Cinta Yang Tak Terduga

Cinta Yang Tak Terduga
Buatan siapa kopi itu?


__ADS_3

Hari ketiga bekerja, tak seperti hari pertama dan kedua. Pagi itu Diandra meskipun baju Diandra terlihat sopan, tapi, tidak dengan bawahan yang di pakainya.


Diandra mengenakan rok di atas lutut dengan belahan yang tinggi, jika salah duduk bisa-bisa ****** ******** kelihatan.


"Diandra masuk ke ruangan saya." Panggil Airon


"Baik Pak." Sahut Diandra lalu meletakkan kembali telpon kantor di samping mejanya.


"Ada yang bisa saya bantu Pak Airon?" Tanya Diandra ketika sudah berada di dalam ruangan Airon.


"Apa saja kegiatan saya hari ini?" Tanya Airon.


"Bapak punya janji dengan Pak Damar hari ini pukul 10 nanti." Kata Diandra menyebutkan semua jadwal-jadwal Airon.


"Ada lagi Pak?" Tanya Diandra.


"Kamu persiapkan berkas-berkas yang akan kita bawa nanti." Kata Airon.


"Baik Pak." Sahut Diandra.


Diandra segera melangkah keluar, namun, Airon kembali memanggilnya.


"Iya Pak?" Diandra memutar menghadap Airon.


"Tolong kamu suruh orang dapur bawakan saya kopi." Kata Airon.


"Baik Pak." Sahut Diandra lalu keluar.


Tak lama kemudian, pihak dapur mengantarkan kopi ke ruangan Airon.


Airon meminum kopi itu, namun rasanya tak sama seperti sebelumnya, saat Diandra yang mengantar kopi itu keruangan Airon.


Telpon di meja Diandra berbunyi.


"Iya Pak?" Sambut Diandra.


"Suruh buatkan saya kopi yang baru." Kata Airon meminta agar staf dapur mengantarkan kopi yang baru untuknya.


"Baik Pak." Sahut Diandra.


Pihak dapur kembali mengantar kopi kedua ke ruangan Airon.


Airon menyesap kopi itu lagi, tapi. Rasanya, masih tak sama.


Lagi-lagi Airon meminta di buatkan kopi yang baru.


Cangkir ketiga diantar ke ruangan Airon, membuat staf dapur kebingungan dengan permintaan Airon yang terus menerus minta di buatkan kopi.


Airon kembali menyesap kopi yang baru saja diantar ke ruangannya. Dan, lagi-lagi rasanya tak sama, Airon menjadi berang, meminta Diandra menyuruh semua staf dapur menghadapnya.


Karyawan staf masuk dengan was-was, kesalahan apa yang mereka lakukan sehingga mereka di panggil menghadap keruangan Airon.


"Di antara kalian bertiga, siapa dua hari lalu yang membuat kopi untuk saya?" Tanya Airon.


Ketiga staf dapur saling melempar pandang satu sama lain. Mereka bertiga merasa tak pernah membuatkan kopi untuk atasan itu mereka dua hari yang lalu.


"Maaf Pak, dua hari lalu bapak tidak pernah meminta di buatkan kopi." Sahut salah satu dari ketiganya.


"Jelas saya meminta di buatkan kopi. Masa kalian lupa." Kata Airon.

__ADS_1


"Maaf Pak, kita mungkin memang lupa." Sahut satunya lagi.


"Ya sudah, kembali ke pekerjaan kalian."


Airon terlihat kesal, namun tak ingin memperpanjang, dia malas menambah list karyawan yang di pecat nya bulan itu.


"Kau benar tidak pernah mengantar kopi keruangan Pak Airon." Tanya salah satu staf dapur.


"Tidak, bukan aku." Sahut yang satu.


"Kau?"


"Aku tidak."


"Kalau bukan kalian berdua, siapa, karena aku juga tidak." Kata yang satunya.


Ketiganya kebingungan memikirkan siapa yang membuatkan kopi untuk atasan mereka itu.


Diandra mendengar semua percakapan ketiga staf dapur itu.


Namun dia hanya diam, tak mengaku jika dia yang membuat kopi itu saat staf dapur tak ada.


****


Selesai meeting di sebuah hotel, Diandra dan Airon bersiap akan kembali ke kantor.


Namun, salah satu karyawan hotel tak sengaja menumpahkan minuman kepada Diandra ehingga baju putih yang di pakai Diandra menerawang akibat basah.


Bra merah Diandra terlihat jelas. Airon melihat itu, lalu memberikan jasnya pada Diandra.


"Pakai ini, kamu tidak mau kan jadi tontonan orang." Kata Airon menyerahkan jasnya.


"Terima kasih Pak." Ucap Diandra.


Di ruangan Airon, Diandra menyerahkan jas Airon, karena bajunya juga sudah kering.


"Terima kasih sekali lagi Pak." Ucap Diandra.


"Ya, sama-sama." Balas Airon.


"Sayang..." Syahnni yang langsung masuk melihat Airon dan Diandra.


"Kamu boleh keluar." Kata Airon pada Diandra.


"Baik Pak." Diandra pun kembali mejanya.


"Aku tidak suka pada sekretaris mu itu Ron." Kata Syahnni.


"Sepertinya dia punya maksud lain." Sambung Syahnni.


"Kenapa kamu datang?" Tanya Airon.


"Untuk melihatmu sayang. Di rumah kita tidak punya banyak waktu, jadi aku menemui di sini." Kata Syahnni.


"Kau sudah melihatku, sekarang pergilah." Kata Airon.


"Baiklah, aku kan pergi. Hari ini aku akan pulang lebih awal, kita bisa menghabiskan malam bersama." Ucap Syahnni memberitahu Airon, jika malam nanti mereka bisa melakukan sesuatu yang berkeringat.


Meskipun Airon tak menyukai Syahnni, tapi Airon tetap memberikan nafkah batin pada Syahnni. Meskipun terkadang sebulan sekali.

__ADS_1


"Kamu kenapa memakai rok sependek itu?" Tanya Syahnni.


"Saya tidak mau ya, liat kamu pakai rok atau apapun yang sependek yang kamu pakai sekarang." Sambung Syahnni.


"Baik bu, saya minta maaf." Ucap Diandra menunduk.


Syahnni melangkah pergi, namun tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Dan satu lagi, kamu jangan pernah berpikir untuk menggoda suami saya! Kalo sampai kamu melakukan itu, kamu akan tau akibatnya. Mengerti!"


"Baik bu, saya tidak akan melakukan itu." Ucap Diandra.


Namun dalam hati, Diandra tak menjanjikan itu, karena mulai sekarang itu hal yang ingin dia lakukan.


Dia akan membuat Airon menyukainya, lalu mencintainya, dan akhirnya menikahi dirinya. Setelah itu dia akan membuat Syahnni menderita sampai akhirnya Syahnni menjadi gila.


Itu adalah balasan setimpal atas apa yang sudah Syahnni lakukan padanya.


"Tadi aku ketemu Syahnni lagi." Kata Diandra memberitahu Hanson pada saat dia dan Hanson sedang makan malam.


"Apa dia mengatakan sesuatu?" Tanya Hanson.


"Dia memintaku untuk tak mencoba menggoda suaminya."


"Lalu apa yang kau katakan?" Tanya Hanson.


"Aku menjawab, bahwa aku tidak akan menggoda suaminya." Kata Diandra.


"Kau harus lebih berhati-hati. Syahnni orang yang nekat."kata Hanson.


"Kakak tidak perlu khawatir, jika dia orang yang nekat, maka aku orang yang gila." Ucap Diandra.


Sementara di rumah Airon semua juga sedang menikmati makan malam bersama.


"Papa Deon bisa minta sesuatu?" Tanya Deon.


"Deon mau beli sepatu baru. Boleh?" Tanya Deon.


"Bisa sayang, nanti Papa belikan yang baru." Jawab Airon


"Lho, kenapa tidak minta sama nenek?" Kata Tania.


"Iya, aunty juga bisa beliin kamu kok. Kenapa tidak bilang sama aunty mau sepatu baru." Kata Arish.


"Deon maunya Papa yang belikan, Deon mau ke toko sepatu sama Papa."


"Oh, aunty tau, pasti biar kamu bisa jalan sama Papa kan?" Kata Arish dan di jawab senyum manis dari Deon.


"Deon kenapa mama tidak di ajak?" Tanya Syahnni.


"Mama boleh ikut kok." Kata Deon.


"Mamamu itu mana bisa ikut, dia pasti sibuk di butiknya." Ujar Tania..


"Syahnni kan bisa mengosongkan jadwal Syahnni Ma." Sabut Syahnni.


"Oh, kamu bisa juga ternyata kosongin jadwal kamu. Kirain, tidak bisa. Kan selama ini kamu jarang punya waktu luang." Kata Tania.


Aduh mulut pun terjadi antara Syahnni dan Tania. Sebenarnya itu sudah biasa terjadi, selama lima tahun, jika sedang berkumpul, tak perduli itu makan malam atau apa pun, keduanya selalu saja aduh mulut.

__ADS_1


__ADS_2