padahal kurang dari dua jam yang lalu dia bertemu dengan orangtua Davika dan pasangan paruh baya itu pamit pergi ke Bogor untuk menghadiri resepsi pernikahan dari anak salah satu teman sejawat Papa nya.
Adzan ashar berkumandang saat ini dan hujan sedang membasahi bumi seolah semesta tau bahwa ada hati yang sedang menerima duka. Davika masih belum sadar. Kania sudah menghubungi salah satu keluarga Davika, beruntung mereka bersahabat sejak kecil sehingga Kania pun mengenal beberapa keluarga besar Davika.
Pemakaman Mama Davika sedang diurus oleh keluarganya, saat ini di rumah Davika sudah banyak sanak keluarganya yang datang baik dari keluarga papa nya maupun mamanya.
Papa Davika keadaannya belum sadarkan diri dan kecil harapan untuk bertahan hanya mukjizat Allah yang bisa menyelamatkannya. Papa Davika saat ini sudah berada di ruang vip samping kamar Davika dengan berbagai alat yang menempel pada tubuhnya. Ada om Ridwan dan tante Astri adik dari papanya yang menunggu di ruangan itu, serta sepupunya Putra yang menunggu bersama Arvi di ruangan Davika.
Kania dan suaminya sedang mengurus jenazah Mama Davika agar bisa segera dibawa pulang.
************
__ADS_1
Bagaimana reaksi Davika ketika sadar?????