Cinta Yang Akhirnya Terungkap

Cinta Yang Akhirnya Terungkap
Gelisah


__ADS_3

Menjelang shubuh Arvi baru bisa terlelap, sepanjang malam ia hanya duduk bersandar di ranjang memikirkan bagaimana kelanjutan perjalanan cintanya. Haruskah ia terus berjuang sebelum janur kuning melengkung atau menyerah sebelum memulai.


Alarm yang dipasang oleh nya mengusik tidurnya ia pun terbangun, diraihnya ponsel di atas nakas waktu sudah menunjukan pukul delapan. Ia harus segera bersiap untuk pergi menjemput Davika, akhirnya dia memilih mengambil keputusan setelah nanti memberikan beberapa pertanyaan yang mengusik hatinya.


Sebelum pukul sepuluh ia sudah tiba di depan pintu pagar rumah Davika. Menghubunginya memberitahu bahwa ia ada di depan rumah Davika sekarang. Tak lama seorang gadis cantik dengan hijab pashmina muncul membuka pintu pagar, ia pun bergegas turun dari mobilnya menghampiri gadis tersebut


"Assalamualaikum Vik."


"Waalaikumsalam, ayo masuk Ar kebetulan papa dan mama masih ada di dalam. Sengaja nungguin Pak Direktur datang katanya, padahal mereka mau pergi ke Bogor menghadiri pernikahan salah satu kolega papa." terkekeh sambil berjalan di ekori Arvi


"Masa...aduh aku jadi ga enak Vik."


"Apasih Ar, biasa aja jangan gitu. Mama katanya rindu sama penasaran kamu kaya apa sekarang, kamu kan udah hampir 3 tahun deh ga pernah ke rumah karna waktu itu kita ketemu juga janjian di luar kan."


"Iya sih, karna kan waktu aku dan kamu yang terbatas. Waktu itu kan kita ketemu cuma sebentar di sela waktu istirahat kamu saat bekerja." ucap Arvi membenarkan apa yang dikatakan Davika.


Memasuki rumah terlihat orangtua Davika tengah duduk di kursi ruang tamu berdua.


"Ma, nih yang ditunggu tunggu udah dateng."


"Assalamualaikum om tante."


Spontan kedua orangtua tersebut menoleh ke arah Arvi dan Davika.


"Waalaikumsalam." jawab mereka berbarengan.


"Ayo duduk Ar." ucap papa Davika.


"Bagaimana kabar om dan tante?" ucao Arvu setelah ia duduk.


"Alhamdulillah sehat Ar." Kata papa Davika.


"Alhamdulillah kami sehat Ar, duh kamu makin ganteng sekarang terlihat dewasa sampai pangling tante. Kabar kamu gimana?" timpal mama Davika.


Hanya tersenyum menanggapi pujian itu. "Alhamdulillah kabarku sehat."


"Sibuk ngapain sekarang Ar?" tanya papa Davika.

__ADS_1


"Aku sekarang cuma bantu bantu ngurusin perusahaan papa sambil belajar Om masih baru belum terlalu memahami." ucap Arvi merendah.


Mereka berempat pun berbincang bincang hangat, hingga akhirnya orangtua Davika mengakhiri perbincangan tersebut karna harus segera berangkat.


"Om dan tante pergi dulu ya Ar." ucap papa Davika.


"Hati hati kalian nanti pergi nya ya!!! Titip Davika ya Ar." lanjut mama Davika.


"Iya om, tante ..Om sama tante juga hati hati dijalannya."


"Iya Ar."ucap keduanya.


"Kita pergi dulu ya sayang." orang tua Davika bergantian memeluk dan mencium pipinya.


Mereka pun pergi, kini hanya tinggal mereka berdua di ruang tamu tapi ada bibi yang sedang bekerja di dapur.


"Mau berangkat sekarang Ar?"


"Iya Vik."


Di dalam mobil tampak hening, Arvi melirik sebelahnya tempat Davika berada, dia terlihat berbeda seperti sedang gelisah hingga Arvi penasaran apa yang mengganggu pikiran Davika.


"Kamu kenapa Vik? Aku perhatiin dari tadi duduk gelisah gitu kayak ga tenang."


"Aku gapapa."


"Beneran??? Atau kamu ada acara sama calon mu?? Atau kamu takut dia marah karna jalan sama aku?"


"Ngga bukan itu.. Entah kenapa aku merasa hatiku tak tenang Ar beberapa waktu belakangan ini dan sekarang semakin terasa mengganggu hatiku."


"Hmmm mungkin sindrom mau nikah kali." canda Arvi untuk mencairkan keadaan dan membuat Davika sedikit tersenyum.


"Mana mungkin karna itu, aku bukan gelisah memikirkan itu." ucap Davika dalam hati.


Mereka pun pergi jalan jalan tempat yang pertama mereka kunjungi adalah daerah Dago Bandung. Mereka ingin wisata kuliner disana. Namun belum sampai tempat tujuan ponsel Davika berbunyi disana tertera nama sahabatnya.


KANIA CALLING

__ADS_1


Davika menggulirkan tombol hijau mengangkat telepon sahabatnya.


"Assalamualaikum Vik." terdengar suara Kania di sebrang sana namun ada yang berbeda suaranya terdengar parau seperti menangis.


"Walalaikumsalam, kamu kenapa??" tanya Davika penasaran.


"Aku gapapa, tapi kamu harus segera datang ke tempat rumah sakit Mas Randy bekerja ya Vik sekarang, aku tunggu!!!"


"Ada apa Kania, kenapa kamu seperti habis menangis?"


"Aku ga bisa bicara sekarang Vik, kita bertemu disana ya. Aku ini sedang dijalan menuju ke rumah sakit, Assalamualaikum." telepon pun terputus tanpa menunggu jawaban Davika.


Relung hatinya terasa sakit saat ini membuat dia yang awalnya gelisah semakin merasa tak enak.


"Arvi sepertinya kita harus ke rumah sakit tempat suami Kania bekerja dulu, barusan Kania menelepon meminta segera kesana."


"Ada apa?"


"Entah ada apa namun aku merasa Kania seperti habis menangis. Tapi Kania tak menjelaskan apapun ia meminta aku menemuinya di rumah sakit sekarang."


"Baiklah kita kesana dulu, kamu tau tempatnya?"


"Iya aku tau Ar, aku tunjukan jalannya."


"Oke... semoga tak terjadi hal yang buruk."


"Iya semoga."


Mobil pun melaju menuju rumah sakit tempat suami Kania bekerja. Setelah sampai Davika segera menghubungi Kania, bertanya dimana sahabatnya itu berada. Kania menjawab sedang berada di depan Unit Gawat Darurat.


Davika dan Arvi pun melangkahkan kakinya kesana, terlihat oleh mereka Kania sedang menangis di pelukan suami nya.


Membuat Davika semakin penasaran apa yang terjadi. Melangkahkan kaki semakin dekat semakin berdebar tak menentu pula perasaan Davika.


********


Ada yang bisa nebak apa yang terjadi selanjutnya??????

__ADS_1


__ADS_2