
Tania kembali jatuh sakit membuat semua orang menjadi panik begitu pun dengan Airon.
"Mama kenapa?" Tanya Airon yang ketika itu tuba di rumah sakit
"Mama tiba-tiba pingsan lagi." Kata Airish menjawab pertanyaan Airon.
"Dokter lagi periksa mama." Kata Airish.
Dan, tak lama kemudian dokter oun keluar dari ruang rawat Tania.
"Bagaimana keadaan mama dok?" Tanya Airon yang begitu khawatir pada Tania. Begitu juga Airish.
"Nyonya Tania mengidap kanker." Kata dokter membuat Airon dan Airish terbelalak kaget mendengar apa yang di sampaikan oleh dokter bahwa ibu mereka mengidap penyakit yang mematikan.
"Kanker dok?" Bagai di sambar petir di siang bolong, Airish kembali bertanya seakan tak percaya.
"Iya nona Airish. Nyonya Tania mengidap kanker." Kembali dokter mengulang hal yang begitu menyakitkan untuk di dengar oleh mereka.
Airon tak lagi mampu berkata apa-apa. Kenyataan itu menghantam dirinya.
"Sepertinya nyonya Tania sudah lama mengidap penyakit itu." Ucap dokter.
"Sudah lama mengidap penyakit itu?! Lalu apa saya kerjamu sebagai dokter pribadi keluarga?! Bukankah kau di bayar untuk mencari dan mencegah penyakit pada keluargaku!" Airon berdiri dan mencengram leher dokter itu dengan marah.
"Ma-maaf tuan Airon." Ucap dokter terbata-bata ketakutan melihat kemarahan Airon pada dirinya. Bisa orang sekejam Airon membunuhnya tanpa takut karena Airon memiliki kekuasan yang besar.
"Penyakit mamaku tidak akan sembuh dengan permintaan maafmu!!" Ujar Airon.
"Ron lepaskan dia!" Pinta Airish.
"Airon!" Seruh Airish meminta Airon untuk melepaskan dokter itu karena Airish tak ingin membuat keadaan semakin rumit.
"Sebaiknya kita masuk di liat mama di dalam." Airish menarik Airon.
"Sebaiknya kau dan semua dokter yanga di sini mencari cara untuk menyembuhkan mama! Jika tidak kalian semua akan ku masukkan keliang-lahad hidup-hidup." Ujar Airon sebelum meninggalkan dokter itu.
Dokter itu hanya mampu menelan ludah takut mendengar ancaman Airon, yang mungkin saja akan dia buat jadi nyata jika terjadi sesuatu yang buruk pada ibunya.
"Ma.." Airish mendekat ke arah Tania yang terbaring lemah dengan selang di hidungnya.
Airon pun mendekat dan mengenggam tangan Tania. Hal yang tak pernah dia bayangkan selama ini terjadi pada ibunya.
__ADS_1
Airon merasa menjadi anak yang tak berguna karena tak pernah ada di sisi ibunya. Airon merasa sangat bersalah pada apa yang terjadi pada Tania.
"Ai-ron. Mama-"
"Jangan bicara dulu ma." Ucap Airon melarang Tania untuk berbicara dulu, karena Tania masih sangat lemah.
"Ti-dak bi-sa Ron. Mama ha-rus bi-ca-rakan ini se-ka-rang." Ujar Tania terputus-putus.
"Ma-ma mau ka-mu me-nikah." Tambahnya.
Permintaan itu terdengar bagai permintaan terkhir Tania di telinga Airon. Dan, Airon tidak mungkin akan menolaknya.
"Airon akan menurut jika memang itu bisa membuat mama bahagia." Airon terima dengan permintaan ibunya meminta agar dirinya menikah. Walaupun sebenarnya dia telah menikah dengan Dania. Tapi, untuk saat-saat yang seperti itu. Airon tidak mungkin bisa mengatakan pada Tania tentang kebenarannya.
Sementara di rumah, Dania sedang mondar mandir khawatir pada keadaan Tania, ibu mertuanya itu.
Dania berharap tak ada hal buruk yang terjadi dan semoga Dania cepat sembuh.
"Lagi apa kamu mondar-mandir begitu?" Tanya Darti yang pusing melihat Dania tak pernah diam semenjak Tania di bawa ke rumah sakit.
"Saya khawatir pada nyonya mbak." Ucap Dania pada Darti.
"Aku juga khawatir tapi tidak seperti kamu gitu mandar mandir terus dari tadi. Udah seperti menantu saja kamu." Ujar Darti pada Dania.
"Mending kamu duduk. Aku pusing liat kamu seperti itu. Paling sebentar lagi nyonya pulang sama nona Airish." Entah kenapa Darti lebih baik hari itu. Itu terdengar dari nada bicaranya yang sedikit lembut dari biasanya.
Tak lama kemudian teru mobil terdengar. Dengan cepat Dania berlari untuk melihat siapa yang datang.
"Tuan Airon bagaimana keadaan nyonya?" Tanya Dania tak sabar ketika Airon baru turun dari mobilnya dengan wajah kusut.
Dania tahu jika Airon dari rumah sakit, karena Dania lah yang menelpon, mengabari Airon jika Tania di bawa ke rumah sakit karena pingsan.
"Mama sudah siuman." Sahut Airon.
"Syukurlah jika seperti itu tuan." Kata Dania merasa legah mendengar jika Tania telah sadarkan diri.
"Dania, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu." Ucap Airon.
"Apa itu tuan?" Tanya Tania.
"Nanti saja, saya ingin mandi dulu." Kata Airon lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan lesu.
__ADS_1
"Baik tuan." Jawab Dania mengikuti Airon dari belakang.
Dalam hati Dania bertanya-tanya apa yang ingin Airon katakan padanya. Karena, dari raut wajah Airon tampaknya itu adalah sesuatu yang sangat serius.
Perasaan Dania mulai menjadi tak karuan. Seperti sesuatu yang tak dia inginkan akan terjadi.
Setelah mandi, Airon masuk ke ruang kerjanya, dengan pikiran yang kacau ia duduk termenung memikirkan sesuatu.
Entah apakah dia harus menyanpaikan halnitu pada Dania. Dan, bagaimana reaksi Dania jika mendengar yang akan dia sampaikan itu.
Namun Airon sadar, dia tidak punya pilihan lain selain memberitahu Dania. Dan, Airon juga tidak bisa menghindari hal itu.
Airon mengusap kasar wajahnya. Keputusan telah dia ambil. Meskipun keputusan itu berat baginya dan akan melukai hati Dania, tapi sebagai seorang laki-laki dia tidak boleh menjadi plin-plan atas sesuatu yang akan dia ambil.
Airon berdiri melangkah keluar mencari Dania. Keputusan telah dia ambil. Dan, dalam hati dia berharap Dania bisa mengerti situasinya.
"Darti, mana Dania?" Tanya Airon ketika melihat Darti lewat saat dia akan turun.
"Di dapur tuan, sedang menyiapkan makan malam." Sahut Darti memberitahukan keberadaan Dania.
"Tolong kamu panggilkan Dania. Katakan saya ingin bicara dengannya di ruangan saya." Kata Airon.
"Baik tuan." Sahut Darti segera menemui Dania yang tengah sibuk di memasak di dapur.
"Dania tuan Airon memanggil kamu. Dia menyuruh kamu ke ruang kerjanya. Katanya ada yang ingin dia bicarakan." Beritahu Darti dengan detil seperti yang Airon katakan padanya.
"Baik mbak. Tapi ini saya tidak apa-apa mbak?" Tanya Dania.
"Tinggal saja, biar saya yang selesaikan." Ujar Darti. Hari ini Darti benar-benar baik.
Dania pun melangkah ke ruang kerja Airon untuk menemui suaminya itu.
"Tuan.." Dania masuk ke dalam.
"Duduklah." Ucap Airon. Wajahnya seperti seorang yang begitu terluka. Padahal jika dia menyampaikan apa yang akan dia katakan itu, justru Dania lah yang akan terluka.
"Apa yang ingin tuan bicarakan pada saya?" Tanya Dania segera ingin tahu apa sebenarnya yang ingin Airon katakan padanya.
"Mama sedang sakit parah. Dokter mengatakan jika mama terkena kanker." Perlahan-lahan Airon mulai menjelaskan.
Mendengar ucapan Airon yang mengatakan Tania terkena kanker membuat Dania tak bisa menyembunyikan kekagetannya.
__ADS_1
"Dan." Ucapan Airon terhenti.
"Mama meminta saya untuk menikah. Menikah dengan wanita yang dia pilihkan untuk saya.." Sambung Airon.