
Arvi sampai di rumah Davika, langsung masuk ke dalam rumah, terlihat Davika ditemani wanita paruh baya mungkin tantenya. Arvi menghampiri mereka.
"Assalamualaikum Vik, emm tante."
"Waalaikumsalam." jawab mereka.
"Vika, ini aku bawakan nasi goreng mumpung masih hangat di makan dulu ya." ucap Arvi.
"Iya benar, makanlah Vik, dari tadi tante lihat kamu tidak makan apapun nanti kamu sakit nak." tambah tante nya.
"Makan ya sedikit." bujuk Arvi.
Davika pun menganggukan kepala nya.
"Pergilah makan di ruang makan Vik, disana masih ada lauk pauk yang tadi tante siapkan."
"Iya tan." ucap Davika.
Davika dan Arvi pun pergi menuju meja makan, diambil piring kosong oleh Arvi lalu dituangkan nasi goreng ke piring.
"Ini makanlah." namun Davika diam hanya melamun tak merespon. Arvi ber inisiatif menyuapi Davika. Menyendokkan nasi goreng diarahkannya ke mulut Davika.
"aaaaa" ucap Arvi membuat Davika tersadar dari lamunannya.
"Gapapa aku suapin, aaaaaa." ulangnya lagi.
Melihat Arvi yang kekeh Davika pun membuka mulutnya menerima suapan nasi goreng itu. "Kamu juga pasti belum makan kan Ar."
__ADS_1
"Aku gampang Vik, nih buka mulutnya lagi...aaaaa."
"Makanlah Ar sama sama, nanti kamu sakit."
"Baiklah."
"Aku ambilkan nasi nya ya mau pakai lauk apa?" tanya Davika.
"Jangan Vika, nanti aku ambil sendiri." cegah Arvi. "Buka lagi mulutnya , aaaa."
"Makanlah sekarang Ar, atau makan nasi gorengnya saja, aku takkan sanggup menghabiskan semuanya."
"Baiklah, nih aku makan." pasrah Arvi menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
Selesai makan mereka kembali ke ruang tamu, tak lama adzan shubuh berkumandang. Mereka pun menunaikan ibadah shalat.
*******
Pagi ini Davika tampak lebih tegar, matanya yang sembab ia tutupi dengan kacamata hitam. Namun tetap saja air matanya menetes saat tanah merah itu akan menutupi mamanya, ia seka air matanya yang menetes dan menahannya agar tak terjatuh lagi. Dia ingin mengantarkan mama nya untuk terakhir kali dengan senyuman bukan tangisan. Dia berhasil tegar sampai pemakaman selesai, meng aamiin kan doa yang dilantunkan oleh ustadz, terakhir ia menaburkan bunga di atas makam mama nya.
Hari beranjak siang orang orang telah pergi meninggalkan pemakaman, tinggal Davika, Arvi, Tante Astri, dan Om Ridwan, karena saudara yang lainnya telah kembali ke rumah menyiapkan pengajian yang akan digelar nanti malam selama tujuh hari berturut turut untuk mendoakan mama nya.
"Ayo Vika kita pulang." ucap om Ridwan.
"Iya sayang ayo kita pulang, nanti kita kesini lagi." ucap tante Astri.
"Om sama tante sama Arvi duluan saja, Vika masih mau disini." ucap Davika melihat satu persatu nama yang ia sebut.
__ADS_1
"Tapi...." belum sempat om Ridwan meneruskan perkataannya ponsel yang ada di sakunya berdering, lalu dirogohnya dan terlihat yang memanggil adalah Putra, anaknya yang sedang menunggu papa Davika di rumah sakit.
Digulirkannya tanda hijau untuk menjawab "Iya A, ada apa?"
"Pa, kesini sekarang penting." ucap Putra.
"Iya iya, papa kesana sekarang." putus om Ridwan.
"Vika, barusan Putra telepon menyuruh ke rumah sakit sekarang." ucap om Ridwan.
"Papa sadar om?" ucap Davika.
"Om belum tau, tapi lebih baik kita segera kesana."
"Iya om." ucap Davika.
"Mari ku antar." ucap Arvi pada semuanya.
"Om sama tante bawa mobil Ar, nanti ketemu di rumah sakit saja ya." ucap tante Astri.
"Iya om, tante, aku ikut Arvi aja masih ingin disini sebentar lagi saja." ucap Davika.
Om Ridwan dan tante Astri pergi duluan menuju rumah sakit.
"Ma, Vika sayang mama, mama yang tenang disana, Vika akan selalu mendoakan mama, Vuka sekarang pergi dulu ya mau lihat papa, nanti Vika pasti akan sering kesini mengunjungi mama. Assalamualaikum ma." ucap Davika dengan tegar tanpa air mata.
********
__ADS_1
pernah dengar kata kata "orang yang tak menunjukan kesedihannya dan tangisannya justru adalah orang yang paling bersedih dan terluka"