
"Pa....pa...i..ng...in."
"Ingin apa pa?" ucap Davika.
"I....ng..in..me...nikk...ah...kan......mm...mu."
Deg....
Ada dua hati yang saat ini berdebar tak menentu. Satu hati merasa tertusuk seribu jarum, mendengar permintaan papa Davika yang ingin menikahkan anaknya, itu artinya ia akan melihat Davika menikah dan ia harus menyerah melawan takdir. Satu hati lagi dia sedang tersayat dan di landa kebingungan, menikah dengan siapa? Apa dengan anak sahabat mama nya itu?.
Genggaman tangan papa yang mengerat menyadarkan Davika dari lamunan nya.
"Davika akan melakukan apa yang papa minta, tapi papa harus berjuang untuk sembuh ya." papa menganggukan kepala nya "Setelah papa sembuh, Davika akan menikah." ucapnya kembali.
Namun kali ini papa nya menggelengkan kepala.
"Kenapa?" tanya Davika.
"Pa..pa...ing..in...ka..mu..meni...kah..se...ka..rang.." ucap papa nya.
__ADS_1
Semua yang ada disana tercengang, mereka masih bisa mendengar walaupun suaranya sangat pelan karena mereka semua berdiri mengelilingi ranjang itu.
"Papa, ingin Davika menikah dengan anak sahabat mama itu?" tanya Davika.
Tapi lagi lagi papa menggelengkan kepala pelan, sekarang Davika bingung papanya meminta menikah tapi bukan dengan anak sahabat mama nya, lalu dengan siapa???
Menghembuskan nafas pelan "Lalu dengan siapa? Papa tau kan Davika tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Sebenarnya Davika sudah berencana akan berbicara pada papa dan mama bahwa setuju untuk menikah dengan anak sahabat mama tapi Vika terlambat musibah ini telah terjadi."
"Jadi Davika tidak mencintai sedang mencintai seorang laki laki." gumam Arvi dalam hatinya. Rasa nya dia mempunyai harapan sedikit saat ini, semoga Davika tidak menikah saat ini setidaknya menunggu papa nya sehat, dia berharap mempunyai kesempatan untuk berjuang.
Davika dan yang lainnya diam, papa nya belum menjawab, namun saat ini papa nya sedang mengedarkan netra nya menatap sekelilingnya seperti sedang mencari keberadaan seseorang...
"Ar..vi." ucap papa Davika sambil tersenyum sedikit.
Gotcha ..
Orang yang ia cari ada.
"Iya om." Arvi yang hanya mengira dia dipanggil pun hanya menjawab.
__ADS_1
"Vik....pa..pa...ing..in..ka..mu..meni..kah..deng..an..Ar..vi.." ucap papa.
Arvi diam tak merespon, dia masih meyakinkan dirinya bahwa yang dia dengar barusan benar bukan mimpi. Om Ridwan, tante Astri, Putra hanya bisa memperhatikan karena mereka bingung tak tahu apa yang terjadi sebelumnya hingga papa Davika meminta putrinya menikah segera
Davika yang terkejut segera menyadarkan dirinya kembali, dia melihat Arvi masih diam tak berkedip, dia menyangka mungkin Arvi mempunyai tambatan hati. Dia tak bisa egois, walaupun ia sangat ingin mengabulkan keinginan papa nya tapi ia tak bisa mengorbankan kebahagiaan orang lain hanya demi kepentingan keluarganya. Meskipun dia mencintai Arvi tapi Arvi tak tahu dan cinta tak bisa dipaksakan. Tapi kenapa papa meminta dia menikah dengan Arvi, hati Davika bertanya tanya. Arvi pasti bingung menanggapi permintaan papa nya barusan, pikir Davika. Dia pun mengumpulkan kata kata yang akan di ucapkan nya jangan sampai membuat papa nya drop lagi.
"Pa, papa sekarang fokus dulu saja dengan kesembuhan papa ya." ucap Davika. Arvi pun tersadar dari lamunannya, ia yakin sekarang yang ia dengar barusan nyata.
Menggelengkan kepalanya lalu "Pa..pa..tak..ut. .ti...dak..sem..pat."
"Papa jangan bicara seperti itu, Iya Vika akan menikah, tapi tidak sama Arvi, Arvi mungkin sudah punya tambatan hati pa, Vika akan hubungi...."
"Tunggu....." ucap Arvi memotong perkataan Davika.
*******
Tunggu apa?????
Tunggu hilal ya????🙊😁
__ADS_1