
Di meja kerjanya Diandra terlihat begitu senang, bagai orang yang habis menang lotre. Bagaimana tidak, baru saja Airon memanggilnya.
Airon mengatakan dua hari lagi mereka akan berangkat ke Sydney untuk urusan bisnis.
Hal itu membuat Diandra senang bukan main, itu adalah kesempatan emas untuk dia menjalankan rencananya, semoga saja dia bisa berhasil.
Kali ini dia harus bisa membuat Airon jatuh ke pelukannya.
Diandra tidak bisa menunggu lama lagi, dia tidak ingin membiarkan Syahnni terus merasa menang di dalam hidupnya.
Dia ingin segera membuat hidup Syahnni seperti di neraka, Syahnni harus membayar kejahatan yang sudah dia lakukan.
"Pak, saya sudah siapkan semua yang bapak minta." Kata Diandra.
"Dokumen? File-file yang di butuhkan? Apakah semuanya sudah kamu bereskan?" Tanya Airon.
"Sudah Pak." Sahut Diandra.
"Bagus, jangan sampai kamu melakukan kesalahan. Mengerti?" Airon menatap Diandra.
"Mengerti Pak." Jawab Diandra.
"Ada lagi Pak?" Tanya Diandra.
"Pastikan juga kamu sudah memboking tiket pesawat dan juga hotel untuk kita menginap selama di sana." Kata Airon.
"Maaf Pak, berapa kamar yang harus saya pesan?" Tanya Diandra, karena dia tak di beritahu oleh Airon, siapa-siapa saya yang akan pergi.
"Boking empat kamar." Kata suruh Airon.
"Kalo tiket pesawat Pak?" Tanya Diandra lagi.
"Pesan empat tiket pesawat, dan pastikan adalah bisnis class." Kata Airon.
"Nama-namanya, nanti Ergan yang akan mengirimkannya ke kamu." Kata Airon lagi.
"Baik Pak." Sahut Diandra.
"Ada lagi Pak?" Tanya Diandra.
"Kamu bisa keluar sekarang."
"Baik Pak."
"Saya pamit Pak."
"Hm.."
Diandra pun keluar kembali ke meja kerjanya.
"Diandra." Panggil Ergan.
"Iya Pak Ergan." Sahut Diandra.
"Saya sudah mengirim nama untuk tiket pesawat ke email kamu, kamu bisa cek." Kata Ergan.
Diandra pun mengecek emailnya, dan email dari Ergan yamg berisi nama lengkap Airon, Ergan dan juga, yang satunya adalah Airish.
Diandra menghela nafas lega, karena ternyata bukan Syahnni yang ikut.
__ADS_1
"Kamu kenapa Diandra?" Tanya Ergan melihat Diandra menghela nafas.
"Tidak apa-apa Pak, saya hanya merasa sesak, jadi tarik nafas panjang." Ucap Diandra berbohong.
"Kamu sudah menyiapkan semua yang di suruh oleh Pak Airon?" Tanya Ergan.
"Sudah Pak." Sahut Diandra.
"Pastikan, kamu tidak melupakan sesuatu yang di suruhnya, jika tidak, kita akan kiamat." Ujar Ergan. Yang tau betul sifat Airon jika apa yang di kerjakan berantakan hanya karena kesalahan satu orang yang tidak profesional dalam pekerjaannya.
"Diandra, pastikan juga kamu dalam keadaan yang fit, tanpa terkena sakit apapun. Jaga kesehatan kamu sampai nanti kita berangkat dan pulang. Saya tidak mau pekerjaan saya bertambah karena mengantikan kamu." Kata Ergan.
"Baik Pak Ergan, bapak jangan khawatir, saya akan menjaga kesehatan saya dengan baik." Sahut Diandra.
Ya, dia harus menjaga kesehatannya dengan baik, demi kemulusan rencananya.
****
Dua hari kemudian, hari keberangkatan ke Sydney.
Sebelum jam 5 pagi, Diandra sudah berangkat dengan taksi, dia tak ingin terlambat.
Setengah jam kemudian, Airon, Ergan dan Airish sampai di bandara.
"Pagi Pak Airon, Pak Ergan dan-"
"Airish, aku Airish." Kata Airish memperkenalkan dirinya pada Diandra.
"Selamat pagi bu Airish." Ucap Diandra.
Ini pertama kalinya Diandra melihat Airish, karena selama Diandra bekerja di kantor Airon, Airish tak pernah datang ke kantor.
"Iya bu." Sahut Diandra.
Dalam hati Diandra bertanya-tanya siapa Airish, apakah dia salah satu petinggi di perusahaan Airon?
"Aku kembarannya Airon." Beritahu Airish seakan tahu isi hati Diandra.
Barulah, Diandra tahu, jika ternyata Airon memiliki saudara kembar.
Pantas saja, Diandra melihat ada sedikit kemiripan antara Airish dan Airon.
"Diandra, kamu bawa semua dokumen yang di butuhkan?" Tanya Ergan mewakili Airon yang hanya duduk bertumpuk kaki dengan diam.
"Saya bawa semua Pak." Sahut Diandra.
"Kamu yakin kan tidak ada yang terlupakan, atau pun tertinggal. Coba kamu ingat-ingat lagi, karena jika pesawat sudah lepas landas, kita tidak mungkin kembali. Dan, yang pasti ada yang akan marah besar." Kata Ergan meminta agar Diandra mengingat-ingat lagi semuanya.
Diandra diam, mencoba mengingat semuanya.
"Semua sudah Pak." Sahut Diandra yang yakin.
"Ayo kita cek in." Kata Ergan.
Lalu semua memberikan tiket mereka pada Ergan untuk melakukan cek in.
Lalu semuanya naik ke lantai atas untuk menunggu keberangkatan pesawat mereka.
"Diandra, kamu mengingatkan aku pada seseorang." Ujar Airish ketika mereka berdua duduk bersebelahan menunggu keberangkatan pesawat.
__ADS_1
"Siapa bu?" Tanya Diandra.
"Kamu mengingatkan saya sama kakak ipar saya yang sudah meninggal. Dania namanya." Ujar Airish.
Dan, bisa di lihat, raut wajah Diandra seketika berubah sendu.
"Aku memang tidak banyak bicara dengannya. Tapi, saat melihat kamu, kamu terlihat sedikit mirip dengannya." Kata Airish.
"Apa ibu sama Pak Airon masih punya saudara lagi?" Tanya Diandra.
"Tidak, memangnya kenapa?" Tanya Airish.
"Itu karena ibu Airish bilang, dia adalah ipar ibu, dan dia sudah meninggal, setahu saya, istri Pak Airon masih hidup, dia juga sering berkunjung ke kantor." Kata Diandra.
"Dia istri pertama Airon, Syahnni adalah istri kedua." Ucap Airish.
Diandra diam, dalam hati, dia merasakan kepedihan yang teramat.
"Sayang kamu sudah sarapan?" Tanya Ergan pada Airish.
"Diandra kamu bagaimana? Sudah sarapan?" Ergan beralih bertanya pada Diandra.
"Sudah Pak." Jawab Diandra.
Diandra berdiri.
"Bapak Ergan sama bu Airish mau kopi? Saya ingin membeli kopi." Tanya Diandra.
"Terima kasih Diandra, tapi saya lagi tidak ingin minum kopi.." kata Airish.
"Pak Ergan?" Tanya Diandra.
"Tidak, terima kasih, coba kamu tanya pada Pak Airon siapa tau dia mau." Kata Ergan.
"Baik Pak." Diandra menghampiri Airon yang duduk dengan diam.
"Pak Airon, apa bapak mau kopi?" Tanya Diandra.
"Boleh, untuk saya espresso." Airon tak menolak.
Sementara di ujung sana, Airon duduk sendirian.
"Ini Pak kopinya." Diandra memberikan kopi yang di beli pad Airon.
"Terima kasih." Ucap Airon mengambil kopi itu.
Tak lama kemudian Pihak bandara sudah mengumumkan jika pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera terbang.
Di pesawat, Ergan duduk di sebelah Ergan, sementara Diandra duduk bersebelahan dengan Airon.
Pesawat telah mendarat, Diandra dan yang lainnya keluar bandara, di sana mobil jemputan sudah menunggu.
Ada dua mobil di sana. Karena Airon akan satu mobil bersama dengan Diandra, sementara Ergan akan satu mobil dengan Airish.
Karena, Airish dan Ergan akan ke suatu tempat terlebih dahulu.
"Apa kamu sadar, ada kemiripan antara Diandra dengan Dania." Kata Airish pada Ergan.
"Oya? Aku tidak terlalu memperhatikannya." Kata Ergan.
__ADS_1
"Entahlah, tapi, tadi saat berbicara dengan Diandra, aku seperti sedang berbicara dengan Dania." Kata Airish.