Cinta Yang Tak Terduga

Cinta Yang Tak Terduga
Rencana Diandra


__ADS_3

Hari ini, Diandra berencana akan menjalankan aksinya, dia akan mulai menggoda Airon.


Diandra masuk ke ruangan Airon tanpa di panggil.


"Pak, bapak ingin kopi?" Tanya Diandra.


"Tidak Diandra, terima kasih." Kata Airon menolak.


"Bapak perlu yang lain?" Tanya Diandra lagi, dia harus mencari cela untuk menjalankan rencananya.


"Tidak Diandra, kamu bisa kembali ke tempat kamu." Kata Airon yang sibuk berkutat dengan laptopnya.


Diandra kembali ke meja kerjanya, Diandra duduk sambil memikirkan cara untuk menggoda Airon, Dia harus membuat Airon jatuh cinta padanya.


"Diandra?" Panggil Ergan tapi Diandra tak mendengarnya.


"Diandra.." Panggil Ergan lagi, kini lebih keras.


"Iya Pak." Sahut Diandra langsung berdiri kaget.


"Kamu melamun?" Tanya Ergan.


"Tidak Pak." Jawab Diandra cepat.


"Bapak mau ketemu Pak Airon?" Tanya Diandra.


"Ya, saya tidak akan ke sini kalo bukan untuk ketemu dia." Sahut Ergan.


"Silakan Pak, Pak Airon ada di dalam." Kata Diandra.


"Saya tau." Kata Airon lalu masuk keruangan Airon.


"Selamat pagi menjelang siang Pak Airon." Sapa Ergan dengan candaan garingnya.


"Duduk." Kata Airon.


"Nanti mau makan bersama?" Tanya Ergan.


"Akan ku pikirkan." Sahut Airon masih mengetik di laptopnya.


"Ku dengar kemarin kau memanggil staf dapur, ada apa?" Tanya Ergan berbicara dengan non formal pada Airon.


Di layangkan pertanyaan itu, Airon menghentikan pekerjaannya lalu menatap Ergan.


"Aku menanyakan siapa diantara mereka yang membuatkan kopi untukku dua hari lalu." Ucap Aron memberitahu Ergan.


"Kopi? Kenapa?" Ergan mengeryitkan alisnya tak mengerti apa yang Airon katakan.


"Dua hari lalu aku meminta Diandra kepada staf dapur untuk membuatkan ku kopi." Airon mulai menjelaskan.


"Lalu." Tanya Ergan ingin mengetahui kelanjutannya.


"Kopi yang itu, rasanya persis seperti kopi buatan Dania." Lanjut Airon.


"Apa kau yakin?" Tanya Ergan.


"Aku sangat yakin." Jawab Airon.


Ergan tak bertanya lagi, dia yakin, Airon tidak akan salah. Dia pasti masih ingat sesuatu yang di buatkan Dania untuknya. Bahkan, Ergan saja masih ingat rasa masakan Dania.

__ADS_1


"Lalu apa kata staf dapur?" Tanya Ergan.


"Tidak ada yang mengaku, semua staf dapur tidak pernah merasa membuatkan kopi untukku." Kata Airon.


Ergan juga merasa pelik dengan, tidak mungkin kan, hantu Dania yang datang dan membuat kopi untuk Airon.


Setelah menjawab telpon masuk, Diandra mengetuk pintu ruangan Airon.


"Masuk." Kata Airon mempersilakan Diandra masuk.


"Maaf menganggu pak." Ucap Diandra.


"Ada apa." Tanya Airon.


"Pak Hartono mengubah jadwal pertemuan nanti Pak." Kata Diandra.


"Jam berapa?" Tanya Airon.


"Sebelum makan siang Pak." Sahut Diandra.


"Baik, kamu siapkan semua yang di perlukan, tunggu saya di luar, sebentar lagi saya dan Pak Ergan menyusul." Kata Airon.


"Baik Pak." Sahut Diandra.


Diandra, Airon dan Ergan masuk ke dalam mobil yang sama.


Ergan yang menyetir, Airon di sebelah, dan Diandra duduk di belakang. Tak lama kemudian mereka sampai di tempat tujuan.


Setelah hampir dua jam membahas bisnis, Pak Hartono pun pamit.


"Kita makan dulu baru kembali ke kantor." Kata Airon.


Tapi baru saja Ergan akan memesan, telponnya berdering, dan itu dari Airish.


"Aku harus pergi." Kata Ergan berdiri setelah panggilan di tutup.


"Pak Ergan tidak makan dulu?" Tanya Diandra.


"Aku akan makan dengan seseorang, jika aku terlambat dia akan membunuhku." Sahut Ergan lalu pergi.


"Memangnya siapa yang akan membunuh Pak Ergan kalau dia terlambat Pak?" Tanya Diandra.


"Nenek lampir." Sahut Airon membuat ekspresi Diandra terlihat begitu lucu karena tak mengerti.


"Sebaiknya pesan yang ingin kamu makan." Kata Airon.


Setelah makan siang, Airon dan Diandra akan kembali ke kantor.


Tanpa sadar, Diandra tertidur.


"Diandra bangun." Airon membangunkan Diandra ketika mobil sudah terparkir.


Diandra masih berada di alam mimpinya.


"Diandra.. bangun.." Airon kembali membangunkan Diandra.


"Mmm..." Diandra bergerak mengubah posisinya wajahnya mengarah ke Airon.


Kancing atas baju Diandra terbuka tanpa sengaja, hingga memperlihatkan belahan dada Diandra. Dan, posisi kaki Diandra terbuka lebar hingga membuat ****** ***** berwarna hitam yang di pakainya terlihat akibat roknya yang terlalu pendek.

__ADS_1


Mata Airon menangkap semuanya dengan jelas, area bawahnya terpancing.


"Sial!" Umpat Airon.


"Kita sudah sampai Pak?" Tanya Diandra yang bangun.


"Sudah. Saya sudah bangunkan kamu, tapi sepertinya tidurmu sangat nyenyak." Kata Airon.


"Maaf Pak." Ucap Diandra.


"Ayo turun." Kata Airon lalu mendahului Diandra turun dari mobil.


Diandra tersenyum penuh kemenangan. Ternyata tadi, dia tak benar-benar tidur. Dan, Diandra sendirilah yang melepas kancing bajunya saat Airon tak memperhatikan dia. Dan, dengan sengaja juga Diandra membuka kakinya.


Semua Diandra lakukan untuk melihat apakah Airon terpancing olehnya. Dan, nyatanya. Ya, Airon terpancing. Diandra tahu, karena melihat milik Airon terlihat menonjol menandakan ia sudah mengeras.


Diandra kembali ke meja kerjanya, sementara Airon terus masuk keruangan nya.


"Diandra tolong ambilkan air dan antar keruangan saya."


"Ini airnya Pak." Diandra meletakkan air itu di meja Airon.


Setelah meletakkan air itu di meja Airon, dengan sengaja Diandra menyenggol air itu, air yang tumpah mengenai celana Airon, tepat di area sensitifnya.


"Maaf Pak, saya tidak sengaja." Diandra membersihkan sisa air di atas celana Airon.


Mendapat sentuhan Diandra, milik Airon menegang.


"Diandra hentikan." Ucap Airon.


"Dania! Hentikan!" Nada Airon meninggi ketika Diandra tak juga berhenti membersihkan celananya hingga tangan Diandra mengenai milik Airon berkali-kali.


"Maafkan saya." Ucap Diandra memasang wajah sedih seperti akan menangis.


"Saya tidak marah Diandra. Ambil gelas ini, kamu bisa keluar sekarang." Kata Airon kembali mengatur volume suaranya.


Diandra pun keluar, kembali duduk di meja kerjanya, seketika wajah Diandra berubah, Diandra tersenyum senang. Dia semakin dekat pada keberhasilan mendapatkan Airon.


Sesampainya di rumah, Airon langsung masuk ke kamarnya. Airon tak habis pikir, bagaimana bisa miliknya menegang pada Diandra.


Sudah lama Airon tak merasa seperti itu, bahkan jika ingin memberikan nafkah batin pada Syahnni, Airon harus membayangkan Dania lebih dulu.


Airon masuk ke dalam kamar mandi, dia mendinginkan kepala dan tubuhnya yang terasa panas dengan air shower.


"Sayang kamu di dalam?" Syahnni mengetuk pintu, namun tak mendapat jawaban dari Airon.


Syahnni lalu memutar knock pintu, ternyata tak terkunci.


Syahnni melihat Airon yang mandi lalu memeluk Airon dari belakang.


"Dania?" Gumam Airon pelan hingga gumaman itu tenggelam oleh suara air yang berjatuhan.


"Sayang, ayo kita main di sini." Kata Syahnni meraba tubuh Airon yang berotot.


Namun di benak Airon hanyalah Dania, bahkan Airon hanya mengingat sentuhan Dania.


Wanita yang ada di hati Airon hanyalah Dania, tak pernah ada yang lain.


Jika selama ini Airon mempertahankan Syahnni, itu hanyalah karena Airon tak ingin Deon tumbuh tanpa seorang ibu.

__ADS_1


Airon tak ingin egois hingga membuat Deon kehilangan sosok ibu.


__ADS_2