Cinta Yang Akhirnya Terungkap

Cinta Yang Akhirnya Terungkap
Kehilangan part II


__ADS_3

"Tidak ada kata merepotkan bagimu Vika." ucap Arvi ambigu seraya fokus menyetir.


POV Davika On...


Aku sampai di depan rumahku.


Masih terasa mimpi rasanya.


Kini aku melihat bendera warna kuning tersemat di pagar rumahku.


Rumahku sekarang ramai saudaraku tengah berkumpul.


Para tetangga, kerabat datang silih berganti.


Namun bukan ramai karena bahagia dan tawa.


Ramai karena tangis dan duka.


Beberapa jam yang lalu aku masih menginjakkan kaki di rumah ini.


Masih jelas terakhir kali saat aku, mama, papa dan Arvi mengobrol di ruang tamu.


Namun kini duniaku serasa tak berpijak.


Duniaku seperti hancur lebur.


Mama yang tadi kulihat masih segar bugar sekarang aku lihat terbujur kaku tertutup kain.


Dikelilingi orang orang yang berganti silih datang dan pergi untuk mengaji atau hanya sekedar berdoa didekat mama.


Mama kenapa pergi sekarang bukankah mama ingin melihatku menikah??


Padahal aku baru saja berniat akan menyampaikan jawabanku malam ini bahwa aku bersedia menerima jodoh yang mama pilihkan.


Maafkan Davika yang terlambat.

__ADS_1


Maafkan Davika yang belum bisa memenuhi keinginan terakhir mama.


Ya Allah...apakah ini jawaban dari perasaan gelisahku akhir akhir ini??


Namun aku tak pernah berpikir jika gelisahku adalah isyarat aku akan kehilangan mama.


Ya Rabb....aku sungguh tak berdaya dan tak berupaya saat ini.


Tolong berikan aku kekuatan menghadapi ujian ini Ya Rabb.


Aku tau Engkau takkan memberikan ujian diluar batas kemampuanku.


Tapi bolehkan aku memohon???


Ku mohon ampunilah segala dosa mama, kasihilah beliau sebagaimana beliau mengasihi aku selama ini dan tempatkan mama di tempat terindah.


Ku mohon juga berilah papa kekuatan serta kesembuhan, kasihanilah diriku, kumohon jangan ambil papa sekarang, beri aku kesempatan lagi untuk menjadi anak berbakti dan membahagiakannya.


Tapi sesungguhnya aku sadar bahwa setiap yang bernyawa akan kembali kepada-Mu.


POV Davika Off...


Semenjak tiba Davika hanya duduk dan mengaji disamping jasad mama nya ditemani Kania yang tiba disana tak lama setelah Davika datang. Arvi masih berada disana duduk ikut mengaji bersama Randy suami Kania serta bapak bapak yang ada disana, mungkin ada yang saudara Davika ada juga yang tetangga nya.


Menjelang dini hari, tetangga dan kerabat sudah tak ada yang berdatangan lagi. Sekarang di rumah hanya ada sanak saudara sebagian sudah tidur hanya tinggal beberapa orang lagi yang belum tertidur, serta Arvi tentu nya yang masih setia disana. Kania dan Randy sudah pulang sejam yang lalu.


Melihat situasi sudah sepi, Arvi mendekat ke tempat Davika yang sedang bersender di tembok dekat jasad mama nya berada.


"Vik, aku pamit sebentar ya ke hotel untuk mandi dan mengganti baju. Nanti aku kembali lagi."


"Makasih Ar, kamu istirahat saja tidur disana besok baru kembali. Kamu pasti lelah seharian ini menemaniku."


"Aku tak tega meninggalkanmu, aku akan kembali lagi, kamu mau aku bawakan makan apa?"


"Aku ga mau makan apa apa Ar."

__ADS_1


"Kamu belum makan dari tadi siang Vika. Kamu harus mengisi perutmu agar bertenaga."


"Terserah kamu Ar."


"Ya sudah aku pergi dulu sebentar ya."


"Iya, hati hati Ar."


Arvi pun pergi meninggalkan rumah Davika. Memacu mobilnya menuju hotel. Sampai disana ia segera membersihkan dirinya dan berganti baju serta membawa baju ganti untuk ke pemakaman esok hari. Setelah itu ia meninggalkan hotel lalu memacu kendaraannya kembali ke rumah Davika.


Sepanjang jalan ke rumah Davika ia menengok kanan kiri berharap masih ada pedagang kaki lima yang masih buka, karena tak mungkin ia mencari restoran atau kafe saat ini pukul tiga dini hari tempat tempat itu pasti sudah tutup. Beruntung ada tukang nasi goreng yang ia lihat, lalu ia pun meminggirkan mobilnya , keluar dan menghampiri penjualnya. Namun tunggu yang ia lihat penjual itu sedang membereskan kursi dan meja, tapi tak mengurungkan niatnya untuk menghampiri berharap dagangannya masih ada belum habis.


"Pak, maaf udah tutup ya?" intrupsi Arvi menghentikan si bapak penjual nasi goreng.


"Iya mas." jawab si bapak penjual.


"Apa sudah laku semua pak?"


"Masih ada sebenarnya untuk satu porsi lagi Mas."


"Maaf sekali pak, apa bisa tolong buatkan untuk saya." Si bapak yang melihat wajah Arvi tampak memelas dan lelah menjadi tak tega menolaknya.


"Baiklah mas, sebentar saya siapkan lagi meja dan kursi untuk mas duduk makan."


"Tak usah pak, dibungkus saja pak." cegah Arvi saat melihat si bapak akan memasang kembali meja dan kurai yang sudah dirapihkan.


"Tunggu sebentar saya buatkan dulu."


Arvi pun menunggu sebentar si bapak penjual, setelah selesai Arvi mengeluarkan satu lembar pecahan seratus ribuan.


"Ini pak uangnya, kembaliannya untuk bapak sana. Terima kasih sudah membantu saya." ucap Arvi tulus.


"Tapi mas..." ucap si bapak tapi di potonf oleh Arvi.


"Terima saja pak, itu rejeki bapak. Mari pak."ucap Arvi berlari menuju mobilnya.

__ADS_1


"MAKASIH MAS!!!" teriak si bapak.


__ADS_2