Cinta Yang Akhirnya Terungkap

Cinta Yang Akhirnya Terungkap
Menerka nerka


__ADS_3

Pov Arvi On.


Bagaikan disambar petir di siang bolong saat dia mengatakan akan segera menikah.


Tuhan apakah aku terlambat???


Siapakah laki laki beruntung yang mendapatkannya??


Apakah selama ini dia tak memiliki perasaan yang sama denganku????


Apa yang harus kulakukan sekarang???


Apa aku harus menyerah sekarang??


Aku kalah sebelum berjuang.


Apa yang harus ku katakan sekarang?


Haruskah aku pura pura bahagia mendengar kabar ini??


Apa dia akan bahagia???


"Ar..Ar..Arvi????" panggil dia menarik kesadaranku dari alam bawah sadar kembali.


"Hah, iy..iya kenapa?" masih melongo "Ah, tumpah ya." ucapku meringis melihat dia sedang mengumpulkan serpihan serpihan gelasku yang pecah bersama seorang pekerja cafe tersebut.


"Maaf mbak ya, nanti saya ganti gelas pecahnya masukkin aja k bill ya nanti saya ke kasir." lanjutku kepada pekerja cafe tersebut.


"Iya mas tidak apa apa, saya permisi mas mbak." ucap pekerja cafe tersebut setelah selesai membersihkan gelas yang pecah.


"Kamu kenapa Ar?" ucap Davika setelah duduk kembali.


Tersenyum samar yang lebih tepatnya mungkin meringis "Aku gak apa apa mungkin hanya terlalu kaget mendengar kamu akan menikah."


Pov Arvi off


Davika terlihat berusaha mengendalikan perasaannya yang berkecamuk dan meyakinkan hatinya bahwa apa yang ia lakukan sudah benar.


"Segitu nya kamu Ar, ngomong ngomong kamu sudah punya calon??" bertanya dengan rasa getir di hatinya. Apakah ia sanggup mendengar jika Arvi sudah memiliki tambatan hati?


Menggeleng pelan. "Belum."

__ADS_1


"Semenjak kamu pindah ke Jakarta mengapa kamu tak pernah curhat tentang perempuan lagi kepadaku?"


"Karna di Jakarta aku memang tak pernah pacaran lagi Vik, aku fokus kuliah dan belajar di perusahaan sama Bang Arkan." "agar bisa sukses dan menjemputmu kembali menjadi istriku." gumam Arvi dalam hatinya.


"Oh begitu, hebat kamu kuat sekali menahan godaan para fans mu. Aku yakin pasti banyak yang mengejarmu." canda Davika mencairkan suasana.


"Hahahaha.. bisa aja kamu." timpal Arvi.


Tiba tiba ponsel dalam tas Davika berbunyi, dilihatnya ternyata sang Mama yang menghubungi. Lalu ia gulirkan tombol hijau itu untuk menjawab telepon.


"Assalamualaikum Ma"


"Waalaikumsalam, kamu sedang dimana Vika?"


"Vika sedang di Cafe Ma, bertemu Arvi kebetulan sedang di Bandung. Ada apa Ma?"


"Oh begitu, itu mama pengen minta tolong ambilin kue pesanan di toko langganan mama, untuk diberikan ke masjid nanti setelah isya ada pengajian rutin bapak bapak. Kamu bisa ga? Kalau ga bisa gapapa nanti mama minta tolong antar ke papa buat ambil kesana."


"Vika bisa ma, nanti saat pulang Vika ambilin."


"Makasih sayang, salam untuk Arvi dan ajak sekalian mampir ke rumah."


"Iya ma nanti Vika sampaikan."


"Waalaikumsalam Ma."


Arvi menunggu Davika yang sedang berbicara dengan Mama nya sambil mengecek beberapa email yang masuk di ponselnya. Saat mendengar ucapan salam, Arvi langsung mengalihkan pandangannya kepada Davika. Dia ingin tahu siapa laki laki yang sudah berhasil memikat hati seorang Davika Maharani.


"Maaf Ar obrolannya jadi kepotong barusan mama telepon minta tolong ambilin pesanan untuk ke masjid sebelum isya."


"Iya gapapa Vik, santai aja." Melirik jam tangannya waktu menunjukan pukul 17.30, menuju isya hanya tersisa kurang lebih satu jam setengah lagi. Menunduk lesu sepertinya Davika akan segera pergi, dia takkan sempat bertanya lebih jauh.


"Mmm, maaf lagi Arvi sepertinya aku harus segera pergi menuju toko langganan mama khawatir di jalan macet nanti ga keburu."


Benarkan dugaan Arvi. "Oh iya gapapa Vik, besok kamu kerja ga?" Arvi berharap besok Davika libur.


"Besok aku masih libur Ar, lusa baru kembali kerja lagi. Oh iya tadi mama titip salam dan katanya mampir ke rumah sudah lama tak bertemu."


Bersorak dalam hati, dia masih punya kesempatan bertanya lebih jauh besok. Dia akan menunda kepulangannya ke Jakarta demi menuntaskan hatinya beruntung besok tak ada jadwal meeting atau pekerjaan yang sifatnya urgent. Jika dia yakin Davika mencintai laki laki pilihannya dan ternyata laki laki itu jauh lebih baik dari nya dia akan merelakan Davika mencoba ikhlas tuk menyerah.


"Waalaikumsalam, salam kembali sama tante ya. Besok kamu bisa temenin aku ga nyari oleh oleh khas Bandung, udah lama juga nih kangen suasana Bandung pengen keliling"

__ADS_1


"Bisa bisa ..aku free... Mau janjian apa gimana nih?"


"Aku jemput kamu ke rumah aja gimana sekalian ketemu tante udah lama juga, gapapa kan?"


Tersenyum kikuk "Hah pake minta ijin segala, dateng ya dateng aja Ar kaya sama siapa aja."


"Aku takut calon mu marah Vik, kan aku sama dia belum saling kenal." mencelos hatinya mengatakan itu.


Meringis dan bergumam dalam hati "Jangankan kamu Ar, bahkan aku sendiri pun tidak tahu seperti apa orangnya, namanya pun aku tak tahu."


"Kamu jemput jam berapa besok?" tak mengindahkan kata kata Arvi sebelumnya karna dia pun bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan itu.


"Jam 10 gimana?"


"Ok deh, nanti kabarin lagi ya. Aku duluan ya Ar."


"Iya Vik, langsung keluar aja jangan ke kasir biar aku yang traktir." ucap Arvi saat melihat Davika berdir sembari mengeluarkan dompetnya dari dalam tas.


"Ok deh Pak Presdir, makasih traktirannya." seloroh Davika.


"Sama sama Vik, hati hati jangan ngebut."


"Iyaa... bye Ar, Assalamualaikum." melambaikan tangan dan berlalu pergi.


"Waalaikumsalam Vik." membalas lambaian tangan Davika dan tersenyum.


Kini tinggal Arvi sendiri, ia pun segera berdiri menuju kasir membayar tagihannya lalu pergi menuju hotel tempat Pandu dan supirnya berada. Dia harus memberi tahu sekretarisnya itu bahwa mereka akan menginap di Bandung dan baru akan kembali ke Jakarta besok sore.


Sesampainya di hotel dia menemui Pandu memberi beberapa pesan terkait pekerjaan yang harus diurus olehnya karena akan menunda kepulangannya dan minta di pesankan lagi kamar untuknya sendiri. Dia butuh waktu sendiri malam ini, dia tidak mungkin bisa menenangkan diri jika satu kamar dengan sekretarisnya serta supirnya.


Tak lama Pandu kembali dan memberikan card access untuk Arvi. Lalu segera pergi menuju kamarnya, Arvi butuh berendam air hangat untuk merileks an dirinya.


Kini waktu menunjukan tengah malam, dua insan berbeda gender masih terjaga disaat mungkin sebagian orang telah terlelap. Mereka sedang saling memikirkan satu sama lain, saling menerka nerka. Ya mereka ada Arvi dan Davika. Berada di tempat yang berbeda namun apa yang mereka pikirkan sama.


Arvi yang berpikir bahwa Davika mungkin akan menikah dengan laki laki yang dicintainya namun mengapa selama ini dia tak tahu, mengapa bisa dia sampai kecolongan seperti ini. Cinta nya akan layu sebelum berkembang. Jangankan berkembang, mengungkapkannya saja belum.


Lalu Davika yang berpikir apa keputusan dia memberi tahu Arvi bahwa dia akan segera menikah sudah benar. Niat hati ingin melepaskan perasaannya tadi saat bertemu namun sekarang hatinya malah galau sendiri, mengapa tadi ia tak mengungkapkan perasaannya walau mungkin Arvi tak mempunyai perasaan yang sama dengannya. Sekarang ia jadi merasa menyesal mengatakan akan segera menikah, padahal dia sendiri belum mengatakan kata setuju kepada kedua orangtuanya baru lusa dia akan memberi tahu sesuai waktu yang dia janjikan dua hari untuk menimang keputusannya.


***Nah kan ..... apa susahnya sih bilang kalau suka kalau cinta malah saling mendem ajaaa...


kira kira gimana ke depannya??

__ADS_1


siapa laki laki yang dijodohkan dengan davika??


lalu apa Arvi akan menyerah dan menerima perjodohan orangtuanya juga***???


__ADS_2