Cinta Yang Akhirnya Terungkap

Cinta Yang Akhirnya Terungkap
Belajar yaaa


__ADS_3

Dua hari berlalu akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Hari ini papa Davika di ijinkan pulang dari rumah sakit, kondisi kesehatannya sudah pulih. Sebelum pulang ke rumah beliau meminta diantar ke tempat peristirahatan terakhir istri tercintanya ingin berziarah dan mendoakan secara langsung.


Davika pun mengiyakan keinginan papa nya ditemani Arvi tentunya. Jika mengingat lagi hari ia kehilangan mama nya rasanya masih sama sakitnya, namun ia tetap bersyukur Allah masih memberikannya kesembuhan dan kekuatan untuk papa nya. Allah yang kuasa atas segala hal yang terjadi jika kita berhati hati bisa saja orang lain tak berhati hati yang menyebabkan orang lain merugi, sama hal nya dengan kejadian yang menimpa orangtuanya. Menurut laporan kejadian kronologis kecelakaan orangtuanya yang dituturkan pihak kepolisian berdasarkan saksi mata dan pemeriksaan tkp kecelakaan itu diakibatkan kelalaian pengemudi lain, ingin menuntut pun tak bisa karna pengemudi itu juga ikut meninggal seperti mama nya pada hari kejadian. Mencoba ikhlas, biarlah Allah langsung yang mengadili.


Tiba di pemakaman mereka berziarah dan berdoa dengan khidmat, papa Davika menumpahkan air matanya, mengucap maaf sebanyak banyaknya karena merasa gagal melindungi istri nya dari marabahaya. Setelah dirasa cukup, mereka bertiga pulang menuju ke rumah. Saat sampai di rumah, Davika langsung mengantarkan papa nya untuk ber istirahat di kamar, setelah itu dia ke dapur menemui bi Inah asisten rumah tangganya untuk memberi tahu makanan apa saja yang ingin di siapkan untuk makan malam nanti.


Selesai urusannya dengan bi Inah dia kembali ke ruang tamu, Arvi masih setia duduk disana. Sembari berjalan menghampiri Arvi, dia terus berpikir terngiang ngiang ucapan papa nya "Arvi suamimu, sekarang dia imam mu, kamu sudah dewasa tau apa yang harus dilakukan sebagai istri dan makmum yang baik papa percaya itu." sebelum dia meninggalkan kamar papanya.


"Mau istirahat dulu?" tanya Davika.


"Iya boleh mumpung masih sore badan cape juga." jawab Arvi.


"Ya sudah ayo." ajak Davika sembari berjalan menuju kamarnya dilantai dua di ikuti oleh Arvi, dia canggung sekarang memanggil Arvi dengan sebutan apa. Tak mungkin baginya memanggil suami dengan sebutan nama saja.


Arvi hanya tersenyum melihat tingkah Davika yang kaku, mungkin sekarang saat yang tepat membahas hubungan keduanya.


"Vika, bisakah kita bicara serius?" ucap Arvi saat sudah berada dalam kamar Davika dan menutup pintu.


"Iya boleh." ucap Davika lalu duduk di atas sofa tempat ia berselonjor jika menonton. Di atas sofa itu mereka duduk berdampingan.


"Sebelumnya aku minta maaf, sudah membuatmu berada di posisi ini. Tapi sungguh aku tidak akan memaksakannya." ucap Davika terlebih dahulu.


"Maksudmu ingin kita berpisah?." tanya Arvi

__ADS_1


"Mmm maksudnya, jika kamu sudah memiliki wanita pilihanmu aku tak keberatan dan ikhlas jika harus di ceraikan namun aku minta rahasiakan dari papa dahulu."


"Vika, menikah bagiku hanya ingin sekali seumur hidup, aku pun sudah mengenalkanmu kepada keluarga ku dan mereka juga sudah menerima." ucap Arvi, ingin sekali dia mengungkapkan kata cinta namun ia harus menahannya sampai nanti malam. Dia sudah mempersiapkan sesuatu di villa kawasan Lembang yang sudah setahun ia beli sengaja untuk tempat melepaskan penat. Ini juga atas saran dari mertua nya agar mengajak istrinya berlibur barang sehari dua hari agar suasana hatinya kembali fresh dan ceria setelah diterpa ombak dan karang. Arvi pun mengiyakan dan sekalian akan menjadikan moment dimana dia mengungkapkan rasa cintanya pada sang istri dengan kejutan tentunya yang telah ia siapkan dibantu oleh sepasang suami istri yang merawat villa nya selama ini.


"Maukah kamu menerima ku sebagai suami mu seutuhnya? Belajar memaknai pernikahan bersama?" tanya Arvi sembari memegang tangan Davika yang sedari tadi menundukkan kepala melihat ke karpet.


Davika sontak mengangkat kepala nya dan menatap Arvi, saat ini rasa nya berjuta juta kupu kupu terbang di hati nya. Ingin sekali dia mengucapkan cinta namun rasa malu mendominasi dan menahan nya.


"Mau?" tanya Arvi sekali lagi.


"Aku mau, tapi aku bukan wanita sholehah yang paham betul betul akan agama. Jika suatu hari nanti aku melakukan kesalahan bimbing dan tegur aku." ucap Davika malu malu.


"Aku pun sama sepertimu bukan laki laki sholeh yang kaya ilmu agama, kita belajar sama sama saling menyempurnakan bukankah itu tujuan menikah untuk menyempurnakan separuh ibadah kita. Banyak makna dari kata kata tersebut. Jadi mari kita belajar bersama sama, sebagaj awal belajarlah menerima aku sebagai suamimu begitu pun aku akan menerimamu sebagai istriku."


"Mmmmm iyaa." ucap Davika lirih.


"Aku bingung sebenarnya sekarang memanggilmu apa, aku merasa sekarang tak baik jika memanggilmu hanya nama." jujur Davika.


"Kamu boleh memanggilku apapun, aku ga masalah. Senyamannya kamu aja."


"Aku kan orang sunda, kamu kan pernah sekolah disini tiga tahun, tau kan kalau orang sunda biasanya manggil Aa/Akang sebagai bentuk menghormati pada laki laki yang lebih tua." ucap Davika.


Menggaruk kepalanya bingung, Arvi merasa aneh jika dipanggil seperti itu lalu ia pun terpikirkan ide "Gimana kalau abang aja untuk sementara nanti lama lama jadi sayang." celoteh Arvi menggoda Davika.

__ADS_1


"Baiklah abang." ucap Davika.


"Eh tapi tunggu Vik, kok jadi kaya adik lagi manggil kakak nya ya. Ganti ah ganti, mas aja ya??" ucap Arvi antusias. Dia memang turunan betawi jawa, papa nya asli betawi dan mama nya Yogyakarta. Dia terdampar tiga tahun di Bandung karena mama nya ingin suasana asri tapi tak mungkin jika pindah ke Yogyakarta jarak ke Jakarta terlalu jauh jadilah pilihannya jatuh ke kota kembang.


"Iya mas." ucap Davika.


"Ishhh gemesin deh malu malu gitu." ucap Arvi sambil mencubit pipi Davika.


"Ishhh sakit Arvi!!!!." ucap Davika replek keceplosan "Maaf mas aku kelepasan belum terbiasa abis kamu sih main cubit aja." ucap Davika lagi mulai mencair dan tidak kaku.


"Iya gak apa apa pelan pelan aja nanti juga terbiasa. Sekarang istirahat dulu yuk tidur aku ngantuk nih." ajak Arvi sungguh ia ingin sekali memeluk Davika saat ini.


"Mas tidur aja duluan di kasur, aku ganti baju dulu." ucap Davika lalu langsung pergi menuju walk in closet, pipi nya memerah mendengar ajakan Arvi jantungnya bertalu talu.


Arvi menggelengkan kepala melihat tingkah Davika, lalu ia pun melangkah menuju tempat tidur dan merebahkan dirinya menunggu Davika.


"Sini." ucap Arvi saat melihat Davika keluar dari walk in closet memakai baju kaos dan celana panjang rumahan lengkap dengan kerudung bergo.


*********


Apa kejutan dari Mas Arvi ya kira kira???????


Happy fasting everyone....

__ADS_1


Dont forget favorite, like, comment, and vote!!!!!


Gomawo😉


__ADS_2