Cinta Yang Akhirnya Terungkap

Cinta Yang Akhirnya Terungkap
Terasa Indah


__ADS_3

Davika bangun pukul empat pagi lalu membersihkan dirinya, terdengar sayup sayup suara adzan shubuh lalu dia memakai mukena nya setelah itu menghampiri tempat tidur dimana ada Arvi yang masih terlelap.


"Mas... bangun udah shubuh." ucap Davika membangunkan tubuh Arvi yang tertutup selimut rapat hingga leher.


"Hmmmm...iya sayang." menggeliatkan tubuhnya di bawah selimut.


"Mau ke masjid apa mau jamaah di rumah?" tanya Davika.


Arvi langsung terperanjat mendengar tawaran terakhir Davika, langsung membuka matanya lebar lebar dilihatnya dengan jelas Davika berdiri di samping ranjang dengan memakai mukena.


"Di rumah aja, kamu shalat duluan aja ya.. aku mau mandi dulu." ucap Arvi tersenyum sangat lebar.


"Ya udah kalau gitu aku shalat duluan ya."


"Iya sayang."


Arvi pun semangat empat lima pergi ke kamar mandi dan melakukan ritual secepat kilat, sepuluh menit sudah selesai dan langsung menunaikan shalat shubuh. Davika terlihat sedang membereskan tempat tidur mereka, Arvi langsung berjalab pelan dan memeluk tubuh Davika dari belakang.


Grepp....melingkarkan tanga pada pinggang Davika.


"Maaaass...kamu nih ngagetin aja tau ga." ucap Davika.


"Udah shalat nya tadi??" tanya Arvi sambil mencium leher Davika.


"Udah mas, geli ih jail kamu tuh."


"Ini bukan jail sayang, ambil wudhu dulu yuk terus shalat dua rakaat habis itu kita menjemput rezeki yang paling menyenangkan." ucap Arvi lalu menggiring Davika ke kamar mandi.


"Menjemput rezeki apa mas??? tunggu aku belum selesai beresin tempat tidur nya." Davika masih belum paham maksud Arvi.

__ADS_1


"Ga usah di beresin nanti juga berantakan lagi tempat tidurnya." ucap Arvi yang langsung membuat Davika paham dan merona merah pipinya.


Mereka berdua pun melakukan shalat dua rakaat setelah itu langsung menuju tempat tidur, sebelum mencumbu Arvi membaca doa terlebih dahulu dia takut terbawa nafsu dan lupa nanti.


Mulai mencium kening, kedua mata, kedua pipi nya, dagu, dan terakhir bibir merah muda istrinya. Davika terbuai oleh semua sentuhan lembut nan penuh cinta, penyatuan pun tak terelakkan lagi, Arvi melakukannya dengan pelan, semua yang ada pada tubuh Davika tak luput dari sentuhan tangan Arvi, embun pagi dan fajar yang belum menyingsing tak memberikan efek dingin bagi kedua insan yang sedang memadu kasih untuk pertama kali nya itu.


Hawa panas dan nafsu yang menggelora membuat kamar itu terasa panas bahkan pendingin ruangan pun sudah di nyalakan sepagi ini, pagi itu menjadi pagi bersejarah bagi kedua insan yang berawal bersahabat memendam rasa sekian lama nya lalu menikah tiba tiba dan kini berakhir dengan indah semoga selalu selama nya seperti ini itu lah harapan kedua nya.


Kedua nya terlelap setelah dua jam melakukan pertempuran pertama, ketukan pintu kamar oleh bi Inah pun tak membuat kedua nya terusik. Mereka sangat lelah setelah pencapaian yang pertama kalinya. Papa Davika yang mendapat laporan dari bi Inah bahwa sudah mengetuk pintu untuk memberitahukan sarapan namun tak mendapat jawaban apapun hanya bisa tersenyum dalam hati nya dan membiarkan mereka terlelap toh kalau mereka lapar pasti akan bangun mencari makanan.


Davika mengerjapkan matanya karena sinar matahari yang sudah meninggi mengintip dari balik tirai, melihat jam yang terpasang di dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Membalikkan badannya pelan pelan karena tangan Arvi yang membelit pinggangnya dari belakang, kini dia bisa melihat Arvi masih terlelap tidur. Davika menelusuri garis wajah Arvi dengan tangannya dari mulai jidat ke hidung lalu meraba bibir Arvi.


"Sayang kamu membangunkannya." ucap Arvi dengan suara berat nan serak serta mata terpejam.


"Hah, maaf aku bangunin kamu mas." ucap Davika kaget lalu menjauhkan tangannya dari bibir Arvi namun Arvi menahannya di cium nya lembut tangan itu lalu di kecup bibir istrinya.


"Lagi yaa... sebut namaku lagi... " ucap Arvi.


"Sayang... udah ya badan aku remuk ini bisa pingsan, aku laperrr terus aku juga kan nanti jam dua mesti kerja." rengek Davika dengan panggilan sayang berharap Arvi menyudahi penyatuan setelah pelepasan yang ke empat kalinya, waktu kini sudah menunjukan pukul dua belas tiga puluh menit.


"Iya..iya.. ayo aku gendong ke kamar mandi kita mandi dulu." ucap Arvi bangun dengan tubuh polosnya lalu menggendong Davika yang sama polosnya menuju kamar mandi.


"Pake baju dulu sih, malu aku." ucap Davika memukul pelan dada Arvi lalu menyembunyikan wajahnya.


Di dalam kamar mandi Arvi mendudukan Davika di pinggir bathub lalu mengisi airnya dengan air hangat agar tubuh Davika merasa lebih baik.


"Udah nih airnya, berendam dulu sebentar biar enak." ucap Arvi dan membantu istrinya masuk ke dalam bathub.


"Mas jangan ikutan disini, nanti kamu khilaf lagi." ucap Davika waspada.

__ADS_1


"Iya nggaaa... aku bilas disana." ucap Arvi menunjukan shower.


Mereka pun mandi dan menunaikan kewajiban pada sang pencipta setelah itu langsung ke bawah beruntung bi Inah sudah menyediakan makan siang dan di meja makan sudah ada papa Davika sedang menyantap makan siang.


"Pa.." sapa Davika dan Arvi lalu duduk di meja makan.


"Iya, ayo makan dulu pasti pada lapar kan." ucap papa Davika sambil tersenyum.


"Iya pa." kompak kedua nya menjawab malu.


Mereka pun makan, setelah makan mereka berdua pamit Davika harus bekerja walau sebenarnya tubuhnya masih terasa sedikit lelah dan remuk namun dia harus melaksanakan kewajibannya sebagai dokter. Arvi tentunya akan mengantar istrinya lalu pergi ke rumah keluarganya.


"Makasih sayang sudah memberikannya untuk aku, maaf membuat kamu lelah padahal sekarang harus kerja." ucap Arvi saat mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit tempat Davika bekerja.


"Sama sama mas, aku seneng bisa ngasih sesuatu yang aku jaga sama kamu. Meski kini tubuhku rasanya remuk redam." ucap Davika.


"Maaf aku ga bisa nahannya kalau deket kamu, abis ternyata kamu nagih sih, sayang kalau di anggurin." goda Arvi.


"Issh kamu, udah ah aku kerja dulu mas. Hati hati di jalannya." ucap Davika pamit mencium tangan Arvi yang di balas kecupan di kening serta di bibirnya.


Davika pun melangkah menuju rumah sakit dengar bersenandung riang namun berjalan pelan.


*****


Aman yaaaaa udah buka puasanya๐Ÿ˜


*Happy fasting everyone.


Dont forget like, favorite, comment, and vote.

__ADS_1


Please jangan jadi silent readers tinggalin jejak kalian disini sebagai dukungan buat akuuuu ๐Ÿ™๐Ÿ™..


gomawooo๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰*


__ADS_2