
Seminggu Yang Lalu di Jakarta
Arvi Akbar pria itu semakin terlihat menarik di mata kaum hawa namun sayang sulit untuk mendekatinya. Dia menutup rapat pintu hatinya, jangankan untuk mendekatinya hanya mendapatkan senyuman darinya saja sulit.
Orangtuanya yang selama ini selalu memperhatikan gerak gerik anaknya merasa harus ikut turun tangan mengenai masa depan putranya itu, sebab mereka tak pernah melihat Arvi menggandeng wanita manapun.
Hari ini kebetulan mereka semua komplit duduk di meja makan, ada orangtuanya kakak beserta istrinya dan keponakannya yang lucu lucu. Menikmati hidangan tersebut dengan khidmat. Namun saat selesai makan malam Papa menyampaikan agar Arvi menemuinya di ruang baca.
Arvi pun mengikuti langkah Papa serta Mama nya membuat ia bertanya tanya ada apa gerangan orangtua memanggilnya.
"Duduklah Bar." Ucap papa. Mereka bertiga duduk saling berhadapan, papa dan mama duduk berdampingan disatu sofa yang sama dan Arvi Akbar duduk di single sofa depan orangtuanya.
"Iya pa, ada apa papa memanggilku? Seperti ada hal serius, apa aku melakukan kesalahan di perusahaan?"
"Tidak ada hubungannya dengan perusahaan Bar. Papa dan Mama hanya ingin bertanya tentang urusan asmara. Apa kamu saat ini sedang menjalani hubungan serius dengan seorang perempuan?"
Menggelengkan kepala sebagai jawaban disertai tatapan bingung.
"Begini, papa dan mama berencana menjodohkanmu dengan perempuan anak sahabat mama kamu kebetulan papa juga kenal dekat dengan suaminya mereka orang yang baik."
Kaget itulah respon yang diberikan Arvi kepada orangtuanya.
"Mama dan papa tidak memaksa Bar. Semua keputusannya ada ditangan kamu. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu, ingin melihat kamu membina rumah tangga seperti kakakmu Arkan."
"Akbar memang saat ini tak menjalin hubungan serius dengan perempuan manapun, namun selama ini sebenarnya Akbar mencintai seorang perempuan dan sedang mempersiapkan diri menjadi laki laki yang pantas untuk meminangnya." dengan yakin Arvi Akbar menjawab.
"Sungguhkah itu? Siapa perempuan itu Bar?" mama penasaran.
"Akbar mohon maaf kepada papa mama bukan maksud ingin mengecewakan, namun sebelum ini berikan kesempatan padaku. Akbar akan membawa perempuan itu kesini dan papa mama bisa menilai bagaimana ia, aku yakin kalian akan menyukainya."
"Kapan kamu akan membawanya?" tanya papa.
"Satu minggu lagi aku ada pekerjaan di Bandung, rencananya sekalian untuk menemuinya dan mengutarakan niatku ini karna selama ini kami hanya bersahabat. Doakan aku semoga niatku lancar."
"Tentu kami selalu mendoakanmu, pergilah kembali ke kamarmu kamu pasti lelah segera istirahat."
"Baik Pa,Ma, terima kasih mau memberiku kesempatan." berlalu pergi meninggal ruang baca.
"Pa, bagaimana ini? Apa mama harus menghubungi Vina sekarang dan memberitahu bahwa niat kita tak bisa terlaksana?"
"Jangan dulu ma, kita lihat nanti satu minggu lagi setelah Akbar membawa perempuan yang diinginkannya. Bukankah kalian akan berjanji bertemu 2 minggu lagi untuk membahas masalah ini?"
__ADS_1
"Iya pa. Biarkan dulu nanti papa juga akan menghubungi David agar ikut nanti saat kita bertemu."
"Baiklah pa semoga David dan Vina tak kecewa nanti."
Malam itu orangtua Arvi pun mengakhiri obrolan mereka tentang perjodohan yang mereka rencanakan.
Sedangkan dikamarnya Arvi bersandar ditempat tidur menimang nimang ponselnya ia galau ingin menelepon namu khawatir mengganggu sang pujaan hati. Akhirnya diurungkannya iya memutuskan akan memberikan surprise dengan datang langsung dan menemui pemilik hatinya nanti.
Ahhh dia tak sabar rasanya ingin satu minggu ini cepat berlalu.
Skippp.......
Hari ini hari yang Arvi tunggu tunggu dia akan pergi ke Kota Bandung bersama sekretarisnya Pandu. Dengan perasaan senang dan bahagia ia duduk di kursi belakang sesekali tersenyum samar samar. Pandu yang ada di kursi depan bersama seorang supir melihat ke belakang merasa aneh dengan sikap bos nya hari ini.
"Ada apa sih si Bos, kuperhatikan dari pagi datang dia seperti itu." dalam hati Pandu sembari kembali melihat ke depan.
Arvi berharap hari ini apa yang ia rencanakan semua lancar. Ia akan mengungkapkan cinta yang sebenarnya kepada Davika selama ini dan akan langsung mengajak Davika Menikah.
Setiba di Kota Bandung Arvi langsung menuju kantor Klien nya untuk meeting membahas proyek yang kan mereka lakukan, setelah itu ia akan pergi menemui Davika.
Meeting berjalan lancar sesuai yang ia perkirakan selesai saat menjelang makan siang, namun kliennya mengajak ia untuk makan siang bersama. Tak enak hati menolak karna nyatanya makan siang telah dipersiapkan, kliennya sudah mereservasi tempat jamuan makan siang untuknya.
Selesai makan siang bersama lalu ia memerintahkan Pandu beserta supirnya untuk beristirahat di hotel karna ia akan membawa mobil sendiri menemui Davika.
Davika yang sedang mengemudikan mobilnya menuju rumahnya menghentikan mobilnya ke bahu jalan karna Ponselnya berdering sejak tadi entah siapa yang menghubunginya.
Pov Davika On
Drrrt.....drrrtt..drrrt...
Mengambil ponsel yang ada di tas nya lalu mengerutkan keningnya.
"Arvi"
Nama yang muncul di layar ponselnya.
Ada apa dia menghubungiku sore begini tumben sekali biasanya jika menghubungiku selalu di jam makan siang atau malam.
Ponselnya kembali berdering membuat ia tersadar dari lamunannya.
"Assamualaikum Ar?
__ADS_1
"Waalaikumsalam Vik, lama bener angkat telepon nya. Kamu lagi sibuk ngga?? Aku lagi d Bandung, bisa ketemu sekarang?" ucap Arvi to the point
"Ngga, kebetulan aku lagi free hari ini. Ini lagi dijalan abis ketemuan sama Kania tadi. Mau bertemu dimana?"
"Kamu itu sedang di daerah mana? Bertemu di salah satu Cafe yang dekat dengan lokasimu saja."
"Mmm sepertinya kita bisa bertemu di Cafe B Ar."
"Ok baiklah, coba shareloc tempatnya."
"Sudah aku share."
"Sebentar aku lihat dulu" mengecek pesan masuk dan membuka maps "ini tidak terlalu jauh dari posisiku Vik, aku akan sampai 20 menit ke Cafe B."
"Baiklah Ar, sampai ketemu ya. Hati hati dijalan. Assamulalaikum."
"Iya kamu juga hati hati. Waalaikumsalam."
Ya Allah kuatkan hati saat bertemu dengannya agar tak menangis, mungkin ini saatnya aku melepaskan perasaanku untuk terakhir kalinya.
Sampai di Cafe ku edarkan pandanganku mencari tempat yang sekiranya nyaman. Alhamdulillah kondisi Cafe yang tak terlalu ramai membuatku merasa sedikit tenang.
Gugup sekali rasanya, aku sudah lama tak bertemu dengannya hampir 1 tahun hanya mengobrol dengan melalui video call itu pun tak sering karna kesibukannya dan kesibukanku yang sering berbenturan.
Pintu cafe terbuka aku melihatnya.
Dia laki laki yang selama ini ada dihatiku. Terlihat semakin tampan dan matang. Ya Allah maafkan aku biarkan sekali ini saja untuk terakhir kali nya aku memandangnya.
"Ar disini." panggilku pelan.
Dia tersenyum mengangguk dan menghampiriku lalu duduk di depanku.
"Waw... kamu cantik banget pake hijab gini." puji nya membuat pipiku merona semoga dia tak melihatnya.
Kami mengobrol di selingi canda tawa ditemani dua gelas kopi, lalu aku merasa mungkin ini saatnya aku melepaskan perasaanku dan memberitahunya bahwa aku akan menikah.
"Ar.. mungkin aku akan segera menikah sebentar lagi."
Byurr....Prangg
Membuat gelas yang sedang dipegang Arvi jatuh dan tumpah mengenai Celana nya.
__ADS_1
Pov Davika Off .
Bagaimana kelanjutannya????apakah Arvi akan menyatakan cintanya atau tidak?????🙄🙄🙄