Cinta Yang Akhirnya Terungkap

Cinta Yang Akhirnya Terungkap
Bertemu istri


__ADS_3

Papa Davika yang mendengar dan melihat putrinya mengaji bersama suaminya begitu bahagia, dia tersenyum dan semakin yakin akan perasaannya bahwa Arvi akan menjadi suami yang baik bagi Davika, lalu memejamkan mata nya tertidur.


Satu minggu sudah Arvi dan Davika menikah, tak ada perubahan signifikan dalam hubungan mereka. Hubungan mereka malah cenderung mengalami kemunduran karena rasa canggung dan tak enak hati yang dirasakan oleh Davika. Pengajian yang diadakan untuk mendiang mama nya telah selesai kemarin, nanti hari ke empat puluh baru diadakan lagi pengajian. Kondisi papa nya sudah membaik namun masih tetap harus dirawat intensif, dia mengambil cuti panjang selama dua minggu dari pekerjaannya terhitung setelah hari kematian mama nya.


❤❤❤❤❤❤❤


Arvi sudah kembali ke Jakarta dua hari setelah mereka menikah karena tanggung jawab pekerjaan yang tak bisa dilimpahkan begitu saja, dan juga keluarga nya belum mengetahui pernikahannya.


Sampai di Jakarta dia langsung menceritakan semua yang terjadi di Bandung pada orangtuanya dan artinya dia menolak perjodohan yang diusulkan orangtua nya.


Orangtua Arvi senang mendengar anaknya telah menikah walaupun sedikit kecewa kenapa Arvi baru memberitahu sekarang padahal jika tau dari awal mereka pasti langsung pergi ke Bandung menghadiri pernikahan. Jarak yang tak terlalu jauh memungkinkan mereka tuk pergi mendadak dan mengenai perjodohan yang ditawarkan sebelumnya itu tak menjadi masalah karena itu baru sekedar rencana serta dari awal sudah ditekankan perjodohan akan terjadi jika anak anak mereka setuju.


Selama jauh dari istrinya dia tetap memberikan perhatiannya melalui pesan pesan yang dikirimkannya, menunggu hari jumat membuatnya tak sabar. Karena pada hari itu sepulang kerja dia akan langsung ke Bandung bersama orang tuanya, abangnya, kakak iparnya, serta keponakan keponakannya. Mereka akan ikut semua menemui anggota keluarga baru dan menjenguk papa Davika.


❤❤❤❤❤

__ADS_1


Hari Jumat pun tiba, sore ini keluarga besar Arvi siap bertolak ke Bandung. Mereka menggunakan dua mobil, karena Arvi nanti tak ikut pulang ke Jakarta. Dia sudah membicarakan masalah pekerjaan dengan abangnya dan abangnya tentu saja memahami serta mendukung keputusan Arvi yang akan stay sementara di Bandung.


Namun begitu Arvi tetap bekerja melalui laptop nya, teknologi yang canggih memudahkan pekerjaannya saat ini, untuk meeting yang masih bisa dilakukan via zoom akan ia lakukan sendiri sementara meeting yang menuntut kehadirannya akan digantikan langsung oleh CEO nya yaitu Arkan abangnya, yang tentu saja dibantu oleh Pandu sekretaris yang merangkap asisten pribadi Arvi. Mereka membagi setiap proyek yang dipegang walaupun satu perusahaan, biasanya setelah proyek rampung baru Arvi sebagai wakil CEO akan melaporkan pada abangnya.


❤❤❤❤❤❤


Davika duduk sendiri di sofa, sembari memandang papa nya yang tengah terlelap. Dia bersyukur kondisi papa nya semakin hari mengalami kemajuan. Jika terus seperti itu Dokter mengatakan tiga hari lagi boleh pulang. Kania bersama putra nya Rafael selalu menemani Davika dari siang hingga sore, tingkah laku Rafael yang lucu dan menggemaskan menjadi pelipur lara bagi Davika dan papanya.


Cklek.


"Assalamualaikum." ucap Arvi pelan karena takut membangunkan papa yang terlelap, lalu duduk di depan Davika.


"Waalaikumsalam, kenapa malam malam begini datangnya?? padahal aku tak apa apa kamu pasti sibuk kan di Jakarta, weekend harusnya istirahat pasti lelah." ucap Davika tak enak hati.


Menghela nafasnya, istrinya masih saja sama seperti ini merasa sungkan tak enak hati padanya. Seperti nya ia harus berbicara serius pada istrinya ini dan mengatakan bahwa dia menikahinya karena mencintai dia sejak lama bukan hanya karena permintaan papa nya.

__ADS_1


"Tak ada kata sibuk dan lelah untuk istri. Aku kesini bersama keluarga besar, mereka ingin menemui istriku dan menjenguk papa. Tapi karena sekarang sudah malam jadi besok pagi baru akan datang kemari menjenguk papa, sekarang mereka langsung ke rumah yang di Bandung istirahat karena kebetulan anak anak bang Arkan juga pada tidur." jelas Arvi pada istrinya itu.


"Sudah makan belum? Jika belum aku pesankan." tanya Davika.


"Sudah makan dijalan, aku sekarang pengen tidur." jawab Arvi.


"Ya sudah tidur disini saja, biar aku pindah duduk kesitu." ucap Davika yang akan berdiri bertukar tempat dengan Arvi. Karena yang di duduki Davika adalah sofa bed sedangkan yang di duduki Arvi sofa kecil.


"Jangan" cegah Arvi berdiri sambil memegang lengan istrinya menyuruhnya kembali duduk, lalu ia merebahkan kepala nya di pangkuan istrinya. "Begini saja, aku hanya tidur sebentar." tambahnya lagi, memejamkan matanya dan tak lama tertidur.


Hati Davika sungguh berdebar debar sejak tadi, posisi ini terlalu intim baginya. Melihat Arvi yang benar benar tertidur, membuat Davika berani menatap lekat setiap garis wajah dan mengusap usap rambut suaminya.


Benarkah ini bukan mimpi??? Benarkah yang kini jadi suaminya adalah laki laki yang ia cintai??? Sungguh sampai detik ini kadang dia merasa semua ini mimpi, duka dan bahagia yang datang bersamaan.


Membuai sayang penuh kelembutan membawa rasa kantuk bagi Davika yang akhirnya ikut tertidur.

__ADS_1


__ADS_2